Strategy Inc. menemukan cara baru untuk menjaga pembelian Bitcoin tetap berjalan meski tekanan pasar sempat mengguncang saham dan valuasinya. Bukan lagi hanya mengandalkan saham biasa, perusahaan itu kini memakai instrumen hibrida yang memberi ruang pendanaan tambahan saat model lama mulai kehilangan daya ungkit.
Langkah ini membuat strategi akumulasi Bitcoin milik Michael Saylor tetap aktif di saat banyak pihak mempertanyakan ketahanannya. Strategi yang dulu bertumpu pada selisih harga saham dan Bitcoin kini bergeser ke sumber modal lain yang lebih fleksibel.
Pendanaan baru di tengah tekanan pasar
Perusahaan yang dulu bernama MicroStrategy itu memanfaatkan perpetual preferred shares untuk membiayai gelombang pembelian Bitcoin terbaru. Sekuritas hibrida ini membayar dividen dan mulai dijual tahun lalu, lalu menjadi tumpuan penting saat pasar kripto dan saham perusahaan sempat bergejolak.
Pola itu muncul ketika harga Bitcoin sempat terpangkas separuh pada 5 Februari. Pada saat yang sama, saham biasa Strategy yang selama ini dipakai untuk mendanai sebagian pembelian token turun lebih dalam, sebelum perusahaan mengumumkan rugi $12,4 miliar pada sore harinya.
Tekanan belum mereda pada kuartal berikutnya. Tiga bulan kemudian, Strategy melaporkan rugi $12,5 miliar pada kuartal pertama setelah menurunkan nilai kepemilikan sekitar $67 miliar.
Respons pasar tidak seburuk yang dikhawatirkan
Meski angka kerugian besar sempat menekan sentimen, respons investor relatif tenang. Bitcoin pulih dari titik terendahnya ke level $80.000, sementara saham perusahaan ikut menguat.
Pemulihan itu juga didorong oleh pemakaian instrumen baru yang memberi ruang bagi Strategy untuk terus membeli aset digital. Perusahaan disebut membeli lebih dari $4 miliar Bitcoin pada April, sehingga posisinya tetap besar di tengah gejolak pasar, termasuk saat ketegangan akibat konflik militer di Timur Tengah ikut membayangi pasar.
Produk berimbal hasil tinggi untuk investor ritel
Yang menarik, instrumen seperti perpetual preferred shares biasanya lebih akrab dipakai bank, utilitas, dan perusahaan properti untuk memenuhi persyaratan modal regulasi. Strategy justru memasarkan Stretch preferred kepada investor ritel melalui platform seperti Robinhood dan Charles Schwab.
Produk itu ditawarkan dengan imbal hasil yang diposisikan sebagai alternatif dana pasar uang. Michael Youngworth, kepala strategi convertibles dan preferred global di Bank of America, menilai produk tersebut menemukan pasarnya karena sebagian pembeli percaya pada “Bank of MicroStrategy”, walaupun risikonya tetap ada.
Model lama makin kehilangan tenaga
Dulu, Strategy bisa memanfaatkan premium antara harga saham dan Bitcoin untuk mengumpulkan modal lewat penjualan ekuitas. Cara itu berjalan mulus saat pasar kripto bullish, karena perusahaan dapat menggalang dana tanpa banyak dilusi.
Namun ketika saham biasa Strategy jatuh hampir 50% tahun lalu, selisih harga itu nyaris hilang. Di titik itu, para skeptis seperti short seller Jim Chanos mulai menjual sahamnya karena menilai strategi tersebut tidak lagi berkelanjutan.
Masalah utamanya sederhana: model akumulasi Bitcoin itu bergantung pada asumsi bahwa harga kripto terus naik dan menarik investor yang takut ketinggalan. Jika permintaan melemah, perusahaan bisa kesulitan membiayai pembelian tambahan, sehingga efek flywheel yang menopang strategi tersebut ikut tertekan.
Saylor tetap bertahan, tetapi opsi jual mulai dibuka
Dalam wawancara di konferensi Bitcoin 2026 di Las Vegas, Saylor menegaskan bahwa pembiayaan pembelian itu tidak berasal dari arus kas operasional bisnis. Ia menyebut perusahaan mendanainya sebagai investasi modal dan mempertanyakan apakah investor bersedia menerima imbal hasil 11,5% dari investasi itu dalam jangka waktu tertentu.
Di saat yang sama, Strategy mulai lebih terbuka terhadap skenario yang dulu jarang dibahas. Chief Executive Officer Phong Le mengatakan perusahaan akan mempertimbangkan penjualan Bitcoin untuk membeli dolar AS atau melunasi utang jika langkah itu menambah nilai Bitcoin per saham.
Le juga menegaskan perusahaan tidak menutup kemungkinan menjual seluruh kepemilikan Bitcoin. Namun arah utamanya tetap sama, yaitu menjadi pengakumulasi bersih Bitcoin yang terus menambah total kepemilikan.
Strategy memang pernah menjual sebagian Bitcoin pada 2022 untuk memanfaatkan keuntungan pajak dari pembelian sebelumnya. Setelah penutupan perdagangan, saham perusahaan tercatat turun 4,3% pada 7.55 p.m. di New York.







