Smelter dan Produksi Pulih, Target Rp6.000 AMMN Masih Layak Dipertimbangkan

Prospek PT Amman Mineral International Tbk. (AMMN) kembali menguat setelah pemulihan produksi di tambang Batu Hijau dan kontribusi smelter mulai terlihat lebih jelas. BRI Danareksa Sekuritas menilai kombinasi itu masih membuka ruang kenaikan besar, dengan target harga Rp6.000 per saham berdasarkan metode penilaian SOTP.

Di pasar, harga saham AMMN masih bergerak di bawah level tersebut. Berdasarkan data Stokbit, saham AMMN sempat turun 40 poin atau 1,20 persen ke posisi Rp3.300, sementara pada saat riset diterbitkan harganya berada di Rp3.340 per saham.

Pemulihan produksi mulai mengubah peta kinerja

BRI Danareksa Sekuritas melihat AMMN sedang memasuki fase pertumbuhan laba yang lebih besar pada 2026 setelah melewati masa transisi Fase 8. Pemulihan produksi Batu Hijau menjadi salah satu penopang utama, ditambah peningkatan kontribusi dari bisnis hilir.

Dalam proyeksinya, pendapatan AMMN diperkirakan mencapai sekitar 4 miliar dolar AS pada 2026 atau melonjak 117 persen dibandingkan tahun sebelumnya. EBITDA juga diproyeksikan naik 97 persen menjadi 2,02 miliar dolar AS, sedangkan laba bersih diperkirakan melonjak menjadi 909 juta dolar AS dari 249 juta dolar AS pada 2025.

IndikatorProyeksi 2026Perubahan
Pendapatan4 miliar dolar ASNaik 117 persen
EBITDA2,02 miliar dolar ASNaik 97 persen
Laba bersih909 juta dolar ASDari 249 juta dolar AS pada 2025

Smelter dan PMR mulai memberi nilai tambah

Sinyal perbaikan juga terlihat pada kuartal I 2026. Produksi bijih segar naik menjadi 38 juta ton dari sekitar 1 juta ton pada periode yang sama tahun lalu, yang mendorong kenaikan produksi konsentrat hingga 167,8 ribu dry metric ton.

Produksi tembaga ikut naik 173 persen menjadi 101 juta pon, sementara produksi emas melonjak 321 persen menjadi 136 ribu ons. Pada saat yang sama, fasilitas hilir mulai memberi kontribusi yang lebih nyata melalui smelter dan Precious Metal Refinery atau PMR.

Smelter menghasilkan 27,7 ribu ton katoda tembaga pada kuartal I 2026, sedangkan PMR memproduksi 66,2 ribu ons emas murni. Pergeseran dari penjualan konsentrat ke produk logam olahan dinilai penting karena memberi nilai tambah yang lebih tinggi.

Valuasi masih dinilai menarik dibanding emiten global

BRI Danareksa Sekuritas memakai pendekatan SOTP yang memasukkan kontribusi tambang Batu Hijau, smelter, PMR, dan potensi jangka panjang proyek Elang. Dengan pendekatan itu, target harga Rp6.000 disebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 79,6 persen dari harga saat riset diterbitkan.

Dari sisi valuasi, saham AMMN disebut masih relatif murah dibandingkan emiten sejenis di pasar global. AMMN diperdagangkan pada sekitar 6,7 kali EV/EBITDA 2026, lebih rendah daripada rata-rata perusahaan tambang tembaga dan emas global yang berada di kisaran 9,1 kali EV/EBITDA.

Fundamental komoditas juga masih memberi dukungan. BRI Danareksa melihat permintaan tembaga berpeluang terus naik seiring pertumbuhan kendaraan listrik, pusat data berbasis kecerdasan buatan, pembangunan jaringan listrik, dan proyek energi terbarukan.

Untuk emas, harga masih ditopang pembelian berkelanjutan oleh bank sentral dunia. Bank Sentral China (PBoC) disebut telah menambah cadangan emas selama 19 bulan berturut-turut, sehingga sentimen terhadap logam mulia itu tetap kuat.

Risiko tetap perlu dicermati investor

Meski pandangannya positif, BRI Danareksa tetap mengingatkan adanya risiko usaha yang perlu diawasi. Beberapa di antaranya adalah potensi gangguan operasional smelter, keterlambatan pembangunan fasilitas pengolahan, pelemahan harga tembaga dan emas, kenaikan royalti, serta lambatnya perkembangan proyek Elang.

Dengan pemulihan produksi, kontribusi hilirisasi, dan dukungan harga komoditas, AMMN dinilai memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Namun, keberlanjutan kenaikan kinerja tetap bergantung pada eksekusi operasional di Batu Hijau serta optimalisasi smelter dan PMR.

Source: www.suara.com

Berita Terkait