Pertamax belum ikut naik, tetapi perhitungan harga wajarnya kembali ramai dibicarakan setelah sejumlah BBM nonsubsidi lain lebih dulu mengalami penyesuaian. Di tengah situasi itu, muncul pertanyaan apakah harga Pertamax memang bisa mendekati Rp17.000 per liter jika seluruh komponen keekonomian dihitung penuh.
Isu ini menguat karena harga BBM nonsubsidi memang tidak ditetapkan secara statis. Nilainya mengikuti perubahan pasar, mulai dari harga minyak mentah, kurs dolar AS, biaya distribusi, margin badan usaha, sampai pajak yang ikut masuk dalam formula penentu harga.
Harga BBM nonsubsidi bergerak mengikuti pasar
Penetapan harga BBM nonsubsidi mengacu pada Kepmen ESDM Nomor 62 Tahun 2022. Aturan ini menjadi dasar bagi badan usaha untuk menghitung harga jual berdasarkan unsur pasar yang terus berubah.
Karena faktor-faktornya bergerak dinamis, harga BBM nonsubsidi ikut sensitif terhadap kondisi global. Evaluasinya juga tidak berlangsung setiap hari, melainkan dibahas per bulan sesuai mekanisme yang berlaku.
Pertamax belum berubah, tetapi perhitungannya tetap diperdebatkan
Di lapangan, Pertamax masih bertahan di harga sebelumnya. Kondisi itu membuat perhatian publik tertuju pada selisih harga dengan produk BBM lain, terutama ketika beberapa jenis nonsubsidi sudah lebih dulu naik.
Sebagian konsumen menilai harga yang berlaku saat ini masih jauh dari simulasi keekonomian yang beredar. Dari sinilah muncul dugaan bahwa harga Pertamax sebenarnya bisa lebih tinggi bila semua variabel pasar dihitung secara penuh.
Simulasi yang beredar menyebut angka Rp17.850
Dalam data perhitungan yang sempat beredar, Pertamina disebut menggunakan acuan periode 25 Februari 2025 hingga 24 Maret 2026. Acuan tersebut menampilkan perubahan yang cukup tajam pada kurs rupiah dan harga produk minyak.
Rupiah disebut melemah dari Rp16.819 menjadi Rp16.877 per dolar AS. Pada saat yang sama, harga bensin atau gasoline naik 62,44 persen menjadi 120,06 dolar AS per barel, sedangkan harga solar atau gasoil naik 90,65 persen menjadi 166,31 dolar AS per barel.
Dari simulasi itu, harga keekonomian Pertamax diperkirakan bisa mencapai Rp17.850 per liter. Angka tersebut sudah mencakup harga dasar, PPN 11 persen, dan PBBKB.
Pertamina membantah angka tersebut
Meski ramai dibahas, Pertamina menegaskan bahwa data itu tidak benar dan menyebutnya hoaks. Dengan penjelasan tersebut, angka Rp17.850 per liter tidak bisa dijadikan patokan resmi harga Pertamax.
Pernyataan ini penting karena pasar BBM nonsubsidi kerap memunculkan spekulasi saat harga minyak dunia naik. Dalam situasi seperti itu, perbedaan antara simulasi, wacana publik, dan kebijakan resmi sering kali terlihat kabur di mata konsumen.
Kisaran Rp17.000 dinilai masih mungkin oleh pengamat
Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menilai harga keekonomian Pertamax di kisaran Rp17.000 per liter masih mungkin terjadi jika harga minyak dunia tetap tinggi. Ia menyebut penilaiannya tidak hanya bertumpu pada minyak dunia, tetapi juga inflasi dan kurs rupiah.
Menurut Fahmy, jika Pertamax naik sementara Pertalite tetap Rp10.000, jarak harga akan makin lebar. Kondisi itu berpotensi mendorong konsumen kelas menengah, bahkan pengguna sepeda motor, beralih ke Pertalite.
Ia juga melihat kenaikan Pertamax lebih sensitif dibanding Pertamax Turbo karena basis konsumennya jauh lebih luas. Artinya, penyesuaian kecil pada Pertamax bisa membawa dampak pasar yang lebih besar dibandingkan produk BBM nonsubsidi lain.
Dampaknya dapat terasa langsung ke pilihan konsumen
Jika harga Pertamax benar-benar bergerak mendekati harga keekonomian yang dibahas, dampaknya tidak hanya terasa pada biaya isi ulang kendaraan. Perubahan ini juga bisa memengaruhi pola konsumsi masyarakat yang masih sangat memperhatikan selisih beberapa ribu rupiah per liter.
Selama harga minyak dunia dan kurs rupiah masih bergerak, ruang penyesuaian harga tetap terbuka. Besaran akhirnya tetap bergantung pada kebijakan badan usaha dan evaluasi resmi pada periode berikutnya.
Source: www.suara.com