Sekolah Di Tangerang Ini Berdiri Dari 2,2 Ton Sampah Plastik, Emisinya Berkurang 5,2 Ton CO2

Author: Redaksi Android62

Sekitar 100 anak di Mauk, Tangerang, kini punya ruang belajar yang lebih layak berkat sebuah sekolah yang dibangun dari sampah plastik. KB Cahaya Persada menjadi contoh bahwa limbah dapat diubah menjadi fasilitas pendidikan yang berguna sekaligus memberi dampak lingkungan yang nyata.

Yang membuat proyek ini menonjol bukan hanya fungsi sosialnya, tetapi juga material yang dipakai. Sekolah tersebut memanfaatkan eco-blocks, bahan konstruksi hasil daur ulang plastik, sehingga pembangunan tidak sekadar menghadirkan gedung baru, tetapi juga ikut menekan beban sampah.

Plastik bekas berubah menjadi bagian bangunan

Dalam pembangunan KB Cahaya Persada, sebanyak 2,2 ton sampah plastik diolah kembali menjadi eco-blocks. Pemanfaatan material daur ulang itu membuat sekolah ini berbeda dari pembangunan konvensional yang umumnya tidak menyentuh persoalan limbah secara langsung.

Dampaknya juga terukur. Proyek ini disebut berhasil memangkas emisi karbon sekitar 5,2 ton CO2.

Angka tersebut menunjukkan bahwa satu proyek pembangunan bisa menghasilkan lebih dari satu manfaat. Di satu sisi, limbah plastik berkurang. Di sisi lain, fasilitas pendidikan untuk anak-anak tetap terpenuhi.

Kolaborasi yang membawa manfaat ganda

Pembangunan sekolah ini dilakukan melalui kolaborasi PT Lautan Luas Tbk dan Happy Hearts Indonesia. Hasilnya tidak hanya berupa bangunan, tetapi juga akses belajar yang lebih baik bagi anak-anak di wilayah setempat.

Head of Investor Relations, Corporate Communications and ESG PT Lautan Luas Tbk, Eurike Hadijaya, menilai pemanfaatan sampah plastik menjadi fasilitas pendidikan memperlihatkan bahwa solusi lingkungan bisa berjalan seiring dengan peningkatan kualitas hidup warga. Pandangan itu sejalan dengan tujuan proyek yang menghubungkan pengelolaan limbah dengan kebutuhan dasar masyarakat.

Dengan pendekatan seperti ini, sampah tidak dipandang sebagai beban akhir. Limbah justru diproses menjadi material yang kembali memberi nilai guna.

Relawan memberi sentuhan warna pada sekolah

Selain material bangunan, proyek ini juga melibatkan karyawan perusahaan sebagai relawan. Mereka ikut menghias dinding sekolah melalui mural painting agar suasana belajar terasa lebih ceria dan inspiratif.

Keterlibatan langsung para relawan memberi nilai tambah pada pembangunan sekolah. Ruang belajar tidak hanya menjadi tempat yang fungsional, tetapi juga terasa lebih ramah bagi anak-anak yang akan menggunakannya setiap hari.

Partisipasi seperti ini menunjukkan bahwa dukungan terhadap program sosial tidak selalu berhenti pada penyediaan dana atau material. Tenaga, waktu, dan keterlibatan langsung juga bisa memberi pengaruh besar pada hasil akhir.

Dapat apresiasi dari lingkungan sekitar

Ketua HIMPAUDI Kecamatan Pakuhaji, Juanedi, mengapresiasi kehadiran sekolah ramah lingkungan tersebut. Ia menilai fasilitas itu memberi manfaat ganda karena menghadirkan sarana pendidikan yang lebih baik sekaligus menjadi media edukasi tentang pentingnya pengelolaan sampah plastik.

Apresiasi itu memperlihatkan bahwa dampak proyek ini melampaui bangunan fisik. Warga dan lingkungan sekitar dapat melihat langsung bahwa sampah plastik masih bisa diolah menjadi sesuatu yang berguna untuk kepentingan sosial.

Di tengah persoalan sampah plastik yang terus menjadi tantangan, KB Cahaya Persada menawarkan contoh yang mudah dipahami. Sekolah ini menunjukkan bahwa pengelolaan limbah, penurunan emisi, dan perluasan akses pendidikan dapat diwujudkan dalam satu proyek yang sama.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru