Saurus Bukan Milik Dinosaurus Saja, Jejaknya Masih Hidup Pada Soa Layar Hingga Soa Payung

Unsur “saurus” ternyata tidak hanya melekat pada dinosaurus. Pada sejumlah reptil modern, kata itu masih dipakai dalam nama ilmiah untuk memberi petunjuk tentang bentuk tubuh, kebiasaan, atau habitat hewan tersebut.

Karena itu, nama seperti soa layar, soa payung, hingga kadal ekor zebra tetap memakai unsur yang sama. Dalam taksonomi, istilah ini bukan sekadar terdengar kuno, melainkan berfungsi sebagai penanda ilmiah yang membantu menjelaskan ciri khas spesies.

Arti “saurus” dalam nama ilmiah

Kata “saurus” berasal dari bahasa Yunani yang berarti “kadal”. Penggunaannya dalam nama ilmiah pun tidak terbatas pada hewan purba, sebab unsur ini juga muncul pada reptil yang masih hidup hingga sekarang.

Dalam penamaan ilmiah, gabungan kata dari bahasa Yunani atau Latin memang sering dipakai agar ciri hewan lebih mudah dikenali lewat namanya. Karena itu, satu nama bisa membawa informasi tentang bentuk tubuh, perilaku, atau lingkungan hidup hewan yang bersangkutan.

Soa layar yang dekat dengan air

Salah satu contoh paling dikenal adalah soa layar atau Hydrosaurus. Nama genus ini menggabungkan kata “hydro” yang berarti air dan “saurus” yang berarti kadal, sehingga cocok dengan kebiasaannya sebagai kadal semi akuatik.

Hydrosaurus aktif di area lembap dan di sekitar air. GBIF juga mencatat bahwa hewan ini memiliki layar di ekor yang memberi kesan mirip dinosaurus tertentu, sementara ukuran tubuhnya dapat mencapai 1,8 meter.

Sebarannya meliputi Filipina dan Indonesia. Ciri fisik dan habitatnya membuat nama ilmiahnya terasa deskriptif karena langsung mengarah pada lingkungan tempat hewan ini hidup.

Soa payung dengan leher yang mengembang

Contoh lain datang dari soa payung atau Chlamydosaurus kingii. The Reptile Database menjelaskan bahwa Chlamydosaurus berasal dari kata “chlamydos” yang berarti mantel dan “sauros” yang berarti kadal.

Nama itu sesuai dengan penampilan soa payung yang memiliki membran lebar di leher. Reptil ini hidup di Indonesia dan Australia, dengan panjang tubuh hingga 1 meter dan bobot sekitar 600 gram.

Saat membran lehernya dikembangkan, tubuh soa payung tampak jauh lebih besar. Ciri tersebut berfungsi sebagai pertahanan ketika menghadapi predator, meski hewan ini tidak berbisa dan gigitannya tetap bisa menyakitkan.

Tidak selalu berukuran besar

Unsur “saurus” juga muncul pada reptil yang ukurannya lebih kecil. Callisaurus draconoides, misalnya, dikenal sebagai kadal ekor zebra dan hidup di gurun Amerika Serikat serta Meksiko.

Laman CNAH menyebut Callisaurus berasal dari gabungan kata “kallos” yang berarti cantik dan “saurus” yang berarti kadal. Sementara itu, draconoides tersusun dari “dracon” yang berarti naga dan akhiran “-oides” yang berarti mirip.

Spesies ini memiliki tubuh ramping, ekor bergaris, serta corak hitam dan biru yang mencolok di bagian perut. Kadal ini juga dikenal mampu mengangkat ekor, berdiri dengan dua kaki, dan aktif memburu serangga sebagai predator kecil di habitat kering.

Muncul juga pada penghuni hutan

Penggunaan kata “saurus” tidak berhenti pada reptil penghuni wilayah terbuka atau daerah kering. Luperosaurus kubli, atau cecak jari telanjang, menjadi contoh spesies endemik Pulau Luzon, Filipina, yang hidup di hutan pada ketinggian sekitar 650–1100 mdpl.

Menurut iNaturalist, cecak ini memiliki jari berselaput yang membantu pergerakannya saat meluncur atau melompat dari satu pohon ke pohon lain. Nama Luperosaurus sendiri diartikan sebagai “vexing lizard” atau kadal yang menyusahkan.

Meski tubuhnya berwarna abu-abu dan ukurannya tidak jauh berbeda dari cecak lain, ciri kaki berselaput membuatnya mudah dibedakan. Fakta ini menunjukkan bahwa unsur “saurus” juga dipakai pada hewan yang berukuran kecil.

Petrosaurus dan petunjuk dari habitat berbatu

Nama ilmiah Petrosaurus thalassinus juga memuat unsur serupa. Reptil yang kerap disebut iguana biru ini hidup di Baja California, Amerika Serikat, dan sering ditemukan di bebatuan serta area kering.

Laman bion menyebut kadal ini kadang terlihat di wilayah setinggi 2.000 mdpl. Panjang tubuhnya dapat mencapai 45 sentimeter, dengan kepala jingga, warna biru kusam, dan garis hitam di badan.

Suhu lingkungan ikut memengaruhi perilakunya. Pada suhu sekitar 30 °C, kadal ini mulai berjemur untuk menjaga metabolisme tubuh tetap stabil.

Dari soa layar hingga soa payung, penggunaan kata “saurus” memperlihatkan bahwa nama ilmiah bukan hanya label formal. Unsur itu tetap dipakai untuk menandai ciri khas reptil modern, mulai dari habitat, bentuk tubuh, hingga perilaku yang membedakan tiap spesies.

Source: www.idntimes.com

Berita Terkait