Samsung Bawa AI Premium ke Kelas Menengah, Ponsel Tak Lagi Sekadar Murah

Samsung kini mendorong ponsel kelas menengah sebagai perangkat jangka panjang, bukan sekadar alternatif yang lebih murah. Langkah itu terlihat dari komitmen pembaruan sistem operasi hingga enam kali dan pembaruan keamanan selama enam tahun, ditambah sejumlah fitur AI yang biasanya identik dengan ponsel premium.

Di tengah pasar smartphone yang justru makin mahal, strategi ini terasa kontras. Counterpoint mencatat average selling price smartphone global naik 12 persen secara tahunan pada kuartal I 2026, sementara biaya bill of materials untuk ponsel entry-level naik 20-30 persen dan segmen mid-end serta flagship naik 10-15 persen.

AI premium masuk ke kelas menengah

Samsung membawa fitur seperti Voice Transcription dan on-device AI ke ponsel kelas menengah. Dua model yang disebut dalam strategi ini adalah Galaxy A37 5G dan Galaxy A57 5G, yang diposisikan untuk memberi akses lebih luas terhadap kemampuan AI.

Head of MX Business Samsung Electronics Indonesia Yadi Prayitno menilai perubahan AI saat ini bergerak lebih cepat dari gelombang transformasi digital sebelumnya. Ia menyebut perkembangan AI sudah melampaui apa yang sebelumnya dibayangkan banyak pihak.

On-device AI dan alasan privasi menjadi penting

On-device AI memproses data langsung di perangkat tanpa mengirimnya ke server atau cloud eksternal. Pendekatan ini sebelumnya lebih banyak tersedia di kelas flagship, tetapi kini mulai dibawa ke segmen yang lebih terjangkau.

Bagi Samsung, pendekatan itu relevan untuk produktivitas sekaligus privasi. Pengguna tetap bisa memakai fitur AI tanpa selalu bergantung pada koneksi internet, sementara data sensitif tetap diproses di ponsel.

Yadi menyebut on-device AI sebagai arah masa depan AI di smartphone. Ia juga menegaskan bahwa Samsung ingin pemrosesan dilakukan di perangkat pengguna, bukan sepenuhnya bergantung pada cloud.

Voice Transcription yang langsung bekerja di perangkat

Salah satu contoh yang paling mudah dipahami adalah Voice Transcription. Fitur ini memungkinkan ponsel merekam percakapan, wawancara, rapat, atau diskusi, lalu mengubahnya menjadi teks secara otomatis.

Head of Category Management Samsung Electronics Indonesia Verry Octavianus menjelaskan bahwa seluruh proses berlangsung langsung di perangkat. Sistem tersebut juga disebut mampu mentranskripsikan percakapan dalam berbagai bahasa tanpa memerlukan kuota internet atau data seluler.

Fungsi ini berguna untuk banyak kebutuhan. Jurnalis dapat mencatat wawancara tanpa menulis manual, mahasiswa bisa mengubah rekaman kuliah menjadi catatan teks, pekerja kantoran dapat mendokumentasikan rapat, dan pelaku UMKM dapat menyimpan diskusi bisnis dengan lebih cepat.

FiturFungsi UtamaKeunggulan
Voice TranscriptionMengubah percakapan menjadi teksBerjalan di perangkat, tanpa kuota internet atau data seluler
On-device AIMemproses data langsung di ponselLebih relevan untuk produktivitas dan privasi

Bahasa Indonesia ikut diperluas

Samsung juga menekankan pentingnya lokalisasi agar AI benar-benar dipakai secara luas. Karena itu, perusahaan memperluas dukungan bahasa Indonesia di berbagai fitur AI.

Verry mengatakan bahwa pada awal kemunculan Galaxy AI, sebagian besar fitur masih mengandalkan bahasa Inggris. Kini, bahasa Indonesia sudah diadopsi ke dalam berbagai fitur AI Samsung agar lebih dekat dengan kebutuhan sehari-hari pengguna lokal.

Pendekatan ini penting karena perangkat yang lebih terjangkau tetap harus terasa berguna. Teknologi canggih akan sulit benar-benar demokratis jika tidak mendukung bahasa yang dipakai pengguna setiap hari.

Biaya kepemilikan jadi pertimbangan utama

Perubahan perilaku konsumen ikut memperkuat strategi tersebut. Menurut riset Counterpoint, siklus pergantian smartphone mencapai 43 bulan atau sekitar 3,6 tahun pada 2023 dan 2024, sehingga pembelian ponsel kini makin mirip keputusan investasi.

Yadi mengatakan pengguna tidak lagi hanya membandingkan kamera atau kecepatan prosesor. Mereka juga mempertimbangkan usia pakai perangkat, keamanan data, dukungan perangkat lunak, dan biaya kepemilikan jangka panjang.

Samsung menilai komitmen pembaruan yang panjang dapat membuat biaya kepemilikan lebih hemat dibanding mengganti ponsel murah setiap dua tahun, terutama ketika harga komponen sedang naik. Dukungan itu juga diperkuat jaringan 165 service center di 133 kota di Indonesia.

Selain itu, Samsung menyebut memiliki penguasaan rantai pasok perangkat keras yang membantu mengamankan pasokan komponen untuk produksi smartphone hingga 2026. Langkah tersebut ditujukan untuk menjaga kestabilan harga dan ketersediaan produk.

Dengan strategi itu, kelas menengah tidak lagi hanya menjadi opsi hemat. Samsung justru menjadikannya pintu masuk bagi lebih banyak pengguna untuk merasakan AI yang aman, relevan, dan masih terus mendapat dukungan dalam jangka panjang.

Source: tekno.kompas.com

Berita Terkait