Saat Shibarium Belum Kuat, AI Jadi Ujian Penentu Nasib Shiba Inu

Banyak investor masih menahan diri terhadap SHIB karena token ini belum menunjukkan dorongan fundamental yang meyakinkan. Di saat harga masih berada di sekitar $0.000006 dan tercatat turun 20% dalam 2026, pasar menunggu bukti yang lebih kuat sebelum melihat Shiba Inu sebagai aset yang layak dibeli.

Keraguan itu muncul karena harga SHIB masih jauh dari puncak historisnya, yakni sekitar 93% di bawah level tertinggi sejak lima tahun lalu. Selama belum ada perubahan nyata dalam penggunaan ekosistemnya, SHIB tetap lebih sering dibaca sebagai token spekulatif yang mengikuti sentimen komunitas.

AI jadi titik balik yang sedang dinanti

Salah satu alasan mengapa pasar mulai melirik Shiba Inu adalah arah barunya ke kecerdasan buatan. Proyek ini mencoba keluar dari citra meme coin lewat inisiatif bernama ShibClaw, yang dirancang untuk menggabungkan agen AI dengan transaksi mikro berbiaya rendah di dalam ekosistem blockchain SHIB.

Langkah itu dianggap penting karena agen AI sedang menjadi tema besar di industri digital. Jensen Huang, CEO Nvidia, bahkan menyebut agen AI sebagai teknologi yang akan “mengubah segalanya”, sehingga banyak proyek yang mampu memanfaatkannya berpeluang menarik perhatian lebih besar.

Namun, bagi SHIB, label AI saja belum cukup. Yang dibutuhkan pasar adalah fungsi nyata yang bisa dipakai, bukan sekadar narasi baru yang terdengar menarik di permukaan.

Penggunaan yang benar-benar terlihat masih menjadi pertanyaan

Arah ke AI juga berkaitan dengan upaya Shiba Inu untuk memperluas kegunaan token di luar sekadar aktivitas trading. Jika ShibClaw dapat berjalan efektif, SHIB berpotensi memiliki peran yang lebih jelas dalam ekosistemnya, sehingga nilai token tidak hanya bergantung pada hype sesaat.

Dalam skenario seperti itu, perhatian pasar tidak lagi hanya tertuju pada pergerakan harga. Penilaian akan bergeser ke seberapa sering ekosistem SHIB dipakai dan apakah fitur barunya benar-benar memberi manfaat yang konsisten.

Meski begitu, pasar tetap berhati-hati. Banyak proyek kripto lain juga mengklaim masuk ke ranah AI, sehingga narasi tersebut belum otomatis membuktikan kualitas atau daya tahan sebuah proyek.

Riwayat pengembangan SHIB ikut menahan optimisme

Sikap hati-hati itu juga dipengaruhi jejak pengembangan Shiba Inu sebelumnya. Proyek ini pernah mencoba memperluas utilitas token lewat metaverse dan narasi utility coin, tetapi hasilnya disebut masih terbatas.

Karena itu, setiap langkah baru yang diumumkan SHIB akan dinilai lebih ketat. Tanpa bukti penggunaan yang kuat, investor sulit menganggap perubahan arah ini sebagai fondasi yang cukup untuk mendorong valuasi jangka panjang.

Shibarium belum memberi dorongan besar

SHIB juga mengandalkan Shibarium, blockchain Layer 2 yang diperkenalkan pada 2023 untuk memperkuat posisi proyek di sektor decentralized finance atau DeFi. Tetapi data yang disebut dalam artikel referensi menunjukkan Shibarium belum masuk 200 besar blockchain berdasarkan Total Value Locked atau TVL.

Kondisi tersebut memberi sinyal bahwa rencana besar belum otomatis diikuti adopsi yang solid. Selama penggunaan terus tertinggal, pasar akan tetap melihat SHIB sebagai aset dengan risiko tinggi dan dasar fundamental yang belum kokoh.

Bagi investor, fokus utama bukan sekadar apakah Shiba Inu masuk ke AI, melainkan apakah arah itu benar-benar menghasilkan ekosistem blockchain yang aktif dan bertahan lama. Selama pembuktian itu belum muncul, SHIB masih harus berjuang keras untuk keluar dari ketergantungan pada sentimen dan membangun alasan beli yang lebih kuat.

Berita Terkait