Sapu-Sapu Di Sungai Tercemar Dipenuhi Logam Berat, Dari Pangan Amazon Menjadi Ancaman Di Indonesia

Author: Redaksi Android62

Di Indonesia, ikan sapu-sapu lebih sering dipandang sebagai masalah daripada sumber pangan. Ikan ini banyak ditemukan di perairan yang tercemar, sehingga tubuhnya berpotensi menyimpan bahan berbahaya dari lingkungan tempat hidupnya.

Kondisi itu membuat sapu-sapu berbeda jauh dengan citranya di beberapa wilayah lain. Di tempat asalnya, ikan ini justru diolah sebagai makanan, sementara di Indonesia keberadaannya kerap dikaitkan dengan hama, pencemaran, dan ancaman bagi ekosistem perairan.

Dari ikan konsumsi ke penanda kualitas air

Perbedaan perlakuan terhadap sapu-sapu sangat bergantung pada habitatnya. Di perairan tawar Amerika Tengah dan Selatan, terutama Sungai Amazon, ikan ini tidak dianggap sebagai gangguan dan malah dimanfaatkan sebagai sumber protein oleh masyarakat setempat.

Di Brasil dan Peru, sapu-sapu diolah menjadi makanan yang sudah dikenal lama. Salah satu olahan yang disebut dalam referensi adalah Sopa de Carachama, sup tradisional berbumbu rempah.

Ikan ini juga kerap dibakar di atas bara. Alasannya sederhana, dagingnya putih dan padat, sementara sisik kerasnya membantu menjaga kelembapan saat dimasak.

Mengapa di Indonesia justru jadi persoalan

Situasinya berubah ketika sapu-sapu berada di Indonesia. Ikan ini sering masuk kategori ikan invasif karena bukan berasal dari perairan lokal, sehingga kehadirannya dinilai bisa mengganggu keseimbangan ekosistem setempat.

Pemerintah mendorong pemusnahan ikan ini. Namun, cara pemusnahan dengan dikubur hidup-hidup sempat menjadi sorotan karena dinilai Majelis Ulama Indonesia tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Masalah yang lebih penting bukan hanya statusnya sebagai ikan invasif. Tempat hidup sapu-sapu di Indonesia, terutama di perairan perkotaan, sering kali jauh dari kondisi ideal karena menerima limpasan limbah domestik maupun industri.

Kemampuan menyaring makanan yang justru berisiko

Sapu-sapu dikenal sebagai penyaring makanan yang kuat. Sifat itu membuatnya mudah mengumpulkan berbagai zat dari air yang kotor, termasuk logam berat seperti merkuri, timbal, dan kadmium.

Bila ikan dari perairan seperti itu dikonsumsi, risikonya bisa serius. Dalam jangka panjang, logam berat dapat memicu keracunan yang merusak sistem saraf dan organ dalam manusia.

Karena itu, sapu-sapu di Indonesia lebih tepat dipahami sebagai penanda kualitas air. Keberadaannya sering berkaitan dengan perairan yang rendah oksigen dan memiliki tingkat polusi tinggi.

Manfaat yang hanya aman dalam pengelolaan terkontrol

Meski berisiko di alam liar, sapu-sapu tetap memiliki kegunaan dalam kondisi tertentu. Di akuarium, ikan ini dikenal sebagai pembersih alami karena mulutnya seperti alat hisap dapat memakan lumut dan alga pada kaca atau dekorasi.

Kemampuan tersebut membantu menjaga air tetap jernih dan mengurangi pekerjaan pembersihan manual. Namun, manfaat ini hanya berlaku jika ikan dipelihara dalam sistem yang terkontrol, bukan ketika dilepas ke sungai atau saluran air terbuka.

Di luar fungsi sebagai pembersih akuarium, ikan ini juga disebut berpotensi dimanfaatkan untuk kebutuhan non-pangan. Kandungan protein dan mineralnya dapat diolah menjadi tepung ikan untuk pakan ternak seperti ayam atau bebek, serta pakan ikan budidaya lainnya.

Bagian tubuhnya yang keras juga dinilai memiliki peluang untuk industri lain. Referensi menyebut kemungkinan pemanfaatan pada kerajinan kulit atau gelatin, sementara dalam perairan buatan yang terjaga, ikan ini bahkan bisa membantu menekan pertumbuhan alga berlebihan.

Ancaman invasif tetap tidak hilang

Sejumlah manfaat itu tidak menghapus risiko yang muncul bila sapu-sapu lepas ke perairan liar. Sifat invasifnya tetap dapat mengganggu keseimbangan ekosistem asli dan menambah tekanan terhadap habitat perairan setempat.

Karena itu, perdebatan soal ikan sapu-sapu pada akhirnya memperlihatkan bahwa nilai sebuah spesies tidak bisa dilepaskan dari lingkungan tempat ia hidup. Di Sungai Amazon, ikan ini bisa menjadi sumber pangan, tetapi di sungai tercemar Indonesia, risikonya jauh lebih besar dibanding manfaatnya.

Source: www.suara.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru