Siloam menjadi rumah sakit pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikasi Clinical Care Program untuk Acute Ischemic Stroke dari Joint Commission International pada 11 Maret 2026. Pencapaian itu menandai bahwa sistem penanganan stroke yang digunakan telah memenuhi standar internasional untuk kondisi yang menuntut respons sangat cepat.
Pengakuan tersebut penting karena stroke iskemik akut tidak memberi banyak waktu bagi tenaga medis. Saat aliran darah ke otak terhambat, sel otak dapat rusak dalam waktu singkat, sehingga menit awal penanganan sering menentukan arah pemulihan pasien.
Di Indonesia, stroke masih tercatat sebagai salah satu penyebab kematian dan disabilitas tertinggi. PT Siloam International Hospitals Tbk. menyoroti bahwa ratusan ribu kasus stroke terjadi setiap tahun, dan banyak di antaranya berujung pada kecacatan permanen karena pasien terlambat mendapatkan penanganan yang tepat.
Hospital Director Siloam Hospitals Lippo Village, Erick Prawira Suhardhi, menjelaskan bahwa fase awal stroke iskemik akut sangat menentukan peluang pemulihan. Menurut dia, rumah sakit perlu memperkuat layanan stroke terintegrasi agar pasien bisa melewati fase kritis dengan respons yang lebih cepat.
Koordinasi lintas disiplin dalam satu alur layanan
Untuk mempercepat penanganan, Siloam menyusun sistem layanan stroke yang melibatkan dokter spesialis saraf, bedah saraf, radiologi, ICU, dan rehabilitasi medik dalam satu alur. Model ini dipakai agar pasien segera mendapat tindakan medis yang sesuai ketika kondisi masih berada pada fase paling kritis.
Rumah sakit juga mengandalkan teknologi medis dan protokol klinis berbasis bukti untuk membantu mempercepat pengambilan keputusan. Pendekatan ini dipakai agar diagnosis lebih jelas dan perawatan tetap berkesinambungan dari fase akut sampai masa pemulihan.
Kecepatan menjadi faktor penting, tetapi ketepatan tindakan sejak awal juga tidak kalah krusial. Jika penanganan terlambat, kerusakan otak dapat meluas dan peluang pemulihan bisa menurun.
Fokus pada layanan dari kondisi akut hingga rehabilitasi
Layanan stroke yang diperkuat Siloam tidak berhenti pada penanganan kegawatdaruratan. Rangkaian itu juga mencakup diagnosis cepat, intervensi medis, hingga rehabilitasi pasien agar proses perawatan tetap menyambung.
Erick menegaskan bahwa sistem rumah sakit harus siap membantu pasien melewati masa paling genting. Dalam konteks stroke, kesiapan semacam ini dinilai dapat memengaruhi apakah pasien pulih dengan baik atau justru mengalami disabilitas jangka panjang.
Dorongan untuk mempercepat respons stroke menjadi semakin relevan saat pasien datang terlambat ke fasilitas kesehatan. Di situasi seperti itu, sistem yang terintegrasi bisa menjadi pembeda besar antara pemulihan dan cacat permanen.
Akses layanan berstandar internasional di dalam negeri
Siloam menyebut penguatan layanan stroke juga bertujuan agar pasien di Indonesia dapat memperoleh layanan berstandar internasional tanpa harus pergi ke luar negeri. Fokus ini dianggap penting karena kebutuhan penanganan stroke yang cepat dan teruji tidak dapat ditunda.
Bagi pasien dan keluarga, keberadaan fasilitas kesehatan yang siap merespons menjadi sangat menentukan. Rumah sakit yang mampu bergerak cepat dan terkoordinasi dinilai lebih berpeluang membantu pasien stroke akut mencapai hasil pemulihan yang lebih baik.
Dalam kondisi stroke, waktu memang menjadi faktor yang tidak bisa ditawar. Karena itu, kesiapan sistem, kecepatan diagnosis, dan kesinambungan perawatan menjadi elemen yang sama pentingnya untuk menekan risiko kecacatan permanen.
Source: lifestyle.bisnis.com