Tambang Indonesia Makin Beralih Ke Luar Negeri, Aset Dolar Jadi Penahan Tekanan Domestik

Author: Redaksi Android62

Perburuan aset mineral di luar negeri kini menjadi salah satu arah paling agresif bagi emiten tambang Indonesia. Targetnya bukan lagi sekadar perluasan portofolio, tetapi juga aset yang bisa menjaga nilai ketika rupiah melemah terhadap dolar AS.

Pergeseran ini terlihat mengarah ke sejumlah negara seperti Australia, Papua Nugini, Kanada, hingga Arab Saudi. Di saat yang sama, mineral kritis tetap menjadi incaran karena permintaannya masih kuat seiring transisi energi.

Regulasi domestik membuat ekspansi dalam negeri kurang menarik

Achmad Yaki, Head Online Trading BCA Sekuritas, menilai tekanan regulasi di dalam negeri ikut mendorong emiten tambang lebih berani keluar. Hambatan administratif di tingkat kementerian dinilainya menambah ketidakpastian bagi pelaku usaha.

Salah satu yang paling disorot adalah perubahan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya atau RKAB dari tiga tahunan menjadi tahunan pada tahun ini. Perubahan itu dianggap dapat mengganggu proyeksi operasional dan membuat perusahaan lebih berhati-hati saat menyusun ekspansi di Indonesia.

Ketidakjelasan persetujuan volume produksi tahunan juga ikut menekan keyakinan emiten. Dalam situasi seperti itu, aset luar negeri yang dianggap lebih pasti menjadi pilihan yang lebih menarik.

Diversifikasi dan lindung nilai ikut memperkuat dorongan akuisisi

Selain urusan perizinan, banyak emiten besar juga ingin mengurangi ketergantungan pada batu bara. PT Bumi Resources Tbk atau BUMI menjadi salah satu contoh yang mendorong diversifikasi ke emas, tembaga, dan bauksit untuk menjaga stabilitas bisnis jangka panjang.

Achmad juga menilai pembelian aset di luar negeri berfungsi sebagai lindung nilai. Aset berdenominasi dolar dianggap lebih aman untuk menjaga nilai aset dan pendapatan perusahaan ketika rupiah melemah.

Di sisi lain, investasi luar negeri dinilai bisa dieksekusi lebih cepat. Perusahaan cenderung memilih tambang yang sudah beroperasi ketimbang membangun proyek baru dari nol atau greenfield.

Kepastian regulasi jadi daya tarik utama

Abida Massi Armand, Fundamental Analyst BRI Danareksa Sekuritas, melihat kepastian regulasi di luar negeri sebagai magnet tersendiri. Menurut dia, kompleksitas perizinan domestik dan kebutuhan diversifikasi ke mineral kritis membuat ekspansi lintas negara semakin relevan.

Abida menilai pelemahan rupiah bukan pendorong utama, tetapi tetap memberi insentif tambahan. Aset yang berdenominasi dolar menjadi relatif lebih kuat sehingga akuisisi internasional terlihat makin menarik.

BRIDS memproyeksikan aktivitas akuisisi seperti ini akan terus meningkat hingga akhir tahun 2026. Emiten dengan kondisi keuangan sehat diperkirakan menjadi pemain paling aktif dalam perburuan aset di pasar internasional.

Nama-nama emiten yang masuk radar ekspansi

BUMI disebut menjadi salah satu emiten paling agresif dengan pipeline Loyal Metals, Wolfram, Jubilee, dan Laman Mining. Di sisi lain, UNTR masih memantau aset di Australia Barat dan Queensland.

Data transaksi sepanjang tahun berjalan menunjukkan ekspansi itu sudah bergerak dengan skala yang tidak kecil. BUMI membidik Loyal Metals Ltd di Australia dengan nilai sekitar US$79 juta.

PT Petrosea Tbk atau PTRO juga melakukan akuisisi HBS (PNG) Limited di Papua Nugini senilai US$25,76 juta. Sementara itu, PT Delta Dunia Makmur Tbk atau DOID masuk daftar dengan target Dawson Complex di Australia senilai US$455 juta.

PT Aneka Tambang Tbk atau ANTM juga tengah mengevaluasi potensi lokasi di Arab Saudi. Untuk rencana di Timur Tengah itu, ANTAM masih menjaga jarak dan belum tergesa mengambil langkah lanjutan.

Sekretaris Perusahaan ANTAM menegaskan perusahaan tetap mengedepankan kehati-hatian, tata kelola yang baik, serta penilaian atas risiko dan nilai tambah. Fokus utamanya masih memperkuat basis sumber daya emas lewat optimalisasi aset eksisting, penjajakan sumber daya baru, dan penguatan rantai pasok.

Di tengah kompetisi mencari aset mineral berkualitas, emiten tambang Indonesia tampak makin aktif menata portofolio. Selama harga mineral kritis tetap tinggi dan cadangan domestik terus menyusut, perburuan aset di luar negeri diperkirakan masih berlanjut.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru