Satu Orang Menangani Lokalisasi Capcom, Peran Tom Shiraiwa Ternyata Begitu Besar

Sebelum Capcom punya struktur lokalisasi yang rapi seperti sekarang, ada masa ketika hampir seluruh urusan itu bertumpu pada satu orang saja. Sosok itu adalah Takuya “Tom” Shiraiwa, yang menangani kebutuhan bahasa Inggris, teks, hingga komunikasi lintas negara ketika perusahaan bahkan belum memakai istilah lokalisasi secara formal.

Peran tersebut membuat Shiraiwa berada di titik yang sangat penting antara kantor pusat Jepang dan pasar luar negeri. Ia bukan hanya menerjemahkan teks, tetapi juga membantu menghubungkan kebutuhan produk Capcom dengan respons dari wilayah lain.

Awalnya, Shiraiwa bekerja di bagian penjualan setelah baru lulus. Dari sana, tugasnya berkembang cepat karena saat itu hampir tidak ada orang lain di perusahaan yang bisa menangani bahasa Inggris dengan memadai.

Fokus awalnya berkaitan dengan penjualan board arcade ke luar negeri. Namun pekerjaan itu segera meluas menjadi tanggung jawab yang jauh lebih besar karena kebutuhan komunikasi internasional terus bertambah.

Di masa itu, menurut Shiraiwa, yang ada hanyalah penerjemahan teks tanpa departemen khusus. Akibatnya, seluruh pekerjaan lokalisasi praktis ia tangani sendiri.

Beban tersebut tidak berhenti pada penerjemahan. Shiraiwa juga mengurus ekspor board arcade, berkomunikasi dengan anak perusahaan Capcom di Amerika Serikat, lalu menyampaikan masukan dari sana ke kantor pusat di Jepang.

Perannya membuat ia ikut menilai bagaimana sebuah game akan diterima di luar Jepang. Lokalisasi pada masa itu berarti lebih dari sekadar mengganti bahasa, karena ia juga harus membaca selera pasar dan membantu Capcom memahami potensi produk di wilayah Barat.

Salah satu gambaran paling jelas datang dari pengakuan mantan karyawan Capcom USA. Ia pernah diajak Shiraiwa masuk ke sebuah ruangan tertutup untuk melihat rekaman animasi uji Street Fighter III sebelum game itu dirilis.

Menurut mantan karyawan tersebut, Shiraiwa tampak sangat khawatir saat meminta pendapat soal peluang game itu di Amerika Serikat. Momen itu menunjukkan bahwa ia ikut memikul beban bisnis dan penerimaan pasar, bukan hanya urusan teks.

Jika dilihat dari struktur kerja saat itu, posisi Shiraiwa sangat besar untuk dijalankan seorang diri. Ia menjadi penghubung antara pengembang, kebutuhan perusahaan, dan ekspektasi pasar luar negeri yang terus berubah.

Situasinya juga memperlihatkan betapa pentingnya distribusi game arcade ke mancanegara pada masa tersebut. Setiap langkah menuntut koordinasi yang rapat antara produk, bahasa, dan mitra regional.

Cara kerja Capcom kini sudah jauh berbeda. Dalam wawancara perusahaan pada 2022, direktur lokalisasi Andrew menjelaskan bahwa tim lokalisasi sekarang bergabung sejak awal pengembangan proyek.

Ia menyebut para direktur lokalisasi bahkan memindahkan workstation ke area tim pengembang dan tetap bekerja di sana sampai proyek selesai. Pola itu menandai perubahan besar dari masa ketika lokalisasi dianggap sekadar penerjemahan teks.

Perubahan tersebut juga membuat peran pionir Shiraiwa terlihat semakin jelas. Ia menjalankan fungsi yang kini ditopang sistem kerja lebih mapan, lebih kolaboratif, dan memiliki struktur organisasi yang jelas.

Shiraiwa akhirnya meninggalkan Capcom pada 2004 setelah merasa terlalu banyak bekerja dan tidak mendapat kompensasi yang memadai. Setelah itu, ia melanjutkan karier di Square Enix.

Meski namanya tidak setenar kreator atau produser besar, kontribusinya ikut membentuk cara game Capcom dikenal di luar Jepang. Pada masa ketika banyak pemain internasional menikmati game arcade dan konsol Capcom dalam bahasa Inggris, banyak hal sempat bergantung pada satu orang bernama Tom Shiraiwa.

Source: www.notebookcheck.net

Berita Terkait