Ancaman campak di Kabupaten Serang semakin serius karena jumlah suspek terus bergerak naik dan sudah mendekati status kejadian luar biasa atau KLB. Hingga April, Dinas Kesehatan mencatat sekitar 500 suspek, dengan sebagian besar kasus ditemukan pada balita.
Dari jumlah tersebut, 10 kasus sudah dipastikan positif melalui pemeriksaan laboratorium. Temuan itu membuat kewaspadaan petugas kesehatan meningkat karena sebaran kasus tidak lagi terkonsentrasi di satu titik, melainkan muncul di hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Serang.
Penyebaran meluas ke banyak wilayah
Pola penularan yang terlihat di lapangan menunjukkan bahwa campak masih aktif berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain. Kondisi ini menjadi perhatian karena kasus baru terus ditemukan di kecamatan yang berbeda-beda, sehingga penelusuran kontak dan pemantauan warga harus dilakukan lebih cepat.
Salah satu wilayah yang menjadi sorotan adalah Kecamatan Kramatwatu. Lokasi ini berada di jalur perlintasan padat dan berdekatan dengan Kota Serang, sehingga mobilitas masyarakat ikut memperbesar risiko penularan. Data UPT Puskesmas Kramatwatu mencatat ada 77 suspek campak sejak awal Januari sampai pertengahan April.
Kramatwatu ikut menanggung beban kasus
Kasus di Kramatwatu tidak hanya menyerang balita. Anak-anak dan orang dewasa juga masuk dalam daftar suspek, menandakan penularan terjadi di lingkungan yang cukup luas.
Kepala UPT Puskesmas Kramatwatu, dr. Fenny Sunarsih, menyampaikan bahwa jumlah suspek di wilayahnya memang tergolong tinggi. Ia juga menjelaskan bahwa penanganan sudah mendapat dukungan lintas instansi untuk memperkuat respons di lapangan.
Balita menjadi kelompok paling rentan
Campak menular melalui percikan napas orang yang terinfeksi. Risiko penularan akan lebih besar di lingkungan padat penduduk, terutama jika cakupan imunisasi masih rendah.
Balita menjadi kelompok yang paling rentan karena daya tahan tubuh mereka belum sekuat orang dewasa. Jika imunisasi MR atau MMR belum lengkap, peluang tertular dan mengalami gejala berat akan semakin besar.
Gejala campak umumnya diawali demam tinggi. Setelah itu, ruam merah pada kulit biasanya muncul bersama batuk, pilek, dan pada beberapa kasus dapat disertai sesak napas.
Langkah penanganan di lapangan
Petugas kesehatan menjalankan sejumlah langkah untuk menahan laju penularan dan menemukan kasus lebih cepat. Upaya ini dilakukan melalui penelusuran aktif dan pengawasan di wilayah yang padat penduduk.
Berikut langkah yang diterapkan di lapangan:
- Imunisasi massal atau outbreak response immunization.
- Kampanye kejar imunisasi MR atau campak untuk anak yang belum lengkap.
- Surveilans kasus melalui posyandu di wilayah Kramatwatu.
- Pemantauan aktif balita di kawasan padat penduduk.
- Sosialisasi kepada warga agar segera memeriksakan anak yang bergejala.
Langkah tersebut ditempuh karena petugas menduga peningkatan kasus berkaitan dengan rendahnya cakupan imunisasi dasar lengkap. Gangguan layanan posyandu selama masa pandemi Covid-19 juga disebut ikut memengaruhi perlindungan anak.
Kehatian di tengah laporan kematian
Kekhawatiran terhadap campak di Banten bertambah setelah muncul laporan kematian akibat penyakit ini di beberapa daerah. Data yang beredar menyebutkan empat korban meninggal di Kabupaten Tangerang, satu di Kota Tangerang Selatan, dan satu di Kabupaten Serang.
Total enam kasus kematian itu membuat pengawasan di daerah dengan lonjakan suspek diperketat. Penanganan di lapangan juga melibatkan unsur kepolisian untuk membantu penyuluhan kepada masyarakat.
Kapolsek Kramatwatu Kompol Bai Ma’mun mengimbau warga agar segera mendapatkan vaksin campak agar penularan tidak semakin meluas. Petugas kini memusatkan perhatian pada wilayah padat penduduk dan keluarga dengan balita yang belum mendapat imunisasi lengkap, sementara pemeriksaan cepat dan pelaporan menjadi bagian penting dalam menahan penyebaran campak di Kabupaten Serang.
Source: www.beritasatu.com






