Sekitar 30.000 penonton memenuhi Lapangan Rampal, Malang, saat Slank kembali tampil di kota itu setelah 9 tahun. Konser pada Minggu malam itu segera berubah menjadi ajang temu kangen besar bagi para Slankers yang datang bukan hanya dari Malang, tetapi juga dari berbagai daerah lain.
Keramaian sudah terasa sejak awal acara. Para penonton membawa atribut khas penggemar Slank, termasuk bendera bergambar simbol kupu-kupu dan nama daerah masing-masing, mulai dari Tulungagung, Malang, Indramayu, Tuban, Demak, Surabaya, Gresik, Jember, hingga Banyuwangi.
Energi Panggung Sejak Lagu Pembuka
Slank membuka penampilan tepat pukul 22.00 WIB dengan lagu I Miss U but I Hate U, Gara-Gara Kamu, medley Mars Slankers dan Punk Java, lalu Seperti Para Koruptor. Deretan lagu pembuka itu langsung membuat suasana konser bergerak cepat dan menjaga antusiasme penonton tetap tinggi.
Formasi lengkap tampil di panggung pada malam tersebut. Kaka mengisi vokal, Ridho dan Abdee memainkan gitar, Ivanka memegang bass, sementara Bimbim berada di drum.
Sapaan Hangat untuk Kera Ngalam
Kedekatan band dengan penonton terasa kuat lewat interaksi yang berulang sepanjang konser. Kaka sempat menyapa penonton dengan bahasa walikan Malang dan menyebut Lapangan Rampal sebagai tempat yang juga pernah menjadi lokasi tampil Slank sekitar 9 tahun lalu.
“Assalamualaikum! Malang apa kabar! Mawar Merah buat Kera Ngalam!” ujar Kaka dari atas panggung. Sapaan itu langsung disambut meriah oleh penonton yang memenuhi seluruh area konser.
Dalam konferensi pers sebelum tampil, Kaka juga menilai Malang sebagai salah satu barometer perkembangan musik. Menurut dia, keberhasilan sebuah band di Malang menjadi penanda penting dalam perjalanan karier musiknya.
Momen Hening di Tengah Riuh Penonton
Di tengah konser yang semula dipenuhi sorakan, Bimbim sempat mengajak penonton berdoa bersama sebelum membawakan Bimbim Jangan Menangis. Ia menyinggung musibah yang dialami Haji Suryo, pemilik HS, yang mengalami kecelakaan pada bulan puasa lalu.
Bimbim juga menyampaikan doa untuk istrinya, Hj. Anis Syarifah, yang meninggal dunia dalam peristiwa itu. Suasana pun berubah hening sejenak sebelum lagu dibawakan dengan lebih penuh perasaan.
Dalam pengantar lagu tersebut, Bimbim turut mengaitkan pesan yang dibawakan dengan nasihat almarhum ibundanya, Iffet Veceha Sidharta, yang meninggal pada April 2025. Momen tersebut memberi lapisan emosional di antara rangkaian lagu yang dominan berenergi tinggi.
Lagu Lama, Materi Baru, dan Nostalgia Panjang
Setelah momen haru itu, Slank kembali menghidupkan suasana dengan lagu-lagu lama yang sudah akrab di telinga penggemar. Ku Tak Bisa, Terlalu Manis, Tonk Kosong, Orkes Sakit Hati, dan Poppies Lane Memory ikut dibawakan untuk memuaskan kerinduan penonton terhadap karya-karya ikonik mereka.
Bimbim menjelaskan bahwa Poppies Lane Memory lahir dari masa kelam ketika sejumlah personel Slank pernah terjerat narkoba. Di sisi lain, konser ini juga menampilkan materi baru seperti 12 Persen yang videoklipnya memakai teknologi Artificial Intelligence, serta Republik Fufufafa.
Perpaduan lagu lama dan materi terbaru membuat konser terasa lengkap bagi berbagai lapisan penonton. Sebagian datang untuk nostalgia, sementara yang lain mengikuti perkembangan Slank lewat karya-karya anyar mereka.
Menjelang pukul 23.30 WIB, penampilan ditutup dengan Kamu Harus Pulang. Dari panggung, Kaka menyampaikan rasa syukur atas kembalinya Slank ke Malang dan menyebut Lapangan Rampal sebagai tempat penuh kenangan bagi band maupun para penggemarnya.
Source: lifestyle.bisnis.com






