Amerika Serikat meluncurkan serangan udara balasan ke wilayah Iran setelah helikopter serbu AH-64 Apache milik Angkatan Darat AS jatuh di perairan dekat Oman. Rudal AS dilaporkan menghantam sejumlah titik pertahanan udara di pesisir selatan Iran yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz.
Ketegangan itu segera memicu kekhawatiran baru di salah satu jalur energi paling sensitif di dunia. Selat Hormuz kembali menjadi perhatian karena perannya sebagai jalur utama distribusi minyak global dan kedekatannya dengan lokasi serangan.
Balasan yang disebut terukur oleh Pentagon
Pentagon menyebut serangan tersebut sebagai respons bela diri yang terukur. Komando Sentral Amerika Serikat atau CENTCOM mengatakan operasi dimulai atas arahan langsung Gedung Putih sebagai tanggapan atas insiden yang menimpa helikopter Apache tersebut.
Dalam pernyataannya di media sosial X, CENTCOM menyebut operasi itu sebagai “tanggapan proporsional terhadap agresi Iran yang tidak dapat dibenarkan.” Serangan dimulai pada pukul 17.00 ET dan diarahkan ke beberapa titik pertahanan udara di sepanjang pesisir selatan Iran.
Ledakan dilaporkan di Bandar Abbas, Qeshm, dan Sirik
Dari sisi Iran, media pemerintah melaporkan adanya penetrasi proyektil asing yang melintasi batas negara. Televisi negara Iran menyebut hantaman rudal di kawasan Sirik telah dikonfirmasi, meski lokasi pastinya masih belum ditentukan.
Media yang sama juga melaporkan ledakan dan aktivitas pertahanan udara terdengar di Bandar Abbas, Qeshm, dan Sirik. Sirik berada di pesisir yang menempel langsung dengan Selat Hormuz, sehingga setiap insiden di wilayah itu langsung mendapat perhatian keamanan yang tinggi.
Awal ketegangan berasal dari jatuhnya Apache
Konfrontasi ini dipicu oleh insiden jatuhnya helikopter AH-64 Apache yang sedang menjalankan patroli rutin di perairan dekat Oman. Helikopter itu hilang kontak dan menghantam permukaan air pada pukul 19.33 ET malam sebelumnya.
Dua awak helikopter berhasil diselamatkan dengan aman oleh tim penyelamat. CENTCOM mengatakan kondisi kedua personel stabil, sementara penyelidikan atas penyebab jatuhnya helikopter masih berlangsung.
Trump menegaskan perlu ada pembalasan
Presiden Donald Trump juga merespons insiden itu dengan pernyataan keras di media sosial. Ia menyebut militer AS telah melaporkan jatuhnya salah satu helikopter Apache canggih milik mereka saat berpatroli di Selat Hormuz.
Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat harus membalas serangan tersebut. Dalam pernyataannya, ia menyebut langkah militer itu sebagai tindakan yang diperlukan untuk merespons agresi terhadap aset dan personel AS.
Jalur minyak dunia kembali berada di bawah sorotan
Situasi terbaru memperlihatkan betapa cepat satu insiden udara bisa berubah menjadi serangan balasan berskala besar. Dengan posisi Sirik, Bandar Abbas, dan Selat Hormuz yang saling berdekatan, kawasan itu tetap berada dalam pengawasan ketat saat kedua negara saling menyiapkan langkah berikutnya.
AS selama ini menempatkan kekuatan militernya di Teluk untuk menjaga arus logistik energi tetap aman. Di sisi lain, Iran memandang kehadiran militer asing di dekat wilayahnya sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatan nasional.
Selat Hormuz sendiri menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia karena sekitar sepertiga pasokan minyak mentah global melintas di jalur itu setiap hari. Karena itu, setiap gangguan di kawasan tersebut segera berdampak pada pasar energi internasional.
Source: www.suara.com






