Minat terhadap batu Nusantara kembali terlihat kuat di Semarang lewat Kontes dan Pameran Batu Nusantara yang dipadati ribuan koleksi batu akik, batu mulia, pirus, dan permata. Ajang di Gedung Rimba Graha itu memperlihatkan bahwa komunitas kolektor masih punya ruang besar untuk berkembang di Jawa Tengah.
Keramaian pengunjung menjadi penanda bahwa batu gemstone belum kehilangan tempat di tengah pecinta batu dari berbagai daerah. Di lokasi itu, ragam koleksi yang ditampilkan membuat stan peserta terus dikerumuni pengunjung yang ingin melihat lebih dekat batu-batu unggulan Nusantara.
Dorongan agar jadi agenda rutin
Di tengah suasana pameran, Dirlantas Polda Jateng Brigjen Pol M Pratama Adhyasastra mendorong agar kegiatan serupa digelar sebagai agenda tahunan di Semarang. Menurut dia, ajang seperti ini tidak hanya mempertemukan kolektor dari berbagai wilayah di Indonesia, tetapi juga memberi dampak positif bagi UMKM dan ekonomi kreatif setempat.
Pratama datang bersama Wadansat Brimob Polda Jateng Eko Budiman untuk meninjau langsung koleksi yang dipamerkan. Mereka melihat sejumlah batu yang menarik perhatian, mulai dari batu bacan, pirus, batu bermotif gambar, Batu Garut, hingga jenis lainnya.
Dukungan dari berbagai pihak
Setelah meninjau stan peserta, Pratama menyerahkan hadiah sepeda motor kepada Ketua Panitia Sofani untuk diberikan kepada juara umum kontes. Dukungan untuk kegiatan ini juga datang dari Agustina Wilujeng Pramestuti yang memberikan bantuan dana Rp2 juta.
Universitas Semarang ikut memberi dukungan dengan bantuan Rp1,5 juta, bersama sejumlah stakeholder lain. Kehadiran para pendukung itu menambah bobot acara yang dinilai mampu menggerakkan ekonomi kreatif di daerah.
Pasar batu Nusantara masih hidup
Pratama menilai Indonesia memiliki kekayaan batu mulia yang kualitasnya sangat baik dengan jenis yang beragam. Ia menyebut Batu Garut, Bacan, Kalimaya, Kecubung, hingga Pandan sebagai contoh batu yang masih diminati masyarakat.
Menurut dia, Batu Nusantara sempat sangat populer karena warna, kualitas, dan keunikannya. Minat terhadap batu-batu seperti Nogosuwi, Ati Ayam, Tapak Jalak, Garut, Kalimaya, Pandan, dan Bacan disebut masih bertahan sampai sekarang.
Pameran di Semarang ini menunjukkan bahwa batu akik dan batu mulia belum benar-benar lepas dari perhatian komunitas kolektor. Di saat yang sama, ajang tersebut juga mempertemukan hobi, dukungan komunitas, dan potensi transaksi yang ikut menghidupkan pelaku usaha kecil.
Bagi Jawa Tengah, kegiatan semacam ini ikut memperkuat posisi daerah dalam industri gemstone. Karena itu, dorongan agar pameran berlangsung rutin mendapat perhatian sebagai cara menjaga minat publik terhadap Batu Nusantara tetap bergerak.
Source: wawasan.suaramerdeka.com






