Selat Hormuz Terancam Tertutup Lagi, Harga Minyak Dunia Nyaris Tembus US$ 126 per Barel

Author: Redaksi Android62

Harga minyak dunia sempat melonjak hingga US$ 126,41 per barel ketika ketegangan di Selat Hormuz memanas. Lonjakan itu menunjukkan betapa cepat pasar bereaksi saat jalur distribusi energi global berada dalam ancaman.

Setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir, harga Brent kemudian terkoreksi ke US$ 115,8 per barel saat volume perdagangan menyusut. Di saat yang sama, West Texas Intermediate atau WTI juga bergerak tajam dan pada perdagangan kemarin turun 0,7 persen ke US$ 106 per barel.

Selat Hormuz kembali jadi titik paling rawan

Kawasan sempit di Selat Hormuz kini kembali menyita perhatian dunia karena berperan sebagai urat nadi distribusi energi global. Eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran memicu penutupan kawasan itu dan langsung mengguncang pasar minyak.

Sebelum perang pecah, harga minyak masih berada di kisaran US$ 73 per barel. Dalam waktu singkat, harga itu melonjak hampir dua kali lipat dan membuat pasar energi berada dalam kondisi sangat sensitif.

Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa ancaman terhadap pasokan saja sudah cukup untuk menggerakkan harga dengan cepat. Selama ketidakpastian di jalur itu belum selesai, arah pasar masih sulit dipastikan.

Dampaknya langsung terasa ke konsumen dan industri

Kenaikan harga minyak tidak berhenti di pasar komoditas, tetapi langsung masuk ke biaya hidup rumah tangga di Amerika Serikat. Rata-rata harga bensin tercatat US$ 4,30 atau sekitar Rp 19.687 per liter, sehingga beban konsumen ikut naik.

Tekanan juga merembet ke pelaku usaha karena biaya energi yang lebih mahal mengganggu sektor industri manufaktur. Sektor yang bergantung pada bahan baku turunan minyak bumi ikut terpukul, termasuk tekstil, karet sintetis, dan plastik.

Efek lanjutan mulai terlihat pada ketersediaan sejumlah barang di pasar global. Kosmetik, mi instan, dan sarung tangan medis termasuk produk yang disebut ikut terdampak oleh gangguan pasokan tersebut.

Asia menjadi wilayah yang paling rentan

Kawasan Asia berada dalam posisi yang paling rawan karena ketergantungannya tinggi pada impor energi. Pada saat yang sama, Asia juga menjadi pusat produksi berbagai barang untuk pasar dunia.

Kombinasi dua hal itu membuat gangguan di Selat Hormuz berpotensi memukul rantai pasok yang lebih luas. Jika kondisi ini berlanjut, perdagangan lintas negara bisa ikut tertekan oleh biaya energi yang semakin tinggi.

Sejumlah ekonom bahkan memperingatkan risiko resesi global bila gangguan pasokan minyak di selat itu terus berlangsung hingga semester kedua tahun 2026. Tekanan semacam ini juga berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi internasional bila harga energi tetap berada di level tinggi dalam waktu lama.

Pasar masih menunggu kejelasan

Vandana Hari, pendiri Vanda Insights, menilai pasar belum melihat kepastian kapan Selat Hormuz akan dibuka kembali secara permanen. Ia menyebut harga minyak hanya punya satu arah selama ketidakpastian itu belum terjawab.

“Harga minyak tidak punya pilihan selain naik sampai pembukaan kembali selat secara permanen terwujud. Saat ini, bagaimana dan kapan itu akan terjadi masih menjadi tebak-tebakan siapa pun,” kata Vandana Hari.

Ketidakpastian pasokan bahan bakar juga mulai memunculkan kekhawatiran inflasi di beberapa negara. Ketika biaya logistik naik dan daya beli konsumen tertekan, risiko perlambatan ekonomi ikut membesar di berbagai kawasan.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru