Serangan terhadap kapal komersial berbendera Singapura di Selat Hormuz kembali menegaskan rapuhnya jalur pelayaran paling strategis di kawasan itu. Insiden tersebut terjadi saat pembicaraan baru antara Amerika Serikat dan Iran sedang mencoba membuka arus kapal yang sempat tersendat selama berbulan-bulan perang.
Kapal itu terkena proyektil tak dikenal di sisi kanan lambung saat berada di lepas pantai Dahit, Oman. Pemberitahuan dari Maritime Trade Operations Centre milik Inggris menyebut jembatan kapal mengalami kerusakan, tetapi tidak ada korban jiwa dan tidak ada dampak lingkungan yang dilaporkan.
Evakuasi kapal langsung tertahan
Insiden ini membuat Badan Maritim Internasional PBB menghentikan sementara rencana evakuasi besar-besaran yang baru berjalan beberapa hari. Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez menilai penghentian itu perlu dilakukan agar jaminan keselamatan yang dibutuhkan benar-benar tersedia.
IMO menjelaskan bahwa kapal yang diserang itu sebenarnya telah melewati Selat Hormuz sebelum dihantam dan tidak berada di bawah kerangka evakuasi organisasi tersebut. Dominguez menegaskan keselamatan para pelaut tetap menjadi prioritas utama, sehingga rencana evakuasi ditunda sampai situasinya lebih jelas.
Nota kesepahaman yang diuji di lapangan
Serangan itu muncul tak lama setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman yang menaikkan harapan terhadap kembalinya lalu lintas kapal di selat tersebut. Jalur sempit itu biasanya membawa seperlima minyak dunia, namun sempat tertutup luas bagi kapal selama berbulan-bulan perang.
Dalam kesepakatan tersebut, Iran diharapkan mengatur jalur aman bebas biaya selama 60 hari dengan memakai “upaya terbaiknya”. Setelah kesepakatan diumumkan, arus kapal meningkat tajam, dengan 70 kapal melintas pada Selasa dibanding hanya enam kapal seminggu sebelumnya menurut data Kpler.
Kpler menilai sebagian lonjakan itu mungkin juga berasal dari kapal-kapal yang sempat tertahan lalu dilepas setelah kesepakatan. Seiring pengiriman kembali bergerak, harga minyak global ikut anjlok.
Rute aman masih diperdebatkan
IMO pada Selasa juga mengumumkan operasi evakuasi skala besar untuk membantu ribuan pelaut di ratusan kapal keluar dari kawasan itu. Organisasi tersebut menyebut ada dua rute yang tersedia, yakni melalui perairan Iran di bagian utara Selat Hormuz dan melalui perairan Oman di selatan.
Namun, perdebatan soal jalur aman belum berakhir. Amerika Serikat cenderung mendukung rute yang dekat garis pantai Oman, sementara Iran menegaskan kapal harus meminta izin sebelum transit dan menggunakan jalur yang lebih dekat ke pantainya.
Otoritas Persia Strait Gulf Authority milik Iran kemudian mengatakan pada Kamis bahwa setiap lintasan di luar kerangka yang ditetapkan PGSA tidak akan mendapat jaminan keselamatan. Otoritas itu juga menyebut kapal di jalur tersebut tidak berhak atas perlindungan asuransi atau tanggung jawab terkait lainnya.
Sikap Washington terhadap biaya lintas
Iran juga belum menutup kemungkinan meminta biaya lintas kapal setelah masa 60 hari dalam nota kesepahaman berakhir. Pemerintah Trump dan sekutu AS di kawasan menilai gagasan itu tidak dapat diterima dan melanggar hukum internasional.
Oman mengatakan pihaknya berencana mengelola selat itu bersama Iran, tetapi tidak berniat menarik tol. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan pemerintah AS akan menilai Iran dari tindakan, bukan dari retorika maksimalisnya.
Rubio menyebut AS akan bereaksi jika kapal benar-benar bergerak normal melalui selat itu. Ia juga menegaskan bahwa jika ancaman terhadap kapal benar-benar terjadi dan kapal tidak bisa bergerak, hal itu akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan.







