Setibanya di Jakarta, Dewi Perssik langsung meminta dua ekor sapi limosinnya disembelih. Meski sudah berusaha mengejar waktu, penyanyi itu tetap terlihat belum sepenuhnya tenang saat momen kurban yang sudah ia siapkan akhirnya berlangsung.
Keputusan itu menjadi penutup dari perjalanan yang cukup rumit. Di tengah padatnya agenda kerja di Kalimantan, Dewi harus berpindah dari satu moda transportasi ke moda lain agar bisa kembali ke Jakarta tanpa terlambat menyaksikan penyembelihan sapi kurbannya.
Sebelum pulang, Dewi lebih dulu berada di Kayong, Kalimantan Barat, untuk bekerja. Setelah itu, ia bergerak ke Pontianak, Ketapang, dan Kayong, sehingga jadwal kepulangannya semakin mepet dari target awal.
Situasi itulah yang membuatnya memilih cara yang tidak biasa. Dari perjalanan yang semula menggunakan pesawat, Dewi akhirnya memutuskan melanjutkannya dengan helikopter agar bisa tiba tepat waktu untuk urusan kurban.
“Akhirnya mau enggak mau, ya sudah deh naik helikopter,” ujarnya saat menjelaskan keputusan tersebut. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak ingin melewatkan proses penyembelihan hewan kurban yang sudah disiapkan lebih dulu.
Momen Lebaran kali ini juga disebut menjadi kesempatan langka bagi Dewi untuk bergerak ke banyak tempat sekaligus. Di tengah mobilitas itu, agenda kurban tetap menjadi prioritas yang harus dijaga.
Tidak hanya di Jakarta, Dewi Perssik juga menyalurkan kurban ke beberapa daerah. Total ada 12 sapi jumbo yang ditempatkan di antaranya di Jakarta, Jember, dan Malang.
Untuk Jakarta sendiri, Dewi berkurban dua sapi jumbo dengan bobot masing-masing 1,3 ton. Dari pihak peternak, ia juga mendapat dua ekor kambing sebagai bonus setelah membeli hewan dalam jumlah besar.
Saat proses penyembelihan berlangsung, Dewi tampak terus melantunkan takbir. Ia beberapa kali menutup mata karena tak sanggup melihat langsung sapi kurbannya disembelih, sementara warga sekitar ikut menyaksikan dari dekat.
Pilihan naik helikopter akhirnya membuat Dewi tetap bisa menjaga rencana Iduladha yang sudah ia susun. Di sisi lain, langkah itu juga memperlihatkan betapa besar perhatiannya terhadap momen kurban, meski harus menempuh perjalanan yang jauh lebih rumit dari biasanya.
