Nama Amy Eskridge kembali ikut dibicarakan setelah Pentagon mengungkap dorongan baru terhadap pengembangan senjata energi terarah. Di tengah sorotan itu, kematian pakar UFO asal Amerika Serikat tersebut ikut menarik perhatian karena sebelum meninggal ia sempat mengaku menjadi target teknologi serupa di rumahnya.
Eskridge dikenal meneliti anti gravitasi, UFO, dan kehidupan ekstraterestrial. Ia disebut meninggal pada 2022 akibat luka tembak yang dilakukan sendiri, tetapi kisah itu tidak pernah benar-benar lepas dari dugaan lain yang menyebut adanya serangan menggunakan senjata energi terarah.
Perhatian publik memanas setelah Kepala Pejabat Teknologi Departemen Perang, Emil Michael, mengunggah perkembangan soal senjata energi terarah di X pada 4 Mei, bertepatan dengan Hari Star Wars Nasional. Dalam unggahan itu, ia menyebut senjata tersebut sebagai tambahan yang bagus untuk persenjataan dan menampilkan gambar persenjataan yang menembakkan sinar laser serta seorang tentara yang memegangi kepalanya.
Teknologi yang dimaksud dikenal sebagai directed energy weapon atau DEW. Senjata ini memakai sinar terfokus untuk melumpuhkan drone, tetapi juga dapat melumpuhkan atau bahkan membunuh tentara musuh.
Emil Michael menjelaskan bahwa sinar tersebut berasal dari energi elektromagnetik pekat atau partikel atom maupun subatomik. Bagi sebagian pengamat, pernyataan itu terdengar seperti pengakuan tak langsung bahwa program senjata bergaya fiksi ilmiah masih terus dikerjakan pemerintah.
Dugaan serangan di rumah Amy Eskridge
Sebelum meninggal, Eskridge mengklaim dirinya diserang dengan DEW di rumahnya di Huntsville, Alabama. Klaim itu kemudian didukung oleh pensiunan perwira intelijen Inggris, Franc Milburn.
Milburn menyebut Eskridge menjadi sasaran senjata energi terarah yang membakar tubuhnya dengan gelombang mikro. Ia juga membagikan foto-foto lepuh, lesi kulit, dan luka lain yang diduga dialami Eskridge setelah serangan tersebut.
Temuan Milburn kemudian diserahkan ke Kongres pada 2023. Dalam kesimpulannya, ia menyatakan Eskridge bukan bunuh diri seperti yang diputuskan pihak berwenang, melainkan dibunuh oleh sebuah perusahaan kedirgantaraan swasta karena hendak menghentikannya menyelidiki masalah keamanan yang sensitif.
Program militer yang ikut memperbesar sorotan
Terlepas dari klaim yang belum terverifikasi itu, teknologi senjata energi memang telah masuk dalam pengembangan militer. Pentagon bahkan meningkatkan pendanaan dengan permintaan dana USD 789,7 juta untuk kampanye DEW pada tahun fiskal 2025.
Sebagian besar riset tersebut ditangani perusahaan luar, termasuk AeroVironment. Perusahaan teknologi pertahanan itu dilaporkan membantu mengembangkan Locust X3, senjata sinar yang mampu menembakkan sinar dengan kecepatan cahaya untuk melumpuhkan drone.
Dorongan pengembangan itu membuat DEW tidak lagi terdengar seperti ide jauh dari dunia nyata. Di sisi lain, kemunculan nama Eskridge dalam diskusi publik justru membuat pertanyaan lama tentang kematiannya kembali mengemuka.
Nama yang terus melekat pada kasus sensitif
Kasus Eskridge juga kerap masuk dalam daftar nama ilmuwan dan peneliti Amerika Serikat yang dikaitkan dengan isu sensitif. Ia disebut sebagai salah satu dari 11 ilmuwan dan peneliti terkemuka yang meninggal dunia atau menghilang setelah meneliti Fenomena Anomali Tak Dikenal, atau UAP, serta persoalan keamanan nasional lainnya.
Karena itu, kisah Eskridge berada di persimpangan antara riset, keamanan, dan teori yang belum menemukan jawaban tegas. Selama tidak ada verifikasi yang pasti atas klaim serangan DEW maupun penyebab kematiannya, kasus ini akan tetap menjadi salah satu misteri yang paling menyita perhatian dalam perdebatan soal senjata energi terarah.
Source: inet.detik.com