Teheran Bantah Perpecahan, Iran Tegaskan Satu Barisan Hadapi Tekanan Trump

Pimpinan tertinggi tiga cabang kekuasaan Iran tampil serempak membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut ada perpecahan di internal Teheran. Mereka menegaskan bahwa Iran berdiri dalam satu komando saat menghadapi apa yang disebut sebagai agresi militer Amerika Serikat dan Israel.

Sikap kolektif itu muncul ketika Trump mencoba membingkai pejabat Iran ke dalam dua kubu, yakni “garis keras” dan “moderat”. Teheran menolak keras narasi tersebut karena dinilai sebagai upaya memecah solidaritas nasional di tengah situasi keamanan yang masih rapuh.

Pesan persatuan dari pucuk pimpinan Iran

Presiden Masoud Pezeshkian menjadi salah satu figur yang paling tegas menanggapi klaim itu. Melalui unggahan di platform X, ia menyatakan bahwa istilah “garis keras” dan “moderat” tidak relevan dalam politik Iran saat ini.

“Di Iran tidak ada ‘garis keras’ atau ‘moderat’. Kami semua adalah orang Iran dan revolusioner,” tulis Pezeshkian, seperti dikutip Tasnim News. Ia juga menegaskan bahwa bangsa Iran tetap berada dalam satu barisan dan setia kepada Pemimpin Tertinggi.

Pezeshkian menambahkan bahwa persatuan nasional akan membuat pihak yang menyerang Iran menyesal atas tindakannya. Ia juga memakai nada religius untuk menekankan kesatuan tersebut dengan menyebut “satu Tuhan, satu bangsa, satu pemimpin, satu jalan” sebagai dasar sikap Iran.

Qalibaf dan Ejei ikut memperkuat sikap yang sama

Pernyataan Pezeshkian tidak berdiri sendiri. Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf juga menyampaikan pesan yang sejalan, dan langkah itu dibaca sebagai penegasan bahwa eksekutif, legislatif, dan yudikatif Iran tetap solid di bawah tekanan luar.

Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei bahkan menggunakan bahasa yang lebih keras saat merespons pernyataan Trump. Ia menyebut label “garis keras” dan “moderat” sebagai konstruksi politik Barat yang tidak punya makna dalam konteks Iran.

Ejei menegaskan bahwa seluruh kelompok di Iran kini berdiri bersama dalam keselarasan penuh dengan Pemimpin Tertinggi. Ia juga menilai pejabat Amerika Serikat yang mengangkat narasi tersebut tidak memahami realitas politik internal Iran.

Ketegangan meningkat di tengah gencatan senjata yang rapuh

Respons keras Teheran menguat setelah Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata sambil mengklaim pemerintah Iran tengah mengalami keretakan serius. Teheran menolak klaim itu dan menyebutnya sebagai bagian dari tekanan politik terhadap Iran.

Di jalur diplomasi, hasil pembicaraan juga belum memberi titik terang. Negosiasi di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan setelah Iran mengajukan 10 poin rencana perdamaian yang menuntut penarikan total pasukan AS dan pencabutan seluruh sanksi ekonomi.

Perundingan yang berlangsung selama 21 jam itu berakhir tanpa hasil karena Iran menyatakan tidak percaya pada komitmen Amerika Serikat. Sikap itu muncul di tengah kawasan yang masih dibayangi konflik bersenjata dan gencatan senjata yang rapuh.

Latar konflik yang membuat Teheran memilih satu suara

Situasi ini berakar dari serangan besar Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari. Dalam agresi awal itu, sejumlah tokoh penting Iran dilaporkan tewas, termasuk Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Ali Khamenei serta beberapa komandan militer tingkat tinggi.

Sebagai balasan, Angkatan Bersenjata Iran melancarkan rangkaian operasi rudal dan drone terhadap aset militer AS dan Israel. Aksi balasan itu berlangsung lebih dari 40 hari dan disebut menimbulkan kerusakan signifikan pada kekuatan lawan di kawasan Timur Tengah.

Gencatan senjata selama dua pekan kemudian disepakati pada 8 April, lalu disusul perundingan intensif di Islamabad, Pakistan. Namun rangkaian proses tersebut belum mampu meredakan kecurigaan Iran terhadap niat Washington dan sekutunya.

Di tengah semua itu, Teheran terus menolak narasi pecah belah dan memilih menonjolkan kesatuan politik di bawah satu komando. Bagi Iran, respons terhadap tekanan eksternal bukan persoalan faksi internal, melainkan soal menjaga persatuan nasional di hadapan ancaman militer yang masih berlangsung.

Source: www.suara.com

Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow UsGoogle NewsFlipboard
Berita Terkait
Berita Terbaru
Populer