Saham Spotify masih bergerak di bawah tekanan setelah sejumlah analis mulai mengoreksi pandangan mereka terhadap prospek perusahaan. Di tengah laporan keuangan kuartal pertama yang justru kuat, penurunan target harga dari beberapa rumah riset membuat sentimen pasar tampak mulai lebih berhati-hati.
JPMorgan menjadi salah satu yang terbaru menyesuaikan ekspektasi dengan memangkas target harga Spotify Technology dari 700 dolar AS menjadi 600 dolar AS. Meski begitu, lembaga tersebut tetap mempertahankan peringkat overweight, sehingga masih ada ruang optimisme meski nadanya tidak sekuat sebelumnya.
Target turun, tetapi pandangan belum sepenuhnya negatif
Pemangkasan target dari JPMorgan tetap menyiratkan potensi kenaikan 34,99 persen dari harga penutupan sebelumnya. Artinya, meski ekspektasi melunak, saham Spotify belum dipandang kehilangan daya tarik sepenuhnya oleh analis tersebut.
Langkah JPMorgan juga muncul pada saat pasar sedang menilai ulang arah bisnis Spotify setelah panduan kuartal kedua dinilai kurang meyakinkan. Di sisi lain, laporan laba kuartal pertama perusahaan justru menunjukkan performa yang solid.
Spotify membukukan laba per saham 5,16 dolar AS, jauh di atas konsensus 3,16 dolar AS. Pendapatan perusahaan juga mencapai 5,32 miliar dolar AS, naik 6,8 persen dibandingkan 5,14 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun lalu.
Ekspektasi analis mulai terpecah
Kinerja kuartal pertama yang kuat belum berhasil menyatukan pandangan para analis. Sebagian justru memilih menurunkan target harga karena menilai panduan kuartal kedua memberi sinyal yang lebih lemah dari perkiraan.
Morgan Stanley memulai cakupan pada Senin, 13 April 2026, dengan peringkat overweight dan target harga 630 dolar AS. Sementara itu, Wells Fargo & Company memangkas target menjadi 580 dolar AS dari 640 dolar AS, dan Guggenheim menurunkannya dari 600 dolar AS menjadi 565 dolar AS.
Sanford C. Bernstein juga menurunkan target harga Spotify menjadi 650 dolar AS dari 830 dolar AS, walau tetap mempertahankan peringkat outperform. Di sisi lain, Weiss Ratings memilih sikap lebih netral dengan penilaian Hold (C+).
Konsensus pasar masih cenderung positif
Walau beberapa target harga dipangkas, pandangan umum terhadap Spotify belum bergeser ke arah pesimistis. Data MarketBeat.com menunjukkan rata-rata target harga analis masih berada di 647,68 dolar AS.
Label konsensusnya juga masih Moderate Buy, dengan komposisi dua analis memberi Strong Buy, 23 analis Buy, dan enam analis Hold. Susunan ini menunjukkan bahwa pandangan positif masih lebih dominan dibandingkan sikap menunggu.
Aksi jual eksekutif ikut diperhatikan
Selain pergerakan dari para analis, pasar juga mencermati transaksi saham oleh jajaran eksekutif Spotify. Pada Rabu, 1 April 2026, CEO Alex Norstrom menjual 5.436 lembar saham dengan harga rata-rata 479,51 dolar AS, sedangkan CEO Gustav Soderstrom melepas 20.833 lembar saham dengan harga rata-rata 473,52 dolar AS.
Penjualan itu menurunkan kepemilikan Norstrom sebesar 7,21 persen. Untuk Soderstrom, transaksi tersebut memangkas kepemilikannya secara langsung hingga 50,27 persen menurut dokumen Securities & Exchange Commission.
Institusi tetap memegang kendali besar
Di tengah aksi jual internal itu, kepemilikan institusional Spotify masih sangat besar, yakni 84,09 persen. Vanguard Group Inc. dan Bessemer Group Inc. termasuk investor besar yang menambah kepemilikan pada kuartal ketiga tahun sebelumnya.
Dominasi institusi membuat saham Spotify tetap sensitif terhadap perubahan sikap analis besar. Ketika satu rumah riset memangkas target, rumah riset lain masih melihat ruang kenaikan yang cukup lebar.
Secara teknikal, saham Spotify diperdagangkan di 444,49 dolar AS dengan volume transaksi 3.555.090 saham. Harga tersebut masih berada di bawah rata-rata pergerakan 50 hari di 501,23 dolar AS dan rata-rata pergerakan 200 hari di 548,45 dolar AS, sementara kapitalisasi pasarnya kini mencapai 91,51 miliar dolar AS.
Analis sisi jual memperkirakan perusahaan akan membukukan EPS 15,73 untuk tahun fiskal berjalan seiring upaya pemulihan pendapatan iklan. Այդ penilaian itu ikut menjaga perhatian pasar tetap tertuju pada apakah Spotify mampu mempertahankan momentum laba di tengah revisi ekspektasi yang mulai lebih hati-hati.







