Pelarian Odysseus dari gua Polifemus seharusnya menjadi bukti kecerdikan seorang pemimpin. Namun, ejekannya kepada Cyclops setelah berhasil kabur justru memperpanjang ancaman yang dihadapi dirinya dan para awak kapal.
Polifemus bukan lawan biasa karena ia merupakan putra Poseidon, dewa laut. Kesombongan Odysseus setelah kemenangan kecil itu menjadi salah satu alasan penting mengapa perjalanan pulang ke Ithaca tidak pernah sederhana.
Kecerdikan yang Tidak Selalu Bijaksana
Odysseus dikenal luas berkat gagasan Kuda Troya, strategi yang membantu pasukan Yunani menaklukkan Troya. Akan tetapi, kecerdikan tersebut tidak otomatis membuat setiap keputusannya dapat dipandang mulia atau bijaksana.
Joel Christensen, penulis Why Odysseus? Survivor, Scoundrel, (Anti)hero, menempatkan tokoh ini sebagai penyintas, bajingan, sekaligus antihero. Pembacaan itu menyoroti sisi ambigu seorang tokoh yang mampu menyelamatkan diri, tetapi juga kerap menciptakan masalah akibat tindakannya sendiri.
Dalam peristiwa di gua Polifemus, sang Cyclops memang memakan sebagian awak Odysseus. Tindakan itu melanggar norma keramahtamahan kuno, tetapi Odysseus juga memasuki gua tersebut dengan niat mengambil persediaan makanan.
Odysseus kemudian membutakan Polifemus menggunakan tombak dan melarikan diri bersama anak buahnya. Keberhasilan itu berubah menjadi bahaya baru ketika ia memilih mengejek lawannya dari kejauhan.
Profesor sejarah Universitas Iowa, Sarah Bond, menilai kesombongan tersebut memperburuk konsekuensi dari tindakan Odysseus. Episode ini memperlihatkan bahwa kemampuan menyusun siasat tidak selalu disertai kemampuan mengendalikan diri.
Pahlawan yang Dipertanyakan Para Pakar
Rilis film The Odyssey karya Christopher Nolan, yang menampilkan Matt Damon sebagai Odysseus, kembali mengangkat perdebatan mengenai citra penakluk Troya itu. Kisahnya tidak hanya berisi pelayaran penuh bahaya, melainkan juga persoalan pelanggaran norma, trauma, dan perjuangan untuk bertahan hidup.
Eleanor Martin, pengajar mitologi Yunani di Yale, menyebut anggapan bahwa Odysseus adalah orang baik sebagai kesalahpahaman yang umum. Kepada National Geographic, ia menyatakan, “Kesalahpahaman paling umum tentang Odysseus adalah menganggapnya orang baik.”
| Tokoh | Latar Belakang | Pandangan tentang Odysseus |
|---|---|---|
| Eleanor Martin | Pengajar mitologi Yunani di Yale | Keliru bila dipandang sebagai orang baik. |
| Joel Christensen | Penulis kajian tentang Odysseus | Penyintas, bajingan, dan antihero. |
| Sarah Bond | Profesor sejarah Universitas Iowa | Kesombongan memperburuk akibat tindakannya. |
Versi Odysseus tentang Dirinya Sendiri
Pertanyaan terhadap wataknya juga muncul dalam hubungan Odysseus dengan Penelope. Ia menghabiskan tujuh tahun bersama nimfa Calypso sebelum meninggalkan pulau tempat ia tinggal.
Odysseus mengatakan kepada Penelope bahwa ia menolak tawaran keabadian dan awet muda demi pulang. Christensen mencatat bahwa teks asli hanya menyebut tawaran keabadian, bukan keabadian sekaligus awet muda.
Perbedaan detail itu membuat cerita tentang pengorbanan Odysseus terdengar lebih rumit daripada pengakuannya sendiri. Narasi kepahlawanannya pun tampak banyak dibentuk oleh cara ia memilih menceritakan pengalaman pribadinya.
Perannya sebagai ayah turut mengundang kritik karena ia tidak mengirim kabar kepada keluarganya. Bond menekankan bahwa komunikasi jarak jauh bukan sesuatu yang mustahil, sebab masyarakat Mesopotamia dan Mesir telah mengenal surat-menyurat jauh sebelum periode Perang Troya.
Makna yang Berubah dari Masa ke Masa
Arum Park dari Universitas Arizona menjelaskan bahwa kata “odyssey” kini lekat dengan makna perjalanan panjang. Padahal, perjalanan fisik Odysseus berakhir pada pertengahan cerita, sementara petualangan yang paling dikenal hanya mencakup sekitar tiga dari 24 bagian kisah.
Menurut Kompas.com, filsuf Stoa Romawi seperti Seneca dan Cicero kemudian memperkuat gambaran Odysseus sebagai figur yang tahan menghadapi godaan dan penderitaan. Pada masa berikutnya, Boethius bahkan menggambarkannya semakin dekat dengan figur Kristus.
Perubahan penafsiran tersebut menjauhkan citra Odysseus dari tokoh kuno yang penuh kontradiksi. Bagi Christensen, ia lebih tepat dibaca sebagai antihero seperti Walter White atau Batman, sosok yang dapat dipelajari sekaligus dihindari.







