Senat AS Mendorong Penarikan Pasukan, Trump Tetap Bersikeras Iran Tak Boleh Punya Nuklir

Author: Redaksi Android62

Di tengah memanasnya ketegangan dengan Iran, Donald Trump kembali menaruh satu batas yang menurutnya tidak bisa dinegosiasikan: Teheran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Ia tetap optimistis bahwa konflik itu dapat diakhiri dengan cepat karena menilai Iran sudah lelah dan ingin mencapai kesepakatan.

Pernyataan itu ia sampaikan di Gedung Putih saat bertemu sejumlah anggota parlemen lintas partai. Dalam kesempatan itu, Trump menggambarkan peluang damai sebagai jalan yang sudah lama tertunda, tetapi ia menegaskan hasil apa pun harus tetap menjaga larangan terhadap senjata nuklir Iran.

Garis merah soal nuklir

Trump berulang kali menekankan bahwa penyelesaian konflik tidak boleh memberi ruang bagi Iran untuk mengembangkan senjata nuklir. Ia menyebut dirinya yakin masalah itu bisa diselesaikan cepat, namun hasil akhirnya harus tetap sama, yakni Iran tidak memiliki senjata nuklir.

Dalam pernyataannya, Trump mengatakan perang tersebut akan segera berakhir karena Iran disebut sudah lelah dan ingin membuat kesepakatan. Ia juga menilai situasi yang lebih tenang dapat berdampak pada penurunan harga minyak.

Trump bahkan mengatakan Iran sebenarnya ingin segera mencapai kesepakatan. Menurut dia, proses itu dapat menghasilkan akhir konflik dalam waktu singkat tanpa membuka celah bagi program nuklir Teheran.

Tekanan politik di Washington

Sikap Trump muncul di tengah dinamika politik yang ikut bergerak di Senat. Beberapa jam setelah pernyataannya, Senat mengesahkan resolusi kekuasaan perang yang dapat memaksa penarikan pasukan bersenjata Amerika Serikat yang dikerahkan melawan Iran.

Langkah itu memperlihatkan adanya perbedaan pandangan yang nyata di internal politik Amerika mengenai arah kebijakan terhadap Teheran. Empat senator Republik, yakni Bill Cassidy, Rand Paul, Susan Collins, dan Lisa Murkowski, bergabung dengan Partai Demokrat dalam pemungutan suara tersebut.

Pemungutan suara itu juga menjadi momen pertama resolusi semacam ini berhasil lolos di Senat sejak perang dimulai. Ini sekaligus menjadi kali kedua dalam tahun ini ada kelompok senator Republik yang membelot untuk mendukung upaya pembatalan resolusi kekuasaan perang dari Komite Kehakiman Senat.

Klaim soal kemampuan militer AS

Di hadapan para anggota Kongres, Trump juga menyoroti kekuatan militer Amerika Serikat dan mengklaim operasi terbaru telah melemahkan kemampuan perang Iran secara signifikan. Ia menggambarkan serangan itu sebagai pukulan berat bagi aset militer Teheran.

Trump mengatakan militer AS adalah yang terkuat di dunia. Ia lalu menyebut angkatan laut Iran telah dihancurkan, angkatan udara mereka hilang, pertahanan udara mereka hilang, dan seluruh peralatan perang mereka juga hilang.

Setelah itu, ia menegaskan kembali bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan Iran mengembangkan senjata nuklir dalam kondisi apa pun. Baginya, sikap itu harus dipertahankan sampai tercapai penyelesaian yang dianggap aman.

Isu Iran tetap jadi perhatian utama

Pernyataan Trump disampaikan di hadapan sejumlah anggota Kongres, termasuk John Curtis, James Lankford, Steve Scalise, Virginia Foxx, dan Shri Thanedar. Kehadiran lintas partai dalam pertemuan tersebut menunjukkan bahwa isu Iran masih berada di pusat perhatian politik Washington, baik dari sisi keamanan maupun diplomasi.

Pemerintahan Trump disebut telah berupaya mengakhiri perang selama berminggu-minggu setelah negosiasi gagal. Di saat konflik di Teluk masih terus berlangsung, Gedung Putih tetap menempatkan Iran sebagai salah satu fokus utama kebijakan luar negeri dan keamanan nasional.

Sinyal yang disampaikan Trump kini terlihat tegas: ia ingin perang segera berhenti, tetapi larangan terhadap senjata nuklir Iran tidak berubah. Di tengah negosiasi yang belum menghasilkan terobosan dan tekanan politik yang terus bergerak di Washington, sikap keras itu masih menjadi poros utama kebijakan Gedung Putih.

Source: www.viva.co.id
Berita Terbaru