Ribuan smartphone bekas kini sedang diuji untuk bekerja sebagai bagian dari data center ramah lingkungan. Pendekatan ini menempatkan perangkat lama yang biasanya tersimpan di laci sebagai sumber daya komputasi baru.
Proyek tersebut digerakkan oleh University of California San Diego atau UC San Diego dengan dukungan Google. Melalui inisiatif yang dipublikasikan Google Research, perangkat konsumen itu disiapkan agar bisa menjalankan beban komputasi cloud dengan emisi yang lebih rendah.
Fokus pada perangkat yang masih layak pakai
Banyak smartphone lama masih memiliki prosesor, memori, penyimpanan data, dan akselerator komputasi yang berfungsi baik. Dalam sejumlah pengujian, performa per inti prosesor smartphone modern bahkan bisa mendekati atau melampaui sebagian server multicore generasi lama.
Perbedaan utama ada pada skala. Server memiliki puluhan inti prosesor dan kapasitas memori yang jauh lebih besar, sedangkan smartphone umumnya hanya membawa beberapa inti dan memori sekitar 8 hingga 12 GB.
Namun, ketika digabungkan dalam jumlah besar, perangkat kecil itu menjadi jauh lebih berguna. Peneliti memanfaatkan ribuan smartphone bekas untuk membentuk klaster komputasi yang bekerja bersama sebagai satu sistem.
Bagaimana perangkat itu diubah menjadi server
Agar lebih efisien, ponsel tidak digunakan dalam kondisi utuh. Baterai dilepas untuk mengurangi risiko degradasi, pembengkakan, dan gangguan keamanan saat perangkat bekerja terus-menerus selama berbulan-bulan.
Bagian utama yang dipertahankan adalah motherboard karena di sanalah kemampuan komputasi berada. Sistem operasi Android juga diganti dengan distribusi Linux yang lebih sesuai untuk kebutuhan server.
Dengan pengaturan tersebut, smartphone bekas dapat menjalankan aplikasi cloud seperti server konvensional. Untuk mengelola ribuan perangkat sekaligus, peneliti memakai Kubernetes sebagai platform pengatur aplikasi cloud modern.
Perangkat-perangkat itu kemudian disusun ke dalam klaster berisi 25 hingga 50 unit. Susunan ini membuat banyak smartphone dapat dikelola sebagai satu kesatuan komputasi yang lebih rapi.
Dipakai untuk pendidikan dan penelitian
UC San Diego menargetkan pembangunan data center dari 2.000 smartphone Pixel bekas. Fasilitas itu akan digunakan untuk mendukung pengajaran ilmu komputer, sistem pemrograman, dan penelitian komputasi paralel.
Banyak layanan akademik berbasis cloud ternyata tidak membutuhkan sumber daya besar. Peneliti mencontohkan backend penilaian tugas otomatis yang sering berjalan di instance kecil seperti AWS t3.micro dengan 2 vCPU dan 1 GB RAM.
Kebutuhan yang ringan itu membuat smartphone bekas tetap relevan. Dalam uji coba awal, klaster berisi 20 smartphone mampu menangani beban tugas dari kelas dengan lebih dari 75 mahasiswa.
Hasil tersebut juga menunjukkan latensi penilaian yang lebih rendah dibanding backend AWS yang digunakan sebelumnya. Jika target 2.000 perangkat tercapai, sistem diperkirakan mampu mendukung sekitar 100 kelas secara bersamaan.
Menurut estimasi peneliti, kapasitas komputasi agregatnya bisa mendekati sekitar 50 server modern untuk jenis beban kerja tertentu. Fokus utamanya tetap pada aplikasi pendidikan dan penelitian yang tidak terlalu intensif.
Dampak lingkungan dari pemakaian ulang
Pendekatan ini juga menyoroti persoalan lingkungan di industri teknologi. Produksi perangkat keras baru masih menyumbang emisi karbon, terutama karena setiap server memerlukan bahan baku, energi, dan proses manufaktur.
Dengan memakai kembali smartphone lama, umur pakai perangkat yang sudah tidak digunakan dapat diperpanjang. Kebutuhan bahan tambang pun berkurang, sementara emisi dari produksi perangkat baru ikut ditekan.
Proyek ini menjadi uji penting untuk melihat apakah perangkat konsumen bisa bekerja andal dalam jangka panjang seperti perangkat server profesional. Jika pendekatan ini stabil dalam skala besar, jutaan smartphone bekas berpotensi berubah dari sampah elektronik menjadi sumber daya komputasi baru.
Source: www.idntimes.com





