Serangan Iran Guncang Pangkalan AS Di Timur Tengah, Puluhan Aset Dan Ribuan Personel Terdampak

Kerusakan yang ditinggalkan serangan Iran terhadap aset militer Amerika Serikat di Timur Tengah kini membuat peta konflik terlihat berbeda. Bukan lagi sekadar aksi balasan yang bersifat simbolik, serangan itu justru dinilai mampu menekan jaringan militer AS di banyak titik penting sekaligus.

Laporan yang mengacu pada analisis citra satelit dan keterangan sejumlah pejabat AS menyebut sedikitnya 228 bangunan dan peralatan militer telah dihancurkan atau rusak sejak 28 Februari. Dari jumlah itu, 217 bangunan dan 11 unit peralatan terdampak di berbagai fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.

Kerusakan menjangkau banyak pangkalan

Dampak serangan Iran tidak terkonsentrasi di satu lokasi. Fasilitas yang terdampak tersebar di Qatar, Bahrain, Kuwait, Yordania, Uni Emirat Arab, hingga Arab Saudi.

Di antara titik yang disebut mengalami kerusakan adalah fasilitas komunikasi satelit di Pangkalan Udara al-Udeid di Qatar. Sistem pertahanan rudal Patriot di pangkalan AS di Bahrain dan Kuwait juga dilaporkan terkena serangan.

Citra satelit lain memperlihatkan kerusakan pada antena satelit di markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain. Selain itu, pembangkit listrik di Camp Buehring, Kuwait, serta lokasi penyimpanan bahan bakar di beberapa pangkalan lain juga ikut terdampak.

Iran bahkan menyebut kerusakan yang lebih luas terjadi pada kubah pelindung radar atau radome di pangkalan-pangkalan di Kuwait dan markas Armada Kelima AS. Teheran juga mengklaim sistem pertahanan rudal THAAD di Yordania dan Uni Emirat Arab ikut rusak, bersama fasilitas satelit kedua di Qatar, pesawat E-3 Sentry, dan pesawat tanker pengisian bahan bakar di Arab Saudi.

Personel ikut terdampak

Selain fasilitas, korban di pihak militer AS juga tidak kecil. Sedikitnya tujuh personel militer AS dilaporkan tewas akibat serangan Iran di Timur Tengah sejak perang dimulai.

Enam di antaranya tewas di Kuwait, sementara satu lainnya tewas di Arab Saudi. Lebih dari 400 tentara lain mengalami luka-luka, sehingga dampaknya tidak berhenti pada kerusakan fisik, tetapi juga memukul kesiapan operasi di lapangan.

Sebagian pangkalan dinilai terlalu berisiko

Besarnya kerusakan itu membuat beberapa pangkalan dipandang tidak aman untuk diisi personel dalam jumlah besar. Karena alasan itu, para komandan militer disebut memindahkan sebagian besar pasukan dari lokasi yang masih berada dalam jangkauan serangan Iran.

Situasi tersebut memperlihatkan tekanan yang tidak hanya menyasar aset, tetapi juga pola penempatan pasukan AS di kawasan. Serangan Iran memaksa pengambil keputusan militer mempertimbangkan ulang seberapa aman posisi mereka di sejumlah titik strategis.

Citra satelit yang makin sulit diakses

Pembacaan terhadap skala kerusakan ini juga dipengaruhi oleh keterbatasan akses terhadap citra satelit wilayah Timur Tengah sejak pertengahan Maret. Dua perusahaan satelit besar, Vantor dan Planet Labs, disebut mengikuti permintaan pemerintah AS untuk membatasi, menunda, atau menahan publikasi gambar kawasan tersebut selama perang berlangsung.

Kondisi itu menyulitkan media untuk menilai dampak serangan balasan Iran secara mandiri. Di saat yang sama, media pemerintah Iran terus mengunggah citra satelit resolusi tinggi di media sosial sejak awal perang, meski sempat diragukan karena dikhawatirkan dimanipulasi.

The Washington Post meninjau ratusan gambar dan memverifikasi keaslian 109 gambar dengan membandingkannya memakai citra resolusi rendah dari sistem satelit Uni Eropa serta gambar resolusi tinggi milik Planet Labs ketika tersedia. Dari penelusuran itu, tidak ditemukan bukti bahwa citra yang dirilis Iran telah dimanipulasi.

Serangan yang dinilai presisi

Sejumlah ahli yang menelaah temuan tersebut melihat pola serangan Iran sebagai tanda kemampuan menentukan sasaran secara presisi. Mark Cancian, penasihat senior di Center for Strategic and International Studies sekaligus pensiunan kolonel Marinir AS, menyebut serangan Iran sangat presisi dan tidak ada kawah acak yang menunjukkan serangan meleset.

Penilaian itu juga memunculkan dugaan bahwa militer AS mungkin meremehkan kemampuan Iran dalam perang drone modern. Di sisi lain, sejumlah pangkalan disebut memang tidak memiliki perlindungan yang cukup terhadap serangan presisi jarak jauh.

Pertanyaan apakah Iran sudah membalik arah perang belum bisa dijawab hanya dari luasnya kerusakan. Namun, data yang muncul menunjukkan Teheran berhasil menembus pertahanan dan memberi tekanan nyata pada jaringan militer AS di banyak titik penting sekaligus.

Source: www.viva.co.id

Berita Terkait