Sawit Indonesia Disorot Dalam Peta Solusi Iklim Baru Versi Bill Gates

Author: Redaksi Android62

Bill Gates kini menempatkan minyak sawit sebagai bagian dari percakapan besar soal iklim, bukan sekadar komoditas pangan atau bahan baku industri. Dalam tulisannya di blog pribadi, pendiri Microsoft itu menekankan bahwa tantangan utama bukan hanya menekan emisi, melainkan mencari cara produksi baru yang tetap menjaga pasokan pangan dan kebutuhan industri tetap berjalan.

Sorotan pada sawit membuat Indonesia ikut berada di pusat pembahasan, karena negara ini adalah salah satu wilayah penting dalam rantai pasok sawit dunia. Gates menilai komoditas yang tumbuh subur di kawasan khatulistiwa itu punya peran besar, tetapi juga menyimpan persoalan lingkungan yang tidak kecil jika produksinya terus bergantung pada ekspansi lahan.

Fokus bergeser ke solusi yang bisa dipakai industri

Dalam pandangan Gates, perdebatan iklim tidak cukup hanya berhenti pada seruan untuk menekan emisi. Ia pernah menulis bahwa aktivitas di Bumi menghasilkan sekitar 51 miliar ton gas rumah kaca, dan sekitar 7% di antaranya berasal dari produksi lemak dan minyak yang bersumber dari hewan maupun tumbuhan.

Namun, Gates juga mengakui bahwa menghapus konsumsi lemak hewan bukan pilihan realistis. Menurut dia, lemak hewan tetap dibutuhkan karena menyimpan nutrisi dan kalori yang penting bagi manusia, sehingga industri perlu mencari jalan lain yang bisa menekan emisi tanpa mengganggu kebutuhan pangan.

Dari sini, arah pembicaraan berubah menjadi pencarian substitusi yang lebih masuk akal bagi skala industri. Gates menilai pendekatan baru harus bisa menghasilkan lemak tanpa emisi, tanpa penyiksaan hewan, dan tanpa bahan kimia berbahaya.

Teknologi lemak dari udara jadi contoh yang didukung

Salah satu solusi yang disorot Gates datang dari Savor, startup yang juga ia danai. Perusahaan ini membuat lemak melalui proses yang memanfaatkan karbondioksida dari udara dan hidrogen dari air, lalu memanaskan dan mengoksidasinya hingga komponen asam terpisah dan membentuk formulasi lemak.

Gates menyebut hasil akhirnya memiliki molekul serupa dengan lemak yang ditemukan pada susu, keju, sapi, dan minyak nabati. Bagi dia, pendekatan seperti ini penting karena membuka peluang produksi bahan pangan yang tidak terlalu bergantung pada rantai pasok konvensional.

Poin itu memperlihatkan perubahan nada dalam cara Gates membahas krisis iklim. Alih-alih hanya menyoroti ancaman, ia kini lebih menekankan solusi yang bisa dipakai langsung oleh industri makanan.

Sawit ikut masuk dalam daftar komoditas yang dipersoalkan

Selain lemak hewan, Gates juga menempatkan minyak sawit dalam pembahasan karena skala penggunaannya yang sangat luas. Ia menyebut sawit sebagai lemak nabati yang paling banyak dikonsumsi di dunia dan hadir di banyak produk, mulai dari kue, mi instan, krim kopi, makanan beku, sabun, odol, deterjen, deodoran, makanan kucing, formula bayi, hingga biofuel dan bahan bakar diesel.

Bagi Gates, persoalan utama bukan terletak pada fungsi sawit sebagai bahan baku. Yang menjadi masalah adalah pola produksinya, terutama ketika perluasan perkebunan mendorong pembukaan lahan di wilayah hutan tropis.

Ia menyoroti bahwa pohon sawit tumbuh subur di daerah yang dilalui garis khatulistiwa, sehingga ekspansi sering terkait dengan penggundulan hutan, penurunan keanekaragaman hayati, serta emisi tambahan dari pembakaran lahan. Gates bahkan menyebut kehancuran hutan di Malaysia dan Indonesia pada 2018 telah cukup parah hingga menyumbang 1,4% emisi global.

Indonesia tak bisa dilepaskan dari perdebatan ini

Munculnya Indonesia dalam uraian Gates menunjukkan bahwa isu sawit tidak hanya menyangkut pasar global, tetapi juga negara produsen utama. Posisi Indonesia di kawasan khatulistiwa membuat pembahasan soal sawit otomatis bersinggungan dengan dampak lingkungan, pasokan industri, dan arah pengembangan komoditas itu sendiri.

Meski demikian, Gates juga mengakui bahwa sawit sangat sulit digantikan. Alasannya sederhana: murah, tidak berbau, dan serbaguna. Ia juga menilai sawit memiliki keseimbangan lemak jenuh dan tak jenuh yang hampir sama, sehingga cocok digunakan dalam banyak produk makanan maupun nonmakanan.

Alternatif sawit mulai dicari dari jalur lain

Untuk menjawab kebutuhan itu, Gates menyinggung C16 Biosciences, perusahaan yang merancang alternatif minyak sawit. Sejak 2017, perusahaan ini mengembangkan produk dari mikroba ragi liar lewat proses fermentasi yang tidak menghasilkan emisi.

Secara kimia, minyak C16 berbeda dari sawit konvensional. Meski begitu, kandungan asam lemaknya disebut cukup serupa untuk dipakai pada aplikasi yang mirip, sehingga menawarkan opsi baru bagi industri yang selama ini bergantung pada sawit.

Gates menggambarkan pendekatan tersebut sebagai proses yang sepenuhnya bebas dari pertanian, dengan “laboratorium di tengah kota Manhattan” sebagai lokasi produksinya. Dari situ, terlihat bahwa arah solusi iklim yang ia dorong kini bukan hanya pengurangan emisi, tetapi juga penggantian bahan baku lama dengan opsi baru yang tetap realistis bagi kebutuhan industri.

Source: www.cnbcindonesia.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru