Solo Rampungkan Struktur Hingga RT-RW, PDIP Jateng Gaspol Menuju 2029

PDI Perjuangan Jawa Tengah menargetkan kemenangan pada Pemilu 2029 dengan mempercepat penguatan struktur partai sampai ke lapisan paling bawah. Di Kota Solo, langkah itu tampak dari pembentukan organisasi yang sudah menjangkau tingkat RT dan RW, lengkap dengan jaringan kader yang disiapkan untuk kerja politik jangka panjang.

Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah, Dolfie Othniel Frederic Palit, menyebut penguatan internal sebagai fondasi utama sebelum partai melangkah lebih jauh. Ia menegaskan seluruh proses konsolidasi dilakukan berjenjang, mulai dari pusat, provinsi, kabupaten, hingga anak cabang, sebelum diteruskan ke ranting dan anak ranting.

Di Solo, konsolidasi itu dikaitkan dengan Musyawarah Anak Cabang yang digelar pada Ahad, 24 Mei 2026. Dolfie menyebut kegiatan tersebut sebagai bagian dari percepatan pembenahan struktur di berbagai daerah Jawa Tengah.

Hingga Ahad itu, 33 cabang disebut sudah menyelesaikan Musancab. Dua cabang lain dijadwalkan menyusul pada awal pekan berikutnya, sehingga hampir seluruh kabupaten dan kota di Jawa Tengah telah menuntaskan tahapan tersebut.

Menurut Dolfie, pekerjaan partai belum selesai setelah struktur anak cabang terbentuk. Setelah ranting dan anak ranting rampung, barulah program politik disusun dengan basis kebutuhan masyarakat.

“Setelah semua selesai, baru kita menyusun program-program yang berbasis rakyat,” kata Dolfie. Ia juga menegaskan arah partai tidak berubah dan target akhirnya tetap menang.

Meski mendorong penguatan internal, PDI Perjuangan masih menunggu pembahasan rancangan undang-undang pemilu untuk membaca tantangan pemilihan secara lebih rinci. Dolfie menyebut kondisi itu penting agar partai bisa mengukur langkah ke depan secara lebih tepat.

Solo Jadi Contoh Konsolidasi Hingga Akar Rumput

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Solo, Aria Bima, menjelaskan bahwa konsolidasi tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial. Ia meminta seluruh struktur partai menerjemahkan arahan organisasi menjadi kerja nyata yang dirasakan masyarakat.

Di Kota Solo, struktur partai disebut sudah dibentuk sesuai target DPD Jawa Tengah. Susunannya meliputi 21 pengurus DPC, 55 pengurus anak cabang, 486 pengurus ranting, 1.250 pengurus anak ranting, dan 1.773 kader di tingkat RT dan RW.

Aria mengatakan target dari DPD sudah dijalankan sampai level terbawah. Karena itu, konsolidasi kemudian diarahkan menjadi kerja-kerja kerakyatan melalui berbagai program partai.

Sedikitnya ada 45 program kerakyatan yang dijalankan oleh 14 bidang partai di Solo. Program itu mencakup layanan pengobatan dan makan siang gratis, posko bantuan hukum 24 jam, penyediaan paralegal di setiap kelurahan, serta pusat data politik.

Selain itu, PDI Perjuangan Kota Solo juga menjalankan sekolah ideologi, sekolah calon legislatif, pemberdayaan UMKM, dan pengembangan kuliner lokal. Partai juga mendukung program pemerintah seperti ketahanan pangan berbasis pekarangan dan pengembangan bank sampah bernilai ekonomi.

“Semua program ini untuk seluruh rakyat Kota Surakarta,” ujar Aria. Ia menegaskan konsolidasi harus melahirkan manfaat yang konkret, bukan berhenti pada penguatan organisasi semata.

Anak Muda Jadi Sorotan

Selain target organisasi, Dolfie dan Aria sama-sama menyoroti tantangan lain yang dianggap penting menjelang 2029, yakni menurunnya minat generasi muda terhadap politik. Dolfie menilai sikap apatis itu menjadi masalah bersama, termasuk bagi media massa.

Ia mempertanyakan bagaimana kualitas demokrasi bisa dibangun jika komponen terbaik tidak masuk ke partai politik. Karena itu, PDI Perjuangan disebut membuka ruang seluas-luasnya bagi anak muda untuk terlibat.

“Partai politik adalah jalan untuk membangun bangsa dan negara,” kata Dolfie. Pernyataan itu menegaskan bahwa konsolidasi partai tidak hanya soal struktur, tetapi juga soal regenerasi politik.

Aria melihat tantangan yang sama dari sudut yang lebih spesifik. Menurut dia, Generasi Z diperkirakan akan mendominasi pemilih pada 2029, tetapi justru makin menjauh dari politik kepartaian.

Ia menyebut sejumlah survei menunjukkan Gen Z tidak tertarik kepada partai politik. Situasi itu, kata Aria, menuntut kerja bersama dari semua elemen politik dan pemerintah untuk memulihkan kepercayaan anak muda.

Aria juga menilai penguatan demokrasi tidak bisa dilepaskan dari partai politik yang sehat dan dipercaya publik. “Semuanya akan sia-sia kalau berhenti di ruang rapat ini,” kata dia, menekankan bahwa Musancab harus menjadi jembatan antara konsolidasi organisasi dan penguatan ideologi partai.

Source: www.tempo.co
Berita Terkait