Varian tertinggi Suzuki Fronx justru menjadi yang paling banyak dipilih konsumen. SGX 2 tone matic disebut sebagai model paling laku dengan penjualan menembus kisaran 5.000 unit, jauh di atas varian lain dalam keluarga Fronx.
Pola itu menunjukkan bahwa pembeli Fronx tidak semata mengejar harga masuk yang lebih rendah. Pilihan pasar justru mengarah ke varian otomatis dan varian dengan fitur yang lebih lengkap, terutama pada tipe tertinggi.
Jika angka SGX 2 tone matic digabung dengan SGX single tone, total penjualannya mendekati 7.000 unit. Dominasi ini membuat varian atas Fronx terlihat menjadi penopang utama distribusi model tersebut di pasar.
Di sisi lain, varian manual tampak tertinggal jauh. Fronx GL manual tercatat sebagai tipe dengan penjualan paling rendah, yakni 561 unit berdasarkan data wholesales yang dibahas akun @BaruPunyaMobil dengan merujuk angka Gaikindo.
Di atasnya ada Fronx GX manual dengan 761 unit. Jumlah itu masih memperlihatkan bahwa transmisi manual belum menjadi pilihan favorit untuk crossover kompak ini.
Akun @BaruPunyaMobil menilai rendahnya penjualan GL manual bukan hanya soal nama varian. Arah pasar saat ini juga dinilai semakin kurang berminat pada mobil manual.
Varian GL sendiri disebut kurang diminati karena fitur yang tergolong minim. Meski demikian, tampilannya tetap dinilai mirip dengan varian lain dan masih terlihat menarik.
Perubahan selera mulai terlihat saat masuk ke varian otomatis. Fronx GL matic justru berada di atas dua varian manual, sehingga preferensi pembeli tampak lebih condong ke transmisi otomatis ketimbang sekadar mengejar harga termurah.
Di kelompok berikutnya, Fronx SGX matic single tone terjual 1.668 unit. Angka ini menegaskan bahwa meski hanya memakai warna tunggal, varian tertinggi Fronx tetap memiliki daya tarik besar di pasar.
Persaingan di jajaran teratas kemudian mengerucut pada dua nama, yaitu GX automatic dan SGX 2 tone matic. Dari dua pilihan itu, SGX 2 tone matic keluar sebagai pemimpin penjualan, sedangkan GX automatic berada di urutan kedua.
GX automatic dinilai menarik bagi konsumen yang tidak merasa perlu fitur ADAS, tetapi tetap ingin paket yang kompetitif. Posisi ini membuatnya tetap relevan di tengah dominasi varian yang lebih mahal dan lebih lengkap.
Susunan penjualan tersebut memberi gambaran yang cukup jelas tentang selera pembeli Fronx. Varian murah dan manual berada di lapisan bawah, sedangkan varian otomatis dan lebih tinggi justru menjadi tulang punggung penjualan.
Kondisi itu juga menjelaskan mengapa Suzuki Fronx kini makin sering terlihat di jalan. Model ini tidak hanya ramai karena baru, tetapi juga karena varian unggulannya terserap dalam jumlah besar dan mendorong penyebaran Fronx di pasar.
