Standard Chartered Pangkas Ribuan Posisi, AI Jadi Mesin Baru Efisiensi Bank

Author: Redaksi Android62

Standard Chartered sedang menyiapkan perubahan besar yang akan menyentuh ribuan pekerja. Bank berbasis di London itu berencana memangkas lebih dari 7.000 karyawan dalam empat tahun ke depan seiring makin kuatnya peran kecerdasan buatan dalam operasional mereka.

Langkah ini menunjukkan bahwa AI kini bukan lagi sekadar alat pendukung di industri keuangan. Di Standard Chartered, teknologi tersebut diposisikan sebagai pendorong utama efisiensi sekaligus bagian dari perombakan struktur kerja yang lebih luas.

Pemangkasan terbesar menyasar fungsi korporasi

Bank tersebut menargetkan pengurangan sekitar 15% posisi di fungsi korporasi hingga 2030. Berdasarkan perhitungan Reuters, angka itu setara dengan lebih dari 7.000 PHK dari total sekitar 52.000 pegawai di divisi terkait.

Posisi yang paling terdampak disebut berasal dari pusat operasional back-office. Lokasinya mencakup Chennai, Bengaluru, Kuala Lumpur, dan Warsawa.

Pengurangan itu akan ditempuh lewat otomatisasi dan penerapan AI. Meski begitu, sebagian pegawai tetap berpeluang menjalani pelatihan ulang atau re-skilling agar bisa pindah ke peran lain.

CEO Standard Chartered, Bill Winters, menegaskan bahwa strategi ini tidak hanya bertujuan menekan biaya. Ia menyebut perusahaan akan mengganti human capital bernilai rendah dengan financial capital dan investment capital yang diarahkan ke teknologi.

Target bisnis tetap agresif di tengah perombakan

Di saat memangkas tenaga kerja, Standard Chartered tetap membidik pertumbuhan yang tinggi. Bank ini menargetkan return on tangible equity atau ROTE di atas 15% pada 2028, lalu naik menjadi sekitar 18% pada 2030.

Perusahaan juga mempercepat target penghimpunan dana baru bersih sebesar US$200 miliar menjadi 2028. Sebelumnya, target tersebut dipasang untuk 2029.

Arah bisnisnya juga ikut digeser ke segmen dengan margin lebih tinggi. Dua area yang menjadi sorotan adalah nasabah ritel kaya dan institusi keuangan.

AI mendorong perubahan di banyak bank besar

Langkah Standard Chartered muncul di tengah gelombang efisiensi yang juga menyentuh bank-bank global lain. Banyak perusahaan mulai melihat AI sebagai cara untuk merapikan proses rutin, memangkas biaya, dan membangun model kerja baru yang lebih otomatis.

Sektor perbankan termasuk yang paling cepat terdorong beradaptasi karena operasinya sangat bergantung pada data, proses berulang, dan layanan digital. Di Jepang, Mizuho Financial Group sebelumnya juga mengumumkan rencana pengurangan hingga 5.000 pekerjaan dalam satu dekade.

Di saat yang sama, bank-bank besar berlomba mengintegrasikan model AI terbaru. Mereka juga harus menghadapi ancaman siber yang semakin meningkat seiring digitalisasi yang makin dalam.

Risiko geopolitik masih menjadi bayangan

Meski strategi efisiensi terus digenjot, Standard Chartered masih menghadapi tekanan dari luar bisnis inti. Bank yang fokus di kawasan Asia Pasifik dan Afrika itu mengakui konflik Timur Tengah menjadi salah satu risiko utama bagi prospek usahanya.

Pada kuartal pertama tahun ini, Standard Chartered sudah menyisihkan provisi kehati-hatian sebesar US$190 juta terkait konflik di Timur Tengah. Winters tetap menilai banknya tangguh saat ditanya soal dampak risiko geopolitik dan pasar terhadap kemampuan perusahaan mencapai target bisnisnya.

Source: www.cnbcindonesia.com
Berita Terbaru