Selat Hormuz Memanas Lagi, Iran dan AS Saling Klaim Serangan Balasan

Ketegangan di sekitar Selat Hormuz kembali meningkat setelah Iran mengklaim telah menyerang target yang berkaitan dengan Amerika Serikat. Klaim itu muncul sebagai balasan atas serangan udara Washington terhadap fasilitas pengawasan pantai di selatan Iran.

Situasi tersebut langsung memantik kekhawatiran baru karena Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi distribusi energi dunia. Jalur pelayaran itu selama ini kerap menjadi titik rawan ketika konflik regional menguat.

Respons saling tuding antara Teheran dan Washington

Teheran menyebut tindakan itu sebagai langkah defensif setelah apa yang mereka sebut sebagai serangan udara brutal dari AS. Namun, pemerintah Iran tidak menjelaskan lokasi target yang diserang, sehingga detail operasi balasan masih terbatas.

Di sisi lain, militer AS sebelumnya menyatakan serangan udaranya dilakukan sebagai balasan atas serangan drone Iran terhadap sebuah kapal kargo di Selat Hormuz. Hingga kini, Washington belum memberi tanggapan langsung atas klaim terbaru dari Iran.

Pertukaran klaim ini menunjukkan bahwa kesepakatan yang sempat muncul untuk meredakan konflik kedua negara masih sangat rapuh. Iran menuding AS melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, sementara masing-masing pihak tetap berusaha mempertahankan posisi mereka di depan publik.

Bahrain ikut menyuarakan keberatan

Di tengah memanasnya situasi, Bahrain juga menyatakan keberatan keras atas dugaan serangan pesawat nirawak Iran di wilayahnya. Negara yang menjadi markas Armada Kelima Angkatan Laut AS itu menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatannya.

Pemerintah Bahrain menegaskan bahwa pelanggaran kedaulatan merupakan ancaman bagi keamanan nasional dan memberi hak bagi negaranya untuk membela diri. Bahrain juga menuduh Iran melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2817 serta nota kesepahaman Islamabad yang ditandatangani pada 17 Juni.

Klaim Iran soal pelabuhan dan respons IRGC

Media pemerintah Iran melaporkan Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC telah memberi respons tegas setelah pasukan AS menyerang menara komunikasi di Pelabuhan Sirik. Meski begitu, kantor berita Mehr menyebut aktivitas pelabuhan tetap berjalan normal dan tidak ada kerusakan pada fasilitas maupun peralatan.

Keterangan yang beredar masih memperlihatkan perbedaan besar antara narasi masing-masing pihak. Di satu sisi ada klaim serangan dan balasan, sementara di sisi lain ada penegasan bahwa operasi di pelabuhan tetap berjalan tanpa gangguan berarti.

Pasar minyak ikut merespons

Ketegangan di Selat Hormuz juga memengaruhi pasar energi. Harga minyak dunia dilaporkan turun sekitar tiga persen pada Jumat setelah kapal-kapal tanker kembali melintasi selat tersebut.

Selain itu, perusahaan energi Saudi Aramco disebut kembali memuat minyak mentah di terminal Ras Tanura setelah hampir empat bulan menghentikan operasinya. Pergerakan itu menunjukkan bahwa pelaku pasar masih sangat peka terhadap setiap gangguan di jalur pelayaran strategis tersebut.

Jalur diplomasi masih terbuka

Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan Washington tetap mematuhi kesepakatan gencatan senjata. Ia juga menyatakan bahwa jika ada perbedaan penafsiran atas nota kesepahaman, penyelesaiannya bisa ditempuh lewat jalur diplomatik.

Vance menambahkan bahwa kekerasan akan dibalas dengan kekerasan. Pernyataan itu menandakan bahwa ruang meredakan ketegangan masih terbuka, tetapi situasi belum benar-benar stabil.

Source: mediaindonesia.com

Berita Terkait