Kabar paling berat untuk lini Google TV bermerek Thomson datang dari kondisi internal StreamView yang kini berujung pada pengajuan kebangkrutan. Perusahaan di balik perangkat tersebut menanggung utang sebesar €36.6 million, dan situasi ini membuat masa depan produk Thomson di pasar streaming ikut berada dalam tanda tanya besar.
Informasi mengenai insolvency itu pertama kali dilaporkan oleh AV Caesar, lalu dikonfirmasi oleh Alpine Creditor’s Association di Austria. Dari sana terlihat bahwa masalah StreamView bukan sekadar tekanan bisnis biasa, melainkan krisis finansial yang sudah sangat dalam dan sulit dibalikkan.
Sumber masalah dan runtuhnya fondasi bisnis
Menurut penjelasan Alpine Creditor’s Association, persoalan utama StreamView bermula dari runtuhnya kerja sama dengan pemasok utama sekaligus mitra pendanaan dari China. Kejatuhan hubungan itu langsung mengguncang fondasi bisnis perusahaan yang selama ini bergantung pada penjualan TV dan perangkat streaming dengan merek lisensi.
Asosiasi tersebut juga menyebut bahwa pembicaraan dengan calon investor potensial tidak menghasilkan titik terang. Bahkan, tidak ada rencana untuk melanjutkan operasional bisnis, sehingga peluang pemulihan perusahaan terlihat sangat kecil.
Dalam pasar perangkat streaming yang bergerak cepat, kehilangan sokongan pemasok dan pendanaan biasanya berdampak langsung pada kemampuan perusahaan menjaga rantai pasok. Kondisi itu juga mempersulit peluncuran produk baru, terutama bagi perusahaan yang tidak memiliki ruang keuangan yang cukup luas.
Thomson sempat menjadi opsi yang cukup menonjol
Sebelum kabar kebangkrutan mencuat, Thomson sempat dikenal sebagai salah satu nama yang memberi warna di pasar Android TV dan Google TV box. Kehadirannya menarik perhatian karena menawarkan variasi bentuk produk yang cukup beragam, mulai dari streaming stick hingga set-top box.
Di tengah pasar yang ramai oleh perangkat streaming dari berbagai merek, pendekatan itu membuat Thomson punya posisi tersendiri. Produk-produk tersebut dibidik untuk pengguna yang mencari alternatif selain perangkat arus utama yang sudah lebih dulu dikenal luas.
Sebelumnya, StreamView juga lebih dulu memasarkan TV dan TV box dengan merek Nokia. Pergantian ke Thomson disebut terjadi pada 2024, lalu deretan produk Google TV bermerek ini mulai beredar di berbagai negara Eropa.
Salah satu perangkat yang sempat menonjol adalah Thomson Streaming Box Plus 270. Perangkat itu disebut sebagai versi rebrand dari Walmart Onn 4K Pro box, sehingga menambah kesan bahwa StreamView ingin masuk lewat produk yang sudah familiar di pasar.
Selain itu, ada pula seri Thomson Go Cast yang memakai bentuk dongle. Desainnya mengingatkan pada Chromecast with Google TV, sehingga menarik bagi pengguna yang menyukai perangkat ringkas dan praktis untuk kebutuhan streaming.
Perangkat baru yang kini ikut terancam
Di tengah kabar buruk itu, StreamView sebenarnya masih menyiapkan perangkat bernama Streaming Box 260 Pro. Produk ini diposisikan sebagai calon pesaing Google TV Streamer dan sempat memunculkan ekspektasi adanya pilihan baru di kelas perangkat streaming.
Spesifikasi yang beredar menunjukkan perangkat tersebut punya bekal yang cukup menarik. Streaming Box 260 Pro disebut memakai prosesor Amlogic 905X5M-B, RAM 4GB, penyimpanan 64GB, serta dua port USB-A.
Kombinasi itu membuat perangkat tersebut terlihat berpotensi bagi pengguna yang membutuhkan box dengan konektivitas lebih fleksibel. Namun, dengan kondisi finansial StreamView yang sudah masuk fase kebangkrutan, peluang perangkat itu benar-benar meluncur ke pasar menjadi sangat kecil.
Android Authority menilai kemungkinan perangkat tersebut masuk pasar tampak rendah setelah pengajuan kebangkrutan terungkap. Artinya, salah satu kandidat alternatif yang bisa saja menantang Google TV Streamer kemungkinan besar tidak akan sampai ke tangan konsumen.
Dampaknya bagi pasar perangkat streaming
Mundurnya StreamView berpotensi mengurangi pilihan di pasar perangkat streaming, terutama di Eropa. Selama ini, segmen tersebut berkembang karena kehadiran banyak merek yang menawarkan desain, fitur, dan harga berbeda untuk kebutuhan pengguna yang juga beragam.
Thomson menjadi salah satu nama yang ikut mengisi ruang di antara produk resmi Google dan perangkat dari vendor lain. Kehilangannya bisa terasa bagi pengguna yang selama ini mencari perangkat Google TV dengan format tertentu, spesifikasi khusus, atau opsi yang tidak selalu tersedia di lini produk utama.
Kondisi ini juga terasa kontras dengan kabar perpanjangan lisensi merek Thomson yang sebelumnya diumumkan. Established Inc, selaku pemilik merek Thomson dan StreamView, sempat menyebut kerja sama lisensi diperpanjang hingga 2040.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa masalah StreamView berkembang sangat cepat atau memburuk dalam waktu singkat. Di satu sisi, lisensi merek masih berjalan panjang, tetapi di sisi lain, fondasi bisnis perusahaan yang mengelolanya justru runtuh dan membuat arah pengembangan perangkat Google TV bermerek Thomson semakin tidak pasti.
Android Authority menyebut telah meminta komentar kepada Established Inc terkait pengajuan kebangkrutan StreamView. Hingga laporan itu dimuat, perhatian masih tertuju pada nasib perangkat Thomson yang sudah beredar dan kemungkinan apakah merek ini masih bisa bertahan lewat mitra baru atau berhenti di jalur perangkat Google TV.
Source: www.androidauthority.com






