Kenaikan muka air laut kini tidak lagi hanya dibahas sebagai ancaman jangka panjang. Sejumlah kota besar di dunia sudah masuk daftar wilayah yang dinilai paling rentan tenggelam, dan Jakarta berada di kelompok yang paling disorot.
Ancaman itu terasa semakin dekat karena Jakarta tidak hanya menghadapi air laut yang naik, tetapi juga banjir berulang dan penurunan permukaan tanah. Kondisi ini membuat risiko di ibu kota Indonesia tampak jauh lebih nyata dibanding sekadar proyeksi di atas kertas.
Jakarta dan tekanan yang terus menumpuk
Jakarta disebut sebagai salah satu kota yang paling cepat tenggelam di dunia. Sciencing menulis bahwa permukaan tanah di kota ini turun sekitar 17 cm per tahun, sebuah laju yang memperberat ancaman dari laut yang terus meninggi.
Letak Jakarta di dataran rendah yang dulu didominasi rawa ikut membuat situasinya rapuh. Di banyak titik Jabodetabek dan Jawa, banjir berulang dalam beberapa tahun terakhir juga memperlihatkan bahwa tekanan air dan turunnya daratan sudah memberi dampak nyata.
Kondisi di lapangan tidak berhenti pada masalah alam. Polusi dan penyumbatan di banyak titik ikut memperparah situasi, sehingga persoalan banjir dan genangan menjadi semakin sulit dikendalikan.
IKN muncul sebagai bagian dari respons risiko
Pemindahan ibu kota ke IKN pada 2022 juga dikaitkan dengan tingginya risiko banjir di Jakarta. Dalam pembahasan yang sama, Sciencing menyebut IKN diprediksi rampung sepenuhnya pada 2045.
Pada saat itu, ibu kota baru tersebut disebut berpotensi menjadi pelarian dari Jakarta yang tenggelam. Narasi ini memperlihatkan bahwa ancaman iklim sudah masuk ke dalam keputusan strategis yang sangat besar bagi Indonesia.
Daftar kota lain yang ikut berada dalam bahaya
Jakarta bukan satu-satunya kota yang masuk sorotan. Alexandria di Mesir juga disebut menghadapi ancaman besar karena perannya penting dalam pengapalan minyak, termasuk lewat terminal pipa SUMED yang menghubungkan Laut Merah dan Mediterania.
Panel iklim PBB memperkirakan 30% wilayah Alexandria dapat terendam pada 2050. Lembaga itu juga memproyeksikan potensi 1,5 juta orang mengungsi jika kondisi terus memburuk.
Miami di Florida berada dalam tekanan serupa. Lebih dari setengah area Miami-Dade County hanya berada pada ketinggian 6 kaki di atas permukaan laut, dan setidaknya 60% wilayahnya berisiko tenggelam pada 2060.
Di Afrika, Lagos juga menghadapi masalah yang tidak kalah berat. Kota terbesar di Afrika itu disebut mengalami penurunan permukaan lebih dari 3 inci per tahun, sementara banjir musim panas terus berulang dari waktu ke waktu.
Asia ikut menanggung risiko besar
Dhaka di Bangladesh masuk daftar wilayah rawan karena turunnya permukaan tanah. PBB telah memasukkan Bangladesh sebagai salah satu dari 10 negara yang terdampak bencana alam, dan Dhaka disebut turun setengah inci per tahun.
Yangon di Myanmar menghadapi ancaman yang datang dari dua sisi, yakni banjir dan faktor geologi. Letaknya yang dekat dengan Sesar Sagaing membuat kota itu berisiko saat terjadi gempa besar, karena sumur air tanah dapat runtuh dan menenggelamkan sebagian wilayah.
Bangkok di Thailand juga terus tertekan oleh kenaikan air laut. Garis pantainya disebut mundur lebih dari 1 km per tahun, dan mayoritas kota diperkirakan lenyap dalam satu abad mendatang.
Kolkata di India menghadapi ancaman serupa dari kenaikan air laut dan ekstraksi air tanah berlebihan. Jika banjir terus berulang, lebih dari 10 juta orang disebut berisiko mengungsi.
Manila di Filipina turut tercatat dalam kelompok yang rentan. Kota itu turun sekitar 4 inci per tahun, lebih tinggi dari kenaikan level air laut global, dan telah kehilangan pelindung alami karena 130 ribu hektar hutan mangrove di wilayahnya ditebang sejak awal abad ke-20.
Ancaman terbesar tetap berada di pesisir padat penduduk
Risiko paling besar juga terlihat di kawasan pesisir Megalopolis Guangdong-Hong Kong-Makau. Wilayah di sekitar Pearl River Delta dan Laut China Selatan itu diperkirakan menghadapi kenaikan air laut setinggi 5 kaki dalam 100 tahun mendatang.
Dari berbagai kota yang disebut, benang merahnya sama: kenaikan muka air laut yang dipicu perubahan iklim, ditambah banjir, penurunan tanah, kerusakan ekosistem, dan pembangunan pesisir, membuat ancaman tenggelam semakin sulit diabaikan. Jakarta dan IKN pun berada dalam percakapan yang sama ketika dunia mulai menghitung ulang risiko kota-kota di tepi laut.
Source: www.cnbcindonesia.com