Tabungan Darurat Kian Rapuh, Warga AS Merasa Gaji Tak Mampu Mengejar Harga Naik

Author: Redaksi Android62

Bagi banyak keluarga di Amerika Serikat, rasa aman finansial kini terasa makin jauh. Survei CNN bersama SSRS menggambarkan situasi ketika warga tidak lagi mengejar kemajuan, melainkan berusaha supaya pengeluaran bulanan tetap tertutup.

Tekanan itu datang bersamaan dari harga kebutuhan yang terus naik dan pendapatan yang tidak bergerak secepat inflasi. Akibatnya, ruang gerak konsumen semakin sempit, dari belanja harian sampai keputusan untuk menyimpan uang.

Tabungan jadi pilihan, bukan pembelian besar

Salah satu sinyal paling jelas datang dari perilaku rumah tangga yang makin berhati-hati. Sebanyak 88% responden mengatakan menabung lebih tepat daripada membeli barang besar, menunjukkan banyak keluarga memilih menahan diri ketika anggaran terasa rapuh.

Sekitar satu dari tiga warga AS juga mengaku selalu khawatir pendapatan mereka tidak cukup untuk menutup pengeluaran rutin. Kekhawatiran itu membuat banyak orang memusatkan perhatian pada kebutuhan pokok dan menunda pembelian yang tidak mendesak.

Kondisi serupa terlihat pada pandangan mereka terhadap dana cadangan. Hanya sekitar 33% warga AS yang merasa sanggup menanggung biaya darurat sebesar US$1.000, atau sekitar Rp17 juta sesuai kutipan sumber.

Gaji tak lagi mengejar harga

Masalah biaya hidup menjadi semakin berat karena kenaikan upah tidak lagi mampu mengimbangi inflasi, terutama bagi warga berpenghasilan menengah dan rendah menurut data Bank of America. Tren upah yang sempat melampaui inflasi selama hampir tiga tahun disebut berhenti pada April.

Bagi banyak rumah tangga, kondisi itu langsung terasa saat membayar makanan, kebutuhan rumah tangga, dan tagihan bulanan. Meski penghasilan masuk, ruang anggaran yang tersedia tetap menyempit karena harga bergerak lebih cepat daripada gaji.

Tekanan tersebut juga tidak hanya dirasakan kelompok berpendapatan rendah. Di rumah tangga dengan penghasilan di atas US$150.000 per tahun, 57% responden mengatakan gaji mereka tetap tidak cukup untuk mengejar kenaikan harga barang dan jasa.

Bahan bakar dan resesi ikut menambah beban

Selain harga kebutuhan pokok, biaya bensin ikut menjadi sumber tekanan baru. Dalam survei CNN, 23% responden menyebut biaya bahan bakar sebagai masalah utama, naik tajam dari 5% pada tahun lalu.

Di saat yang sama, kekhawatiran terhadap resesi juga menguat. Tujuh dari 10 responden menilai resesi kemungkinan besar terjadi dalam satu tahun ke depan, meski sejumlah indikator makro sempat menunjukkan ekonomi AS masih tumbuh.

Perpaduan harga pangan dan energi yang tinggi membuat banyak keluarga harus menghitung ulang setiap pengeluaran sejak awal bulan. Pola belanja menjadi lebih ketat karena setiap pos anggaran kini terasa lebih berat dari sebelumnya.

Kepercayaan pada mobilitas ekonomi ikut melemah

Tekanan finansial itu juga memengaruhi cara warga memandang sistem ekonomi secara lebih luas. Tiga perempat warga AS menilai sistem yang ada tidak adil karena lebih menguntungkan kelompok berkepentingan besar.

Keyakinan bahwa kerja keras saja bisa membawa seseorang sukses juga melemah. Kurang dari separuh responden masih percaya pada gagasan tersebut, sementara sekitar 75% warga merasa sekarang jauh lebih sulit untuk maju dibandingkan generasi orangtua mereka.

Seorang responden dari Indiana menggambarkan situasi itu dengan kalimat, “Kami menghasilkan uang paling banyak yang pernah kami peroleh. Namun kami memiliki kebebasan finansial paling sedikit yang pernah kami alami karena kenaikan harga.”

Tekanan yang datang dari banyak arah

Kondisi ekonomi yang dirasakan warga AS tidak hanya dipengaruhi inflasi dan upah yang tertinggal. Persepsi negatif terhadap ekonomi juga dibayangi ketidakpastian global, termasuk dampak perang di Timur Tengah yang melibatkan AS.

Meski belanja konsumen sempat naik di awal konflik, inflasi yang terus berjalan dan pasar perumahan yang membeku membuat banyak orang sulit menyesuaikan diri dengan level harga baru. Kombinasi itu membuat banyak rumah tangga merasa berada dalam keadaan stagnan, dengan sedikit ruang untuk bernapas secara finansial.

Survei CNN melalui SSRS dilakukan pada 30 April hingga 4 Mei terhadap 1.499 orang dewasa di AS, dengan margin of error ±2,8 poin persentase. Gambarannya menunjukkan satu hal yang konsisten: banyak warga kini hidup dengan kewaspadaan tinggi, bukan dengan rasa aman.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terbaru