Teknologi steering by wire mulai dipandang sebagai salah satu fondasi penting bagi mobil otonom karena sistem ini memutus hubungan mekanis antara setir dan roda depan. Dengan jalur kendali yang sepenuhnya elektronik, perintah dari pengemudi maupun sistem bantuan berkendara bisa diterjemahkan lebih cepat dan lebih presisi.
Pada Xpeng P7, pendekatan itu terlihat berjalan mulus saat kontrol kendaraan mulai dialihkan ke komputer dan kecerdasan buatan. Kombinasi sensor, aktuator motor listrik, kabel, dan ECU membuat input kemudi diubah menjadi perintah elektronik yang langsung menggerakkan roda.
Bagi mobil otonom dan semi otonom, kecepatan respons menjadi hal yang sangat penting. Sistem kemudi harus mampu membaca data dari kamera pintar, sensor, dan komputer kendaraan dalam waktu singkat agar manuver bisa dilakukan tanpa jeda yang mengganggu.
Karena itulah steering by wire dianggap cocok untuk kendaraan modern yang mengandalkan bantuan digital. Sistem ini menerima perintah dari perangkat bantu berkendara lalu mengubahnya menjadi gerakan kemudi secara instan, tanpa dibatasi poros kemudi konvensional.
Saat sesi test drive, instruktur Xpeng yang mendampingi pengujian menilai komputer berbasis AI di mobil tersebut bisa mengambil alih kemudi dengan penuh. Ia juga melihat feedback yang dihasilkan tetap presisi, sehingga integrasi AI dan steering by wire dinilai mampu mengurangi kesalahan saat berkendara.
Pengalaman itu sejalan dengan penilaian Otodriver yang menyebut steering by wire pada Xpeng P7 terasa natural dan presisi. Temuan ini menarik karena salah satu kritik lama terhadap teknologi serupa adalah hilangnya rasa kemudi yang alami.
Dalam mode otonom, sistem kemudi pada P7 juga disebut memberi feedback yang sesuai dengan tangkapan kamera pintar mobil. Alur dari pembacaan situasi di sekitar kendaraan hingga keluarnya respons kemudi berlangsung mulus, sehingga pengalaman berkendara tidak terasa kaku.
Lebih aman dan lebih fleksibel
BSM North America menilai steering by wire penting bagi kendaraan otonom karena semua perintah kemudi bisa dikirim dan dijalankan sepenuhnya dalam bentuk digital. Tanpa hambatan dari sistem mekanis, proses kendali menjadi lebih langsung dan lebih mudah diintegrasikan dengan perangkat lunak kendaraan.
Dari sisi keamanan, teknologi ini juga punya nilai tambah karena risiko kemudi terkunci secara fisik berkurang. Sistemnya dirancang dengan redundansi agar kendali tetap terjaga bila terjadi gangguan elektronik.
Steering by wire juga memberi ruang besar bagi pabrikan untuk mengatur karakter kemudi secara real time. AI dapat menyesuaikan rasio dan kelembutan setir sesuai kecepatan, kondisi jalan, atau kebutuhan darurat seperti manuver menghindar.
Selain itu, absennya kolom kemudi konvensional membuka peluang desain kabin yang lebih fleksibel. Produsen bahkan bisa membuat roda kemudi yang dapat dilipat atau dilepas ketika mode otonom aktif.
Teknologi lama yang kembali matang
Sistem ini sebenarnya bukan hal baru. Nissan lebih dulu memakainya pada Infiniti Q50 lewat Infiniti Q50 pada 2013, ketika banyak orang masih melihat setir tanpa sambungan mekanis sebagai konsep futuristis.
Namun, pengalaman awal pada Q50 sempat menuai kritik karena terasa kurang responsif, kurang wajar, sulit diprediksi, dan memberi rasa kemudi yang hambar. Meski begitu, pengembangannya terus berlanjut hingga kini dinilai jauh lebih presisi, aman, dan efisien.
Perkembangan itu membuat steering by wire kembali mendapat sorotan seiring pergeseran industri ke kendaraan semi otonom dan otonom. Teknologi yang dulu dianggap eksperimental kini justru dipandang sebagai salah satu dasar penting untuk integrasi AI di mobil.
Dari sisi kenyamanan, sistem ini juga disebut dapat menghilangkan getaran jalan yang tidak diinginkan pada setir. Hasilnya, berkendara bisa terasa lebih halus dan tenang tanpa mengorbankan presisi saat sistem otonom mengambil alih kendali.
Source: otodriver.com






