Sisa Makanan Ternyata Jadi Awal Domestikasi Anjing, Begini Perjalanan Serigala ke Sahabat Manusia

Perjalanan anjing modern berawal dari kedekatan yang sangat sederhana dengan manusia, yakni sisa makanan di sekitar perkampungan. Dari kebiasaan itu, serigala purba yang lebih tenang dan tidak terlalu agresif perlahan mendapat keuntungan untuk bertahan hidup di dekat manusia.

Proses tersebut kemudian membentuk hubungan saling menguntungkan. Manusia menyediakan sisa makanan, sedangkan serigala membantu menjaga lingkungan dengan mengusir predator lain yang mendekat.

Seleksi alam dan seleksi buatan berjalan beriringan

Menurut berbagai kajian genetika, nenek moyang anjing berasal dari serigala purba yang hidup sekitar 20.000 hingga 40.000 tahun lalu. Wilayah Eurasia kerap disebut sebagai pusat utama domestikasi, meski asal pastinya masih diperdebatkan.

Di masa Zaman Es, sekitar 15 ribu tahun lalu, serigala mulai mendekati perkemahan manusia karena tertarik pada makanan yang tersisa. Dari situ, seleksi alam bekerja ke arah yang sama dengan lingkungan manusia yang memberi ruang bagi individu yang lebih toleran.

Ketika hubungan itu makin kuat, manusia purba ikut mempercepat perubahan lewat seleksi buatan. Serigala yang dianggap setia, patuh, dan tidak terlalu agresif dipilih, lalu sifat-sifat itu makin menguat dari generasi ke generasi.

Perubahan genetik yang membedakan anjing dan serigala

Perbedaan anjing dan serigala tidak hanya tampak pada perilaku, tetapi juga pada level genetik. Studi yang diterbitkan di jurnal Nature pada 2013 menemukan perbedaan penting pada gen yang berkaitan dengan pencernaan, metabolisme, dan perilaku.

Salah satu temuan yang menonjol adalah jumlah salinan gen pemecah pati yang lebih banyak pada anjing. Hal itu menunjukkan anjing beradaptasi dengan pola makan yang lebih kaya karbohidrat, kemungkinan karena hidup berdampingan dengan manusia yang juga mulai bergantung pada pertanian.

Perubahan perilaku juga ikut terbentuk, termasuk sifat jinak dan berkurangnya rasa takut. Kondisi ini diduga terkait dengan hormon oksitosin yang berperan dalam ikatan sosial dan hubungan emosional.

Dari pemburu, penjaga, hingga teman manusia

Seiring waktu, manusia tidak hanya membiarkan anjing hidup di dekat permukiman, tetapi juga memanfaatkannya untuk berbagai fungsi. Anjing kemudian dibentuk untuk berburu, menggembala ternak, menjaga rumah, hingga menjadi sahabat manusia.

Dari proses itu, beragam ras anjing muncul dengan ciri fisik dan perilaku yang berbeda. Evolusi anjing pun tidak hanya berlangsung secara biologis, tetapi juga dipengaruhi kebutuhan budaya manusia.

Masih mirip di DNA, tetapi sangat berbeda dalam wujud

Meski berbeda dalam banyak hal, anjing dan serigala masih memiliki lebih dari 99 persen DNA yang sama. Namun, domestikasi membuat keduanya tampil sangat berbeda dalam perilaku, bentuk tubuh, dan pola makan.

Serigala cenderung mandiri dan teritorial. Sebaliknya, anjing lebih sosial dan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan manusia.

Perbedaan fisik juga terlihat jelas pada tengkorak yang lebih kecil, moncong yang lebih pendek, dan variasi warna bulu yang lebih beragam pada anjing peliharaan. Dari sisi makanan, serigala adalah karnivora seutuhnya, sedangkan anjing berevolusi untuk mencerna pola makan yang lebih omnivora, termasuk makanan nabati.

Perjalanan dari serigala liar ke anjing modern memperlihatkan bagaimana sisa makanan di sekitar perkemahan dapat memicu perubahan besar. Dari pengais makanan, lahir hewan yang kini menjadi pelindung, pekerja, sekaligus sahabat dekat manusia.

Source: www.idntimes.com

Berita Terkait