Subsidi Dipotong, Laju Motor Listrik Mulai Melambat Meski Sudah Menembus 236 Ribu Unit

Author: Redaksi Android62

Jumlah motor listrik di Indonesia memang sudah menembus 236.451 unit pada Februari 2026, tetapi laju pertumbuhannya tidak lagi setajam saat subsidi masih berjalan. Perubahan itu menandai bahwa pasar roda dua listrik masih bergerak, namun mulai merasakan dampak berakhirnya insentif pemerintah.

Peran motor listrik tetap besar dalam peta kendaraan listrik nasional. Dari total sekitar 358 ribu kendaraan listrik di Indonesia, sekitar 65 persen berasal dari roda dua, sementara sisanya terdiri dari mobil, bus, dan truk listrik.

Di tengah angka itu, motor bensin masih mendominasi jalanan Indonesia dengan jumlah sekitar 140 juta unit. Selisih yang sangat lebar ini membuat ruang pertumbuhan motor listrik masih terbuka luas, tetapi sekaligus menunjukkan bahwa dorongan kebijakan tetap dibutuhkan agar adopsinya tidak berjalan lambat.

Kepala BBSP KEBTKE Kementerian ESDM, Trois Dilisusendi, menegaskan bahwa sektor roda dua masih menjadi penyumbang terbesar dalam pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia. Ia menilai percepatan tetap penting karena skala motor bensin jauh lebih besar dibandingkan kendaraan listrik yang ada saat ini.

Lonjakan motor listrik sebelumnya sangat terbantu oleh subsidi pemerintah sebesar Rp 7 juta per unit yang berlaku pada periode 2022 hingga 2024. Insentif itu membuat pasar bergerak cepat dan mendorong transaksi penjualan tumbuh signifikan di pasar domestik.

Data Kementerian ESDM menunjukkan populasi motor listrik naik dari 3.357 unit pada 2020 menjadi 13.903 unit pada 2021. Setelah itu, jumlahnya terus melesat ke 31.101 unit pada 2022.

Kenaikan berlanjut lebih tajam pada 2023 ketika populasinya mencapai 93.510 unit. Pada 2024, jumlah tersebut kembali bertambah hingga 170.588 unit, lalu naik lagi menjadi 229.820 unit di akhir 2025.

Hingga Februari 2026, totalnya sudah mencapai 236.451 unit. Artinya, hampir 200 ribu unit tambahan masuk dalam kurun tiga tahun, yang menunjukkan betapa cepat pasar ini berkembang saat kebijakan insentif masih aktif.

Namun, laju itu mulai berubah setelah subsidi dihentikan pada akhir 2024. Volume transaksi yang sebelumnya mencapai 80 ribu unit pada periode 2023-2024 turun menjadi sekitar 50 ribu unit pada periode 2024-2025.

Pola tersebut memperlihatkan bahwa permintaan motor listrik belum hilang, tetapi kecepatannya menurun. Bagi pemerintah, kondisi ini menjadi tantangan baru untuk menjaga momentum agar pertumbuhan tidak hanya terlihat di data populasi, melainkan juga kuat di penggunaan nyata di jalan raya.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru