Said Iqbal Resmi Masuk Lingkar Istana, Jalur Buruh Kini Lebih Dekat Ke Kebijakan Presiden

Author: Redaksi Android62

Penunjukan Said Iqbal sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan menempatkan salah satu tokoh buruh paling dikenal di Indonesia langsung di dekat pusat pengambilan kebijakan. Jabatan itu memiliki kedudukan setingkat menteri, sehingga perannya tidak hanya seremonial, tetapi juga membuka akses yang lebih dekat ke Presiden Prabowo Subianto.

Kehadiran Said Iqbal di Istana juga menandai perubahan penting dalam perjalanan panjangnya. Dari lapangan gerakan buruh, ia kini masuk ke ruang yang selama ini menjadi tempat lahirnya keputusan-keputusan terkait ketenagakerjaan.

Dari organisasi buruh ke lingkar kebijakan

Said Iqbal lama dikenal sebagai figur yang konsisten membela kepentingan pekerja. Namanya kuat di kalangan buruh karena ia membangun pengaruh dari bawah, lalu naik menjadi salah satu tokoh paling menonjol di tingkat nasional.

Lahir di Jakarta pada 5 Juli 1968, Said Iqbal menempuh pendidikan di SMAN 51 Jakarta dan tercatat sebagai juara umum saat lulus pada 1987. Setelah itu, ia melanjutkan studi ke Politeknik Teknik Mesin Universitas Indonesia, meraih gelar sarjana teknik mesin dari Universitas Jaya Baya, dan kemudian menyelesaikan magister ekonomi di Universitas Indonesia.

Jejak organisasinya mulai terbentuk pada 1992 ketika ia bekerja sebagai staf di sebuah perusahaan elektronika di Kabupaten Bekasi. Dari lingkungan kerja itu, ia masuk ke gerakan buruh dan kemudian ikut mendirikan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia atau FSPMI bersama sejumlah tokoh buruh lainnya.

Di FSPMI, karier Said Iqbal terus menanjak. Ia pernah menjabat sebagai sekretaris jenderal sebelum dipercaya memimpin organisasi tersebut sebagai presiden.

Wajah aksi buruh dan perjuangan upah

Nama Said Iqbal makin dikenal luas saat memimpin Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia atau KSPI. Dari posisi itu, ia menjadi salah satu wajah utama gerakan pekerja yang sering menyuarakan isu upah, status kerja, dan perlindungan buruh.

Dalam gerakan buruh, ia dikenal memakai pendekatan KLA, singkatan dari konsep, lobi, dan aksi. Pola ini membuat dirinya tidak hanya identik dengan demonstrasi, tetapi juga dengan upaya negosiasi dan penyampaian argumentasi berbasis data.

Salah satu gerakan yang melekat kuat pada namanya adalah Hostum, yaitu hapus outsourcing dan tolak upah murah. Gerakan itu memicu mogok nasional besar pada periode 2012 hingga 2013 dan menjadi salah satu gelombang aksi buruh terbesar di Indonesia saat itu.

Ia juga terlibat dalam Komite Aksi Jaminan Sosial atau KAJS. Lewat jalur ini, Said Iqbal ikut mendorong lahirnya sistem jaminan sosial yang lebih luas bagi pekerja, termasuk hadirnya Jaminan Kesehatan Nasional melalui BPJS Kesehatan dan program Jaminan Pensiun bagi buruh.

Pengakuan dari luar negeri

Pengaruh Said Iqbal tidak berhenti di dalam negeri. Berdasarkan laman resmi Partai Buruh, ia juga aktif dalam berbagai forum pekerja internasional, mulai dari PC SP LEM SPSI, PC FSPMI, sekretaris DPP FSPMI, central committee Serikat Buruh Metal Sedunia atau IMF, wakil presiden Serikat Pekerja ASEAN atau ATUC, general council Konfederasi Serikat Buruh Sedunia atau ITUC, hingga presiden DPP FSPMI.

Pada 2013, ia menerima penghargaan Tokoh Buruh Terbaik Dunia atau The Febe Elisabeth Velasquez Award dari serikat pekerja Belanda, FNV. Penghargaan itu diberikan setelah ia menyisihkan sekitar 200 kandidat dari berbagai negara dan dinilai atas perjuangannya membela hak-hak buruh serta kebebasan berserikat di Indonesia.

Rekam jejak itu membuat Said Iqbal dikenal sebagai aktivis yang konsisten membawa isu perburuhan ke panggung yang lebih luas. Dalam banyak kesempatan, ia tetap menempatkan perlindungan pekerja sebagai garis utama perjuangannya.

Masuk politik tanpa meninggalkan isu ketenagakerjaan

Selain memimpin serikat, Said Iqbal juga berperan besar dalam kebangkitan Partai Buruh. Partai itu berdiri pada 1998, lalu vakum cukup lama sebelum diaktifkan kembali pada 2021.

Dalam proses reaktivasi tersebut, ia menghimpun dukungan dari KSBSI, FSPMI, KSPSI, dan KSPI. Pada kongres 2021, Said Iqbal menjadi calon ketua umum tunggal dan terpilih memimpin partai itu.

Sejak saat itu, Partai Buruh makin aktif menyuarakan isu ketenagakerjaan di ruang politik nasional. Partai ini juga dikenal keras mengkritisi Undang-Undang Cipta Kerja atau UU Nomor 11 Tahun 2020, termasuk lewat aksi unjuk rasa yang kerap dipimpin Said Iqbal untuk menuntut pembatalan sejumlah pasal.

Partai Buruh juga menggugat undang-undang tersebut ke Mahkamah Konstitusi pada 2024. Sebelum aktif melalui Partai Buruh, Said Iqbal sempat mencoba masuk ke parlemen lewat Pemilu Legislatif 2009 sebagai calon anggota DPR dari Partai Keadilan Sejahtera, meski tidak berhasil meraih kursi.

Di peta politik nasional, Said Iqbal dikenal sebagai salah satu pendukung Prabowo Subianto. Ia menyatakan dukungan kepada Prabowo pada Pilpres 2019 dan mempertahankannya pada Pilpres 2024, sementara Partai Buruh yang ia pimpin juga menjadi mitra Partai Gerindra dalam sejumlah pilkada di berbagai daerah.

Dengan posisinya sekarang di Istana, Said Iqbal berada pada jalur yang lebih dekat untuk memengaruhi arah kebijakan ketenagakerjaan. Pada peringatan May Day 2026, Partai Buruh masih aktif menyuarakan tuntutan buruh sambil merayakan Hari Buruh Sedunia bersama Presiden Prabowo di Monas.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru