Tangan Robot China Dinilai 100 Kali Lebih Sulit Dibuat daripada Humanoid

Pengembangan tangan robot menjadi salah satu medan paling sulit dalam perlombaan robot humanoid China. Zhou Yong, pendiri LinkerBot, menilai pembuatan tangan robot bahkan “100 kali lebih sulit” dibanding membangun robot humanoid.

Penilaian tersebut menegaskan bahwa robot yang dapat berjalan, berlari, atau menari belum tentu siap menangani pekerjaan sehari-hari. Kegunaan robot di dunia nyata sangat ditentukan oleh kemampuannya memegang dan memanipulasi benda secara aman serta presisi.

Nilai Industri Melonjak Tajam

Meski tantangannya besar, China terus mempercepat pengembangan dextrous hand, yaitu tangan robot yang dirancang memiliki ketangkasan menyerupai manusia. Perhatian industri terhadap teknologi ini terlihat dari kenaikan nilai pasar dan jumlah perusahaan robotika.

Indikator20242025
Nilai industri dextrous hand13 miliar yuanLebih dari 50 miliar yuan
Perusahaan robotika terdaftarBasis tahun sebelumnyaMeningkat sekitar 40 persen

Nilai industri tangan robot lincah di China dilaporkan naik dari 13 miliar yuan pada 2024 menjadi lebih dari 50 miliar yuan pada 2025. Pada periode yang sama, jumlah perusahaan robotika terdaftar juga meningkat sekitar 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Lonjakan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan tangan robot dipandang sebagai bagian penting dari masa depan otomasi. Teknologi ini dibutuhkan agar mesin dapat bekerja pada lingkungan yang penuh benda dengan bentuk, bahan, dan tingkat kerapuhan berbeda.

Menggenggam Saja Belum Cukup

Tantangan utama bukan sekadar membuat jari robot menutup dan menggenggam objek. Sistem harus mampu mengatur kekuatan, mengenali sentuhan, serta menyesuaikan gerakan setiap jari terhadap bentuk dan tekstur benda.

Tugas seperti mengikat tali sepatu membutuhkan penyesuaian genggaman sambil merasakan karakter tali yang fleksibel. Memecahkan telur juga memerlukan tekanan yang cukup untuk meretakkan cangkang tanpa menghancurkan isinya.

Pada manusia, kemampuan tersebut terjadi melalui kerja serempak saraf, otot, dan puluhan sendi. Pengaturan posisi jari serta tekanan dapat berlangsung hampir otomatis, meski setiap gerakan memerlukan ketelitian tinggi.

Robot tidak memiliki saraf dan pemahaman fisik seperti manusia. Karena itu, mesin harus dirancang serta diprogram untuk mendeteksi kontak, mengukur tekanan, dan merespons perubahan pada objek yang sedang dipegang.

Hambatan bagi Robot Humanoid

Elon Musk, CEO Tesla, pernah menyatakan bahwa sebagian besar persoalan rekayasa robot berada pada bagian tangan. Pandangan itu menggambarkan bahwa kemajuan gerak tubuh belum otomatis membuat robot humanoid mampu melakukan manipulasi benda yang rumit.

Zhou Yong menilai fokus pada tangan dapat membuka jalan bagi lebih banyak kemampuan manusia pada robot. Menurutnya, tangan manusia merupakan kemampuan yang paling penting untuk ditiru jika robot ingin menjalankan tugas yang lebih luas.

Ambisi China kini berpusat pada kemampuan menangani benda rapuh, fleksibel, dan beragam secara konsisten. Selama ketangkasan itu belum tercapai, robot humanoid masih lebih menonjol sebagai demonstrasi teknologi dibandingkan alat kerja praktis.

Berita Terkait