Tablet Rp1 Jutaan Kini Lebih Masuk Akal, Baterai Besar dan Layar Mulus Mulai Biasa

Author: Redaksi Android62

Di tengah persaingan tablet Android yang makin padat, pilihan paling menarik justru tidak selalu datang dari harga tertinggi. Di kisaran Rp1 jutaan hingga Rp2 jutaan, sudah ada tablet yang menawarkan layar 90Hz, baterai besar, dan dukungan SIM untuk kebutuhan harian yang lebih fleksibel.

Itu sebabnya tablet murah masih tetap layak dilirik, selama pembeli tahu kebutuhan utamanya. Untuk pemakaian ringan seperti menonton video, membuka aplikasi, atau dipakai anak sekolah, perangkat yang terlalu mahal sering kali tidak memberi manfaat tambahan yang sebanding.

Tablet murah kini jauh lebih masuk akal

Dulu, tablet di kelas bawah sering identik dengan layar biasa saja dan performa terbatas. Sekarang, persaingan membuat banyak model murah membawa kombinasi yang lebih serius, mulai dari layar cepat, baterai besar, sampai opsi konektivitas seluler.

Arah pilihannya juga semakin jelas. Jika tablet lebih sering dipakai di dalam rumah, varian Wi-Fi-only bisa menjadi opsi hemat, sedangkan model 4G atau 5G lebih relevan untuk pengguna yang sering membawa perangkat keluar rumah.

Pilihan awal yang menonjol di kelas Rp1 jutaan

Salah satu nama yang cukup menonjol di rentang Rp1,5 juta hingga Rp2 jutaan adalah Redmi Pad SE 4G. Tablet ini memakai layar 8,7 inci dengan refresh rate 90Hz, tingkat kecerahan hingga 600 nits, dan dukungan kartu SIM 4G.

Untuk dapur pacunya, perangkat ini mengandalkan MediaTek Helio G85. Kombinasi tersebut membuatnya cocok untuk pengguna yang mencari tablet ringkas, praktis, dan masih nyaman dipakai untuk kebutuhan dasar sehari-hari.

Di kelas harga yang sama, Realme Pad 2 Lite menawarkan pendekatan berbeda lewat layar yang lebih besar. Panel 10,95 inci beresolusi 2K dan kedalaman warna 10-bit membuatnya terasa lebih pas untuk hiburan, sementara baterai 8.300 mAh memberi bekal yang lebih tenang untuk dipakai seharian.

Realme juga membekalinya dengan Helio G99. Dengan susunan seperti ini, tablet tersebut terasa lebih siap untuk konsumsi konten dan tugas ringan dibanding banyak tablet murah lain di segmennya.

Naik kelas, paketnya makin lengkap

Bagi pengguna yang ingin performa dan fitur yang lebih seimbang, kisaran Rp3 juta hingga Rp4 jutaan mulai menawarkan pilihan yang jauh lebih serius. Poco Pad 5G menjadi salah satu yang paling agresif di segmen ini karena membawa layar 12,1 inci 2.5K, refresh rate 120Hz, panel 12-bit, dan Snapdragon 7s Gen 2.

Tablet ini juga hadir dengan RAM hingga 8GB. Skor AnTuTu-nya disebut menembus hampir 800 ribu poin, sementara baterai 10.000 mAh dan pengisian 33W membuatnya terlihat siap untuk multitasking dan game berat.

OnePlus Pad Lite mengambil jalur yang sedikit berbeda dengan menonjolkan kenyamanan penggunaan jangka panjang. Tablet ini dijanjikan mendapat pembaruan sistem operasi hingga 4 tahun, memakai Helio G99, dan membawa kualitas audio premium khas OnePlus.

Samsung Galaxy Tab A9+ juga masuk daftar yang menarik bagi pengguna yang memprioritaskan merek dan layanan purna jual. Tablet ini memakai MediaTek Dimensity 7300 dengan skor AnTuTu menembus 870 ribu poin, serta menawarkan fitur multitasking khas Samsung untuk kebutuhan produktivitas.

Kelas lebih tinggi mulai mendekati pengganti laptop

Jika kebutuhan sudah masuk ke arah kerja serius, editing video, atau gaming berat, kelas Rp4,5 juta hingga Rp5 jutaan ke atas mulai terasa lebih masuk akal. Redmi Pad Pro 2 hadir dengan Snapdragon 7s Gen 4 dan skor AnTuTu nyaris 1 juta poin, lalu dipadukan dengan layar 12,1 inci 2.5K dan dukungan Dolby Vision.

Tablet ini juga membawa fitur Hydro Touch agar layar tetap responsif saat jari basah atau berkeringat. Karakter seperti ini membuatnya lebih siap dipakai di skenario yang lebih menuntut dibanding tablet murah biasa.

Di level tertinggi, Xiaomi Pad 8 memimpin daftar dengan Snapdragon 8s Gen 4. Tablet ini mengusung layar 3.2K dengan refresh rate 144Hz, kecerahan hingga 800 nits, dan kemampuan mengedit video 4K dengan mulus.

Di titik ini, tablet Android mulai terasa seperti perangkat kerja yang bisa mengambil sebagian fungsi laptop. Karena itu, pilihan paling tepat tetap bergantung pada aktivitas utama, bukan sekadar mengejar angka spesifikasi yang paling tinggi.

Berita Terbaru