Elon Musk telah menutup salah satu bab sengketa terpanjangnya dengan SEC setelah menyepakati pembayaran denda perdata sebesar 1,5 juta dolar AS. Kesepakatan ini membuat tuntutan agar ia mengembalikan keuntungan yang dituduhkan dari keterlambatan pelaporan saham Twitter tidak lagi menjadi bagian dari penyelesaian.
Langkah damai tersebut penting karena Musk tidak mengakui kesalahan dalam kesepakatan itu. Di saat yang sama, ia juga terbebas dari kewajiban mengembalikan dana yang sebelumnya sempat didorong oleh regulator.
Sengketa berawal dari keterlambatan laporan saham
Persoalan ini muncul ketika SEC menilai Musk terlambat 11 hari mengungkap kepemilikannya atas lebih dari 5 persen saham Twitter. Keterlambatan itu terjadi saat ia mengakumulasi saham pada akhir Maret hingga awal April 2022, sebelum kepemilikannya kemudian diketahui mencapai 9,2 persen.
Bagi SEC, jeda pelaporan itu memberi ruang bagi Musk untuk terus membeli saham dengan harga yang lebih rendah. Regulator sempat menilai keuntungan yang muncul dari pola itu bisa melampaui 500 juta dolar AS karena pasar belum mengetahui skala akumulasi saham yang sedang berlangsung.
Tuntutan yang akhirnya tidak disepakati
Pada tahap awal, SEC juga mendorong agar Musk mengembalikan sekitar 150 juta dolar AS yang dianggap sebagai keuntungan tidak sah. Namun, tuntutan pengembalian tersebut tidak masuk dalam penyelesaian damai yang akhirnya dicapai kedua pihak.
Musk membantah tuduhan itu dan menyatakan keterlambatan pelaporan terjadi tanpa sengaja. Ia juga menolak anggapan bahwa tindakannya merupakan upaya memanipulasi pasar.
Pengacaranya, Alex Spiro, menyebut Musk kini telah terbebas dari seluruh isu yang berkaitan dengan keterlambatan pelaporan dalam akuisisi Twitter. Dari sisi regulator, kesepakatan denda ini menjadi jalan yang lebih realistis dibandingkan membawa perkara tersebut lebih jauh.
Nilai denda dan posisi SEC
Denda 1,5 juta dolar AS yang disepakati disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah SEC untuk pelanggaran keterlambatan pelaporan seperti ini. Meski nilainya kecil dibanding kekayaan Musk, angka itu tetap menjadi penanda penting dalam penegakan aturan pasar modal.
SEC juga dinilai akan kesulitan membuktikan kerugian hingga 26 miliar rupiah jika perkara itu berlanjut ke pengadilan. Karena itu, penyelesaian damai menjadi opsi yang lebih masuk akal bagi kedua pihak.
Latar yang ikut memengaruhi arah kasus
Kesepakatan ini terjadi di tengah perubahan internal SEC. Gugatan terhadap Musk diajukan hanya beberapa hari sebelum berakhirnya masa jabatan Presiden Joe Biden, yang kemudian digantikan oleh Donald Trump.
Pergantian kepemimpinan itu ikut memengaruhi arah kebijakan lembaga pengawas pasar tersebut. Ketua SEC, Paul Atkins, disebut mulai mengubah fokus penegakan hukum, sementara negosiasi damai berlangsung tak lama setelah kepala penegakan SEC, Margaret Ryan, mundur secara mendadak.
Hubungan lama yang sudah tegang
Hubungan Musk dan SEC memang sudah lama tidak harmonis. Pada 2018, ia juga pernah menyelesaikan perkara terpisah terkait pernyataannya soal pendanaan Tesla, dengan membayar denda dan mundur dari posisi ketua dewan.
Meski satu sengketa telah selesai, Musk belum lepas sepenuhnya dari perkara hukum lain yang berkaitan dengan Twitter. Ia masih menghadapi gugatan terpisah dari para pemegang saham Twitter atas dugaan penipuan.
Dalam perkara itu, juri di San Francisco menyatakan Musk bertanggung jawab atas kerugian investor. Gugatan tersebut berkaitan dengan pernyataannya soal banyaknya akun bot di Twitter yang disebut memengaruhi harga saham dan membuat investor merugi saat menjual saham.
Setelah akuisisi rampung pada Oktober 2022, Twitter kemudian masuk ke dalam struktur bisnis yang lebih luas di bawah perusahaan kecerdasan buatan xAI, sebelum akhirnya berada di bawah naungan SpaceX. Perubahan itu menandai besarnya transformasi yang terjadi pada aset dan bisnis yang selama ini dikaitkan dengan Musk.
Source: www.idntimes.com






