Starship milik SpaceX berhasil kembali menembus ruang angkasa setelah lebih dari tujuh bulan tanpa penerbangan, tetapi ujian kali ini tetap meninggalkan satu celah besar. Roket raksasa itu memperlihatkan kemajuan penting di beberapa tahap awal, namun bagian yang paling menentukan untuk operasi berulang masih belum berjalan mulus.
Justru di titik itulah nilai uji terbang terbaru ini terasa besar. SpaceX dan NASA sama-sama menempatkan Starship di jalur masa depan yang sangat penting, mulai dari pengiriman satelit Starlink hingga misi pendaratan manusia di Bulan lewat Artemis.
Penerbangan Starship V3 dimulai dari fasilitas Starbase SpaceX dekat Boca Chica, Texas, pada pukul 5:30 sore waktu Central. Tahap pertamanya menghasilkan dorongan 18 juta pon dari 33 mesin Raptor 3 berbahan bakar metana, dua mesin lebih banyak dibanding booster Starship V1 dan V2.
Salah satu dari 33 mesin itu mati sekitar 1 menit 40 detik setelah lepas landas. Meski begitu, booster tetap melanjutkan bagian awal misi dan tahap kedua memulai prosedur hotstage, ketika enam mesin Raptor di tahap atas menyala tepat sebelum booster terlepas.
Pada fase ini, SpaceX mencatat kemajuan yang jelas. Pemisahan tahap berjalan, kendaraan utama tetap stabil, dan alur penerbangan awal sesuai dengan yang direncanakan.
Bagian paling krusial justru gagal
Masalah muncul saat tahap pertama seharusnya menyalakan ulang mesinnya untuk mengendalikan penurunan. Rencana pendaratan di Teluk Meksiko pun batal, dan SpaceX memilih tidak mencoba membawa booster kembali ke menara peluncuran karena desain baru ini masih harus dijalankan dengan hati-hati.
Dan Huot, komentator SpaceX, menyebut dalam siaran langsung perusahaan bahwa tampaknya terjadi “early boostback shutdown”. Tanpa pendaratan bertenaga, booster menghantam air dengan keras.
Kegagalan itu menjadi sorotan karena kontrol turun adalah bagian yang menentukan apakah Starship bisa dipakai ulang secara aman. Selama kemampuan ini belum andal, SpaceX belum bisa menganggap tahap pertama siap untuk operasi yang lebih ambisius.
Tahap atas justru tampil meyakinkan
Di sisi lain, tahap atas Starship berhasil menyelesaikan tugas utamanya di ruang angkasa. Pintu kargonya terbuka untuk melepaskan 20 simulator satelit Starlink, lalu dua wahana uji yang lebih besar dan dilengkapi kamera juga ikut dikeluarkan untuk merekam bagian luar tahap tersebut.
Setelah itu, tahap atas kembali masuk atmosfer Bumi melalui lintasan yang sangat panas dan ekstrem. Struktur kendaraan tetap utuh, lalu ia melakukan serangkaian manuver di atas Samudra Hindia sebelum dua mesinnya menyala lagi untuk membantu pendaratan ke laut dengan posisi mesin menghadap bawah.
Akhirnya, kendaraan yang tampak hangus itu sempat berdiri di atas ombak sebelum tumbang dan meledak. Ledakan tersebut memunculkan awan jamur berwarna jingga terang di langit.
SpaceX sendiri tidak selalu menuntut uji semacam ini berakhir mulus. Perusahaan sudah berhasil mendaratkan lebih dari 600 tahap pertama Falcon 9, tetapi tahap yang kembali dengan sisa propelan tetap berisiko meledak jika jatuh miring.
Orbit dan deorbit masih jadi pekerjaan rumah
Salah satu kegagalan paling penting dari penerbangan ini terjadi di jalur menuju orbit. Saat mesin tahap pertama bermasalah, SpaceX membatalkan rencana menyalakan ulang satu Raptor di ruang angkasa, padahal langkah itu merupakan syarat penting untuk penerbangan orbital Starship.
SpaceX juga perlu memastikan tahap atas bisa melakukan deorbit dengan aman. Tanpa kemampuan itu, Starship belum siap dipakai untuk misi orbital penuh seperti yang diincar perusahaan.
Karena itu, uji ini lebih tepat disebut cukup berhasil daripada kemenangan total. Starship menunjukkan kemajuan pada pemisahan tahap, manuver masuk kembali, dan pelepasan muatan simulasi, tetapi bagian yang paling menentukan untuk operasi orbit masih belum tuntas.
Tekanan dari bisnis dan misi Bulan ikut membesar
Peluncuran ini datang setelah percobaan Kamis dibatalkan usai lima penundaan terakhir karena masalah pin yang macet di menara peluncuran. Di saat yang sama, tekanan terhadap SpaceX juga meningkat karena perusahaan sedang menyiapkan penawaran publik perdana.
Dokumen perusahaan menyebut Starship sangat penting bagi masa depan bisnisnya. SpaceX berharap Starship mulai mengirim muatan ke orbit pada paruh kedua 2026, dan satu peluncuran ditargetkan mampu membawa hingga 60 satelit V3 ke orbit rendah Bumi.
Perusahaan juga menyebut kapasitas downlink Starlink berpotensi naik hingga dua puluh kali dibanding satu peluncuran Falcon 9. Di pihak lain, NASA punya kepentingan besar karena badan antariksa itu memberi SpaceX kontrak senilai $2,89 miliar pada 2021, lalu direvisi menjadi $4 miliar, dengan $2,8 miliar telah dibayarkan, untuk mengembangkan tahap atas Starship sebagai pendarat bulan berawak bagi misi Artemis.
Persaingan di jalur itu juga makin ketat setelah NASA memberi Blue Origin kontrak $3,4 miliar untuk mengembangkan pendaratnya sendiri. NASA kini menargetkan misi Artemis III di orbit rendah Bumi pada 2027, sehingga setiap kemajuan Starship langsung ikut memengaruhi peta jalan menuju Bulan.
Jared Isaacman, Administrator NASA yang juga pernah dua kali terbang ke luar angkasa dengan kapsul SpaceX Dragon, hadir di Texas dan memberi dukungan langsung. Ia mengatakan, “We’re looking forward to seeing this thing fly,” lalu menulis di X: “One step closer to the Moon…one step closer to Mars.”
