GoPro sedang mengubah cara pandang terhadap lini kamera terbarunya. Mission 1 Pro tidak lagi sekadar diposisikan sebagai action camera, tetapi sebagai kamera yang berdiri di antara perangkat lapangan yang tangguh dan cinema camera yang lebih serius.
Perubahan arah itu terlihat dari cara GoPro membangun identitas Mission 1 Pro. Bentuknya masih mengingatkan pada Hero13, namun trio kamera bersensor 1 inci ini dibawa ke arah yang lebih luas daripada sekadar perekaman aksi cepat.
Bukan action camera biasa
Salah satu hal yang paling menonjol dari Mission 1 Pro adalah posisinya yang sulit diberi label tunggal. Kamera ini tetap ringkas, tahan banting, dan tahan air, tetapi di saat yang sama membawa pendekatan yang lebih dekat ke kebutuhan produksi video yang lebih besar.
GoPro bahkan lebih sering menyebut lini ini sebagai cinema camera. Walau begitu, ukuran bodinya tidak melonjak jauh dari Hero13, dan susunan kontrolnya masih terasa akrab bagi pengguna lama GoPro.
Sensor 1 inci dan perekaman 8K
Di balik bentuk yang tetap kompak, Mission 1 Pro membawa sensor 1 inci. Kamera ini juga mampu merekam video 8K 60p, serta mendukung 8K 30p dalam mode open gate.
GoPro turut membekali kamera ini dengan prosesor yang ditingkatkan. Hasilnya diarahkan ke performa yang lebih baik, kemampuan low-light yang lebih kuat, dan daya tahan baterai yang lebih panjang.
Dirancang untuk kreator dengan kebutuhan lebih luas
Arah produk ini terlihat jelas dari skenario pemakaian yang ditunjukkan GoPro. Mission 1 Pro tidak hanya ditujukan untuk peselancar, pesepeda, atau atlet yang butuh sudut pandang aksi, tetapi juga untuk kreator konten yang mengejar kombinasi portabilitas dan resolusi tinggi.
Dalam cuplikan video terbaru, kamera ini dipakai dalam banyak cara. Mission 1 digunakan sebagai kamera bawah air, dipasang di handle untuk vlog perjalanan, lalu ditempatkan di kendaraan, gimbal, cage, crane, drone, dolly, zipline, hingga selfie stick.
GoPro juga memperlihatkan rig yang menempatkan sebuah GoPro di lengan khusus. Susunan itu dipakai untuk merekam behind-the-scenes dari GoPro lain yang sedang bekerja, sehingga memperjelas bahwa perangkat ini disiapkan sebagai alat yang serbaguna.
Posisi di tengah dua dunia kamera
Keunggulan Mission 1 Pro justru ada pada ambiguitasnya. Sensor 1 inci memang belum setara dengan cinema camera bermodal sensor full frame atau medium format, tetapi ukuran yang lebih kecil memberi keuntungan di lokasi yang basah, berdebu, atau sulit dijangkau.
Bentuk mungilnya juga terasa relevan saat masuk ke rig sinema yang besar. Dalam beberapa setup, kamera ini bisa tampak sangat kecil, tetapi justru ukuran itu yang membuatnya cocok untuk sudut pandang tertentu dan kebutuhan produksi yang menuntut perangkat ringan.
Pendekatan hybrid ini membuat Mission 1 Pro tidak berhenti pada fungsi foto dan video saja. Bodinya yang ringkas, desain tahan air, dan dukungan berbagai mount memperluas penggunaannya ke lebih banyak skenario produksi.
Target pengguna yang makin beragam
Dengan karakter seperti itu, target Mission 1 Pro ikut melebar. Pengguna yang mungkin tertarik mencakup atlet serius, penggemar lama GoPro, vlogger, kreator konten, sampai kru film profesional yang membutuhkan POV shot atau tidak bisa membawa kru tradisional.
Untuk sebagian orang, kamera ini bahkan bisa berperan seperti kamera saku berperforma tinggi. Dalam kebutuhan produksi yang menuntut mobilitas dan ketahanan, Mission 1 Pro juga bisa menjadi alat pelengkap yang berguna.
GoPro Mission 1 dan Mission 1 Pro sudah tersedia untuk pre-order. Ketersediaan di toko dijadwalkan mulai 28 Mei, sementara Mission 1 ILS mirrorless diperkirakan hadir lebih lambat pada tahun ini.
