Setelah menembus usia 10 tahun, Stellaris justru masih mendapat dorongan baru lewat Season 10. Langkah ini menegaskan bahwa gim strategi luar angkasa besutan Paradox Interactive tersebut belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti berkembang.
Bagi pemain, umur panjang Stellaris bukan cuma soal bertahan lama di pasar. Gim ini sudah mengumpulkan lebih dari 30 DLC, dan jika semuanya dimasukkan ke keranjang Steam, total biayanya bisa melewati US$200, meski banyak di antaranya sedang diskon.
Di balik perjalanan panjang itu, Stellaris juga sudah mengalami perubahan besar lewat pembaruan yang terus mengalir. Sepanjang hidupnya, gim ini menerima 41 major free patch dan puluhan pembaruan kecil yang ikut membentuk ulang cara bermain.
Versi aktifnya sekarang berada di 4.3. Lompatan besar di 2.0, 3.0, dan 4.0 disebut mengubah Stellaris jauh lebih drastis daripada yang biasa terjadi pada sebuah sekuel, sampai-sampai versi 1.0 dan 4.3 nyaris terasa seperti dua gim yang berbeda.
Stephen Murray, game director Stellaris saat ini, menggambarkan kondisi itu sebagai “Spaceship of Theseus” di forum. Ungkapan tersebut merujuk pada gim yang terus berubah tanpa kehilangan identitas dasarnya.
Meski banyak sistem baru masuk, inti Stellaris tetap ada pada rasa menjelajah yang belum diketahui. Henrik Fåhraeus, direktur game asli Stellaris yang kini menjabat chief creative officer Paradox, menilai setiap sesi bermain bisa menghadirkan kejadian berbeda, sehingga elemen eksplorasi tetap jadi pembeda utama dibanding banyak gim 4X lain.
Murray juga melihat daya tarik Stellaris dari kebebasan mewujudkan fantasi pemain. Ia menyinggung bagaimana pemain bisa membangun kerajaan yang mengingatkan pada borg dari Star Trek atau zerg dari Starcraft, lalu tim terus menambahkan opsi agar ada lebih banyak hal untuk dilakukan.
Arah pengembangan gim ini pun makin condong ke sisi naratif dan RPG. Di bawah kepemimpinan Murray, ekspansi seperti Overlord dan First Contact disebut menjadi awal pergeseran tersebut, sejalan dengan selera bermainnya yang datang dari Stellaris, Crusader Kings 2, dan Dungeons & Dragons Online.
Perubahan arah itu membuat Stellaris tidak hanya bertumpu pada fitur teknis atau unit baru. Konten cerita, pilihan, dan skenario yang lebih personal juga terus diperluas agar pengalaman bermain terasa lebih hidup.
Paradox sendiri punya pola yang sudah terbukti lewat Crusader Kings 2 dan Europa Universalis 4, yakni gim terus berkembang lewat DLC berbayar dan patch gratis besar. Stellaris kemudian mengikuti jalur yang sama, dengan model hidup yang terus dipertahankan tanpa harus berhenti di satu versi final yang statis.
Fåhraeus mengatakan bahwa pada awal pengembangan, belum ada kepastian apakah model seperti itu akan sukses besar. Menurut dia, tim baru benar-benar menyadari arah yang tepat itu di tengah proses pengembangan.
Namun, panjangnya umur gim juga mulai menghadirkan batas yang perlu dipikirkan. Fåhraeus menyebut Stellaris dulu dikenal sebagai grand strategy yang paling mudah diakses berkat antarmuka yang bersih, tetapi setelah 10 tahun dan banyak ekspansi, kesederhanaan itu sudah tidak sama lagi.
Ia menilai pada titik tertentu, tim harus mempertimbangkan sekuel atau pembenahan ulang, termasuk repackaging dan pembersihan antarmuka. Sampai sekarang belum ada jawaban apakah langkah itu akan datang dalam waktu dekat, tetapi Season 10 sudah cukup menunjukkan bahwa perjalanan Stellaris masih jauh dari selesai.







