Nissan mulai menahan distribusi oli genuine 0W-20 dan 5W-30 ketika stok di jaringan dealer menipis. Dalam kondisi ini, hanya lima jenis pekerjaan layanan yang mendapat prioritas paling depan untuk memakai pelumas tersebut.
Instruksi itu membuat servis rutin tidak lagi otomatis mendapat oli buatan pabrikan. Dealer harus lebih selektif karena persediaan yang ada kini dipusatkan untuk kebutuhan yang dianggap paling mendesak.
Dalam buletin layanan yang dikutip Automotive News, Nissan meminta agar sisa stok Nissan Genuine 0W-20 dan 5W-30 dipakai terlebih dahulu untuk warranty, extended warranty, recall, goodwill, dan prepaid maintenance. Lima kelompok itulah yang kini diprioritaskan saat pasokan terbatas.
Stok turun cukup jauh
Langkah pembatasan ini muncul setelah pasokan ke dealer ikut menyusut. Automotive News melaporkan bahwa pengiriman 5W-30 kini berada di level 70% dibandingkan yang diterima tahun lalu, sementara 0W-20 turun menjadi 55%.
Penurunan itu membuat jaringan dealer tidak bisa lagi membagi oli secara merata ke semua pekerjaan servis. Akibatnya, mobil yang datang untuk perawatan berkala biasa bisa saja tidak mendapatkan oli genuine Nissan jika stok sedang tidak mencukupi.
Servis rutin terancam memakai opsi lain
Saat pelumas khusus pabrikan tidak tersedia, dealer dapat terpaksa memakai alternatif yang ada. Kondisi ini penting karena oli yang dibatasi bukan pelumas generik, melainkan varian yang diformulasikan sesuai spesifikasi Nissan.
Bagi pemilik mobil, dampaknya paling mudah dirasakan ketika jadwal servis tiba. Pilihan oli yang dipasang di bengkel dealer kini sangat bergantung pada status pekerjaan servis dan sisa stok yang tersedia.
Masalah ini juga menunjukkan bahwa gangguan pasokan tidak lagi berhenti di level internal pabrikan. Kini, penyesuaian harus dilakukan langsung di meja servis agar layanan tetap berjalan di tengah suplai yang ketat.
Tekanan pasokan juga dirasakan merek lain
Situasi serupa disebut terjadi di Toyota. Pabrikan itu memperingatkan dealer soal kemungkinan kekurangan oli 0W-8 dan 0W-16 dari ExxonMobil, lalu mendorong penggunaan “motor oil substitutions”.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa tekanan pasokan pelumas tidak hanya dirasakan Nissan. Jaringan penjualan dan servis di berbagai merek sama-sama harus menyesuaikan cara kerja harian agar layanan tetap bisa diberikan.
Akar masalah ada di bahan baku
Gangguan paling besar datang dari rantai pasok Group III base oils, bahan dasar penting untuk oli sintetis dan pelumas lain. Meski Amerika Serikat merupakan eksportir minyak besar, negara itu tetap mengimpor hampir setengah dari Group III base oils yang dipakai industri pelumas.
Ketergantungan itu membuat pasar rentan ketika pasokan dasar terganggu. Independent Lubricant Manufacturers Association bahkan memperkirakan Amerika akan “run out of Group III base oils from the Gulf region by June”.
Kelompok tersebut juga menilai kelangkaan motor oil bisa berlangsung sampai pertengahan 2027. Dalam pandangan mereka, kondisi ini bahkan dapat mengancam produksi kendaraan baru bila pasokan tidak segera membaik.
Harga ikut terdorong naik
Pasokan yang makin ketat biasanya datang bersama biaya yang lebih tinggi. Petra Automotive Products CEO Arnold Gacita menggambarkan situasi itu dengan kalimat, “We’re all grabbing it and we’re all paying stupid prices … to have it.”
Tekanan harga seperti ini dapat merambat dari distributor ke dealer lalu ke konsumen. Pada akhirnya, biaya servis dan harga pelumas berpotensi naik ketika barang yang dicari semakin sulit didapat.
