Stok Mobil Listrik Menipis Di Banyak Showroom, Biaya Bensin Yang Melonjak Mengubah Arah Pembelian

Author: Redaksi Android62

Permintaan mobil listrik melonjak di banyak pasar ketika harga bensin dan solar bergejolak. Kondisi itu membuat mobil listrik dipandang sebagai pilihan yang lebih mudah dikendalikan dari sisi biaya harian, sehingga sejumlah showroom bahkan mulai kekurangan stok.

Dorongan utamanya datang dari kekhawatiran konsumen terhadap pengeluaran transportasi yang terus berubah. Di berbagai tempat, pembeli tidak lagi hanya menimbang teknologi baru, tetapi juga mencari kendaraan yang bisa membantu menekan biaya operasional dalam jangka pendek maupun menengah.

Di Australia, efeknya terasa cukup jelas pada pasar mobil listrik bekas. Rosco Jewell dari Amazing EV di Sydney mengatakan pasokan mobil listrik bekas dengan harga terjangkau kini semakin sulit ditemukan.

Jewell menuturkan, sebelumnya penjualan mobil listrik bekas di tokonya hanya sekitar satu unit setiap dua bulan. Setelah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu gejolak energi, penjualannya melonjak menjadi sekitar satu unit setiap dua minggu.

Ia juga melihat pergerakan harga di pasar bekas. Mobil listrik bekas di kisaran $20.000 hingga $50.000 kini lebih sulit dicari, sementara harganya naik 10 hingga 15 persen dan dalam beberapa kasus mencapai 20 persen.

Tekanan serupa muncul di showroom mobil listrik baru. Kevin Alberica, manajer operasional dan pengadaan Evolve Motors di Melbourne, mengatakan salah satu stafnya pernah menjual tujuh Tesla hanya dalam satu hari Sabtu.

“ Saya belum pernah melihat banyak orang mengantre untuk satu mobil,” kata Alberica kepada Al Jazeera. Ia juga menyebut dealer yang sebelumnya menyimpan lebih dari 100 Tesla kini hampir tidak memiliki stok tersisa.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa mobil listrik mulai dilihat sebagai jawaban praktis atas ketidakpastian harga bahan bakar. Saat biaya bensin dan solar bergerak naik-turun, konsumen mencari kendaraan yang lebih mudah diperkirakan pengeluarannya.

David Smitherman, CEO EVDirect yang mendistribusikan BYD di Sydney, mengatakan pembeli datang dengan kekhawatiran yang sangat jelas soal biaya bahan bakar. Menurut dia, mereka ingin kebutuhan mobil harian tetap bisa diatur tanpa membuat pengeluaran membengkak.

Di tengah situasi itu, merek-merek populer ikut mendorong antrean pembelian. BYD dari China dan Tesla dari Amerika Serikat menjadi dua nama yang paling banyak menarik minat, sementara Vinfast dari Vietnam menambah pilihan di pasar.

Peningkatan permintaan juga terlihat di sejumlah negara lain. Di China, produsen melaporkan kenaikan penjualan bulanan sebesar 82,6 persen pada bulan Maret, menurut Asosiasi Dealer Otomotif Tiongkok.

Di Amerika Serikat, penjualan mobil listrik bulan lalu mencapai lebih dari 82.000 unit. Angka itu memang turun seperempat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, tetapi masih naik lebih dari 20 persen dibandingkan bulan Februari, menurut Cox Automotive.

Vietnam menunjukkan tren yang kuat lewat Vinfast, yang melaporkan penjualan naik 127 persen dibandingkan tahun sebelumnya pada bulan Maret. Di Jepang, penjualan mobil listrik hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, sementara Korea Selatan mencatat lonjakan pembelian domestik sebesar 172 persen.

Pasar Eropa juga ikut bergerak. Prancis membukukan kenaikan tiga kali lipat dalam pendaftaran baru mobil Tesla, sedangkan Norwegia, Swedia, dan Denmark juga melaporkan kenaikan pendaftaran baru untuk merek tersebut.

Australia tidak ketinggalan mencatat peningkatan. Menurut Kamar Industri Otomotif Federal, kendaraan listrik baterai menyumbang 14,6 persen dari total penjualan kendaraan pada bulan Maret, hampir dua kali lipat dari proporsi pada bulan yang sama di tahun sebelumnya.

Analis energi dari Ember, Euan Graham, menilai konflik di Iran ikut mempercepat adopsi kendaraan listrik, terutama di pasar negara berkembang termasuk Asia Tenggara. Ia mengaitkan lonjakan ini dengan pola yang pernah muncul setelah guncangan energi sebelumnya.

Menurut Graham, negara-negara biasanya mencari alternatif ketika bahan bakar fosil mengalami tekanan. Dalam situasi saat ini, kendaraan listrik dinilai makin kompetitif dan lebih mudah diterima konsumen.

Di lapangan, tanda-tanda percepatan itu terlihat dari showroom yang kesulitan mengisi ulang stok ketika permintaan tetap tinggi. Selama kekhawatiran terhadap harga bahan bakar belum mereda, mobil listrik tampaknya akan terus berada di daftar buruan utama pembeli di banyak pasar otomotif global.

Berita Terbaru