Serangan ransomware terhadap UMKM di Indonesia melonjak tajam dan kini menempatkan Indonesia di posisi kedua paling terdampak di kawasan, hanya sedikit di bawah India. Kaspersky mencatat persentase UMKM Indonesia yang menjadi target naik dari 2,83% pada kuartal I/2025 menjadi 4,01% pada kuartal I/2026.
Kenaikan itu menjadi salah satu lonjakan terbesar di Asia Tenggara. Pada saat yang sama, rata-rata serangan ke UMKM di kawasan juga meningkat dari 2,92% menjadi 3,51%, menandakan ancaman ini belum mereda.
Indonesia berada di kelompok atas paparan ransomware kawasan
Dalam perbandingan regional, India mencatat angka tertinggi dengan kenaikan dari 3,18% menjadi 4,07%. Indonesia mengikuti sangat dekat, sementara Malaysia juga mengalami kenaikan dari 2,09% menjadi 2,74%.
Di sisi lain, sejumlah negara justru menunjukkan penurunan. Filipina turun dari 2,46% menjadi 1,80%, Thailand dari 1,28% menjadi 1,12%, dan Vietnam dari 2,91% menjadi 2,56%.
| Negara | Kuartal I/2025 | Kuartal I/2026 |
|---|---|---|
| India | 3,18% | 4,07% |
| Indonesia | 2,83% | 4,01% |
| Malaysia | 2,09% | 2,74% |
| Filipina | 2,46% | 1,80% |
| Singapura | 0,57% | 0,69% |
| Thailand | 1,28% | 1,12% |
| Vietnam | 2,91% | 2,56% |
| Asia Tenggara | 2,92% | 3,51% |
Singapura tetap menjadi negara dengan tingkat serangan terendah, meski naik tipis dari 0,57% menjadi 0,69%. Data ini menunjukkan bahwa tekanan ransomware di kawasan tidak bergerak seragam, karena sebagian negara naik sementara yang lain justru membaik.
Angka deteksi belum menggambarkan seluruh serangan
Kaspersky menegaskan bahwa statistik tersebut hanya menangkap tahap akhir serangan, yaitu penyebaran Trojan enkripsi. Tahap awal seperti akses awal, pengintaian, penemuan, dan pergerakan lateral tidak ikut dihitung, sehingga tingkat prevalensi sebenarnya kerap lebih tinggi.
Laporan Kaspersky untuk kuartal I/2026 juga menyoroti kelompok ransomware yang paling aktif berdasarkan korban yang dipublikasikan di Dedicated Leak Site masing-masing. Clop memimpin dengan 14,42% dari seluruh korban yang dipublikasikan, disusul Qilin dengan 12,34%.
Nama The Gentlemen ikut mencuat sebagai kelompok baru yang tumbuh cepat. Kelompok ini baru muncul sekitar Juli 2025, tetapi aktivitasnya disebut telah melampaui sejumlah kelompok ransomware yang lebih dulu beroperasi.
Menurut penelitian Kaspersky, The Gentlemen memakai taktik yang lebih canggih, termasuk alat khusus untuk mengumpulkan informasi secara diam-diam di sistem korban sebelum ransomware dijalankan. Kelompok ini juga diduga memanfaatkan Initial Access Brokers untuk memperoleh akses awal ke jaringan organisasi dengan upaya yang lebih minim.
UMKM diminta memperkuat pertahanan berlapis
Pakar keamanan Kaspersky Fedor Sinitsyn menyebut pelaku ransomware terus mengembangkan teknik serangan untuk menghindari pertahanan yang ada. Ia juga menilai pencadangan data saja tidak lagi cukup karena banyak kelompok kini menerapkan pemerasan ganda.
Dalam pola itu, data tidak hanya dienkripsi, tetapi juga dicuri untuk dijadikan ancaman kebocoran jika tebusan tidak dibayar. “Oleh karena itu, strategi perlindungan siber berlapis diperlukan untuk memberikan perlindungan yang memadai dari serangan,” kata Sinitsyn.
Managing Director Asia Pasifik Kaspersky Adrian Hia menambahkan bahwa UMKM menjadi target menarik karena keterbatasan sumber daya. Banyak pelaku usaha kecil dan menengah belum memiliki tim keamanan siber khusus atau manajemen pembaruan sistem yang menyeluruh.
Kaspersky merekomendasikan pembaruan perangkat lunak secara rutin, penguatan deteksi pergerakan pelaku dan eksfiltrasi data, cadangan data offline, solusi keamanan seperti anti-APT dan Endpoint Detection and Response, serta rencana respons insiden yang mencakup serangan terhadap rantai pasok. Bagi UMKM, risiko ini kini bukan hanya soal kehilangan data, tetapi juga gangguan bisnis yang dapat merembet ke mitra dan jaringan yang lebih luas.
Rangkuman peringkat serangan UMKM di Asia Tenggara
| Peringkat | Negara | Perubahan |
|---|---|---|
| 1 | India | 3,18% → 4,07% |
| 2 | Indonesia | 2,83% → 4,01% |
| 3 | Malaysia | 2,09% → 2,74% |
| 4 | Filipina | 2,46% → 1,80% |
| 5 | Singapura | 0,57% → 0,69% |
| 6 | Thailand | 1,28% → 1,12% |
| 7 | Vietnam | 2,91% → 2,56% |
Lonjakan di Indonesia memperlihatkan bahwa UMKM semakin berada di garis depan ancaman siber yang bergerak cepat. Dengan pola serangan yang makin canggih dan target yang kian luas, pertahanan dasar saja tidak lagi memadai untuk menghadapi ransomware.
Source: teknologi.bisnis.com






