Tagihan AI Tembus Rs 75 Lakh, Game Sederhana Ini Bikin Startup San Francisco Kaget

Author: Redaksi Android62

Seorang karyawan startup fintech di San Francisco tanpa sengaja menghabiskan hampir Rs 75 lakh dalam tujuh hari hanya untuk membuat game online sederhana dengan bantuan AI. Tagihan itu menembus lebih dari $80.000 dan langsung menjadi sorotan karena berasal dari proyek sampingan yang tampak ringan.

Insiden tersebut terjadi di Slash, perusahaan yang memang mendorong karyawannya lebih sering melakukan “vibe coding”. Istilah ini biasa dipakai untuk menggambarkan pembuatan perangkat lunak secara cepat dengan bantuan alat AI.

Biaya yang membengkak dari proyek ringan

Game yang dibuat bernama “Brainrot Shooter” dan dikerjakan oleh Nicolas Brilliante. Slash kemudian menyinggung insiden itu lewat unggahan di X, dengan nada bercanda bahwa kredit AI senilai $80.000 di kartu Slash “dibakar” untuk proyek tersebut.

Brilliante ikut menjelaskan situasi itu di X dan membagikan tangkapan layar dashboard penggunaan AI miliknya. Dalam gambar itu, nilai layanan AI yang terpakai tercatat mencapai $81.267.

Game yang dibuat tergolong sederhana. Latar permainannya berada di dunia bergaya blok mirip Minecraft, dengan pemain diminta menembak karakter-karakter yang terinspirasi meme internet.

Beberapa karakter yang disebut antara lain “skibidi toilet” dan “tung tung tung sahur”. Brilliante menyebut kejadian itu sebagai kecelakaan yang sungguh terjadi dan mengaku telah meremehkan kemampuannya sendiri.

Ketika pembicaraan soal ini makin ramai, Brilliante kembali bereaksi di X. Ia menyebut situasinya “gila” dan mempertanyakan apakah dirinya akan menjadi studi kasus tentang bagaimana pengeluaran AI bisa lepas kendali.

Pengawasan biaya AI mulai diperketat

Kasus di Slash muncul saat banyak perusahaan mulai meninjau ulang pengeluaran untuk alat AI. Asisten coding berbasis AI memang menjanjikan pengembangan perangkat lunak yang lebih cepat, tetapi tagihannya juga dapat naik tajam jika model bertenaga tinggi dipakai terus-menerus.

Polymarket menggambarkan kejadian di Slash sebagai contoh bagaimana biaya coding berbasis AI bisa melonjak ketika penggunaan dibiarkan tanpa pengawasan ketat. Perhatian perusahaan kini tidak hanya tertuju pada kecanggihan alat, tetapi juga pada bukti bahwa lonjakan biaya sebanding dengan produktivitas yang dihasilkan.

Laporan terbaru yang dikutip dalam pembahasan ini juga menyebut sebuah perusahaan yang tidak disebutkan namanya diduga menghabiskan sekitar $500 juta dalam satu bulan untuk layanan Claude AI milik Anthropic. Hal itu terjadi setelah perusahaan tersebut gagal menetapkan batas pemakaian bagi karyawan.

Uber, Coinbase, dan Walmart mulai pasang rem

Sejumlah perusahaan besar dilaporkan mulai memperketat penggunaan AI di lingkungan kerja. Uber, Coinbase, dan Walmart termasuk di antara nama yang disebut telah menerapkan pembatasan penggunaan AI oleh karyawan.

Bloomberg melaporkan Uber baru-baru ini memberlakukan batas bulanan untuk alat coding AI. Langkah itu diambil setelah perusahaan tersebut dilaporkan menghabiskan anggaran tahunan AI hanya dalam beberapa bulan pertama tahun berjalan.

Walmart juga disebut memperketat kontrol penggunaan AI untuk menekan eksperimen coding yang tidak perlu dan tugas-tugas berulang yang dinilai tidak memberi nilai bisnis berarti. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa AI kini dipandang bukan hanya sebagai alat produktivitas, tetapi juga sebagai pos biaya yang perlu diawasi seperti infrastruktur teknologi lain.

Semakin luas adopsi AI di tempat kerja, semakin penting pula aturan tentang siapa yang boleh memakai model tertentu, untuk kebutuhan apa, dan sampai batas berapa. Kasus di Slash menjadi contoh nyata bahwa tanpa pembatasan yang jelas, bahkan game sederhana bertema meme internet bisa berubah menjadi tagihan puluhan ribu dolar dalam hitungan hari.

Source: www.indiatoday.in
Berita Terbaru