Solar Murah Bisa Menyimpan Biaya Besar, UGM Ingatkan Risiko Kerusakan Mesin Diesel

Keputusan memilih BBM diesel yang murah tidak selalu berakhir dengan penghematan. Pakar otomotif Universitas Gadjah Mada, Jayan Sentanuhady, mengingatkan bahwa kualitas solar yang rendah bisa memicu kerusakan bertahap pada mesin, terutama pada bagian yang bekerja sangat presisi.

Dampaknya tidak selalu langsung terasa, tetapi justru muncul perlahan. Dari saringan bahan bakar yang cepat kotor hingga sistem injeksi yang rentan aus, biaya yang terlihat kecil di awal dapat berubah menjadi beban perawatan yang jauh lebih besar.

Masalah sering dimulai dari filter solar

Bagian yang paling cepat terkena imbas biasanya adalah sistem penyaringan bahan bakar. Saat solar memiliki kualitas rendah, filter solar lebih mudah dipenuhi kotoran dan akhirnya tersumbat, sehingga jadwal perawatan menjadi lebih sering.

Jayan menyoroti kondisi ini terutama pada solar yang berasal dari pencampuran dengan biodiesel seperti B100 atau FAME. Dalam kondisi tersebut, pemeriksaan rutin menjadi penting agar suplai bahan bakar ke mesin tetap lancar dan tidak terganggu oleh penumpukan kotoran.

Jika filter dibiarkan dalam keadaan terlalu kotor, aliran solar bisa terhambat. Saat aliran bahan bakar tidak stabil, performa kendaraan ikut turun dan risiko gangguan operasional semakin besar.

Endapan dan gel juga perlu diwaspadai

Selain membuat filter cepat penuh, bahan bakar nabati juga dapat memicu gelling atau pembentukan gel. Jayan menyebut kondisi ini sebagai salah satu alasan mengapa solar hasil blending perlu perawatan yang lebih disiplin.

“Solar hasil blending dengan minyak nabati memang harus sering dilakukan perawatan, karena ada potensi terjadinya gelling atau pembentukan gel pada bahan bakar,” kata Jayan. Endapan atau gel tersebut dapat mempersempit jalur distribusi solar menuju mesin dan menghambat alirannya.

Karena itu, kebersihan filter solar menjadi sangat penting. Filter perlu sering dibersihkan atau diganti agar penyumbatan total pada sistem bahan bakar tidak terjadi dan mesin tetap mendapat suplai yang memadai.

Efeknya tidak berhenti di sistem penyaringan

Pengaruh BBM berkualitas rendah tidak hanya terjadi pada filter. Jayan juga menyebut kemungkinan adanya penumpukan residu di ruang bakar dan pada bagian atas piston yang dapat mengganggu kerja mesin secara keseluruhan.

“Ruang bakar dan permukaan atas piston bisa mengalami penumpukan deposit. Intake maupun exhaust manifold juga biasanya kotor karena deposit,” ujarnya. Endapan seperti ini membuat pembakaran tidak lagi berjalan efisien dan pada akhirnya menekan performa mesin.

Dalam jangka panjang, sistem injeksi juga berisiko terdampak karena bekerja dengan tingkat ketelitian tinggi. Bila mesin terus menerima bahan bakar yang kualitasnya rendah, keausan mikroskopis dapat muncul pada bagian seperti plunyer pump atau sistem injeksi.

Hemat harga belum tentu hemat biaya

Poin yang ditekankan Jayan adalah cara melihat biaya secara menyeluruh, bukan hanya harga di pompa. Solar murah memang bisa mengurangi pengeluaran harian, tetapi perawatan tambahan, pembersihan, dan potensi perbaikan mesin bisa membuat total pengeluaran justru lebih besar.

Karena itu, pemilik kendaraan diesel perlu menimbang harga BBM bersama dampak teknisnya. Pemeriksaan filter, pembersihan berkala, dan perawatan sistem bahan bakar menjadi langkah penting agar usia pakai mesin tetap terjaga, meski menggunakan solar dengan kualitas yang lebih rendah.

Pada akhirnya, pilihan BBM diesel bukan hanya soal nominal yang dibayar saat mengisi tangki. Kualitas bahan bakar ikut menentukan seberapa berat komponen mesin bekerja dan seberapa besar risiko kerusakan pelan-pelan yang bisa berubah menjadi biaya perbaikan yang berat.

Berita Terkait