Kepergian Temon meninggalkan duka mendalam bagi Mongol Stres, yang menilai almarhum bukan hanya rekan seprofesi, tetapi juga abang, tetangga, dan mentor dalam dunia komedi. Mongol menyebut Temon sebagai sosok yang tulus berbagi ilmu tanpa pernah merasa lebih unggul.
Di rumah duka GPIB Effatha, Jakarta Selatan, Mongol mengaku sempat tak langsung percaya saat mendengar kabar itu. Ia bahkan lebih dulu mencari informasi lewat internet sebelum akhirnya yakin setelah melihat unggahan dari Cing Abdel dan Cak Lontong.
Kedekatan yang Berawal dari Tetangga
Hubungan Mongol dan Temon bermula dari kebetulan saat keduanya sama-sama tinggal di Jakarta Selatan. Mereka kerap saling berkomunikasi, terutama ketika lingkungan tempat tinggal mereka kebanjiran.
Kedekatan itu kemudian berkembang karena sama-sama berada di dunia komedi. Meski Temon lebih senior, ia disebut aktif mengajak Mongol bertukar ilmu agar tetap relevan di industri hiburan.
“Beliau adalah sosok yang selalu kayak gini, ‘Ngol, kita bagi-bagi ilmu yuk Ngol. Gua mungkin pelawak Ngol, tapi Gua bukan stand up comedian. Ini bagaimana penguasaan panggungnya Ngol, gini-gini.’ Jadi kita kayak tukar belajar begitu,” kenang Mongol.
| Hal | Keterangan |
|---|---|
| Nama | Simson Rarameha Ngadang atau Temon |
| Hubungan dengan Mongol | Tetangga, sahabat, dan mentor di dunia komedi |
| Tempat kedekatan terakhir | Komunikasi lewat pesan singkat dan pertemuan di gereja setiap Minggu |
| Kabar duka | Meninggal dunia pada Minggu, 12 Juli 2026 pukul 08.42 WIB |
Masih Sering Berhubungan Meski Jarang Bertemu
Dalam beberapa tahun terakhir, keduanya memang jarang bertemu langsung, terutama setelah masa pandemi. Namun komunikasi tetap terjalin melalui pesan singkat, dan pertemuan paling sering justru terjadi saat ibadah Minggu di gereja.
Bagi Mongol, Temon adalah abang yang benar-benar abang sekaligus sahabat yang tidak pelit berbagi pengalaman. Ia menekankan bahwa almarhum selalu hadir dengan sikap yang rendah hati.
“Jadi beliau adalah sosok abang yang benar-benar abang, mentor, sahabat yang benar-benar tidak merasa dia lebih unggul dari Mongol khususnya,” ujarnya.
Mongol juga menuturkan perjuangannya untuk hadir di rumah duka meski sempat terkendala tiket pesawat yang penuh akibat arus balik libur panjang. Ia yang kini tidak lagi tinggal di Jakarta akhirnya baru tiba pada pagi hari sebelum menuju GPIB Effatha.
Doa untuk Keluarga dan Penghormatan Terakhir
Menjelang akhir keterangannya, Mongol menitipkan doa untuk keluarga yang ditinggalkan agar diberi kekuatan dan penghiburan. Ia juga meyakini Temon telah mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan sebagai seniman yang menghibur banyak orang.
“Mongol cuma berdoa semoga Tuhan kasih kekuatan, dikasih penghiburan. Terus saya yakin dan percaya beliau adalah seorang seniman yang punya hati untuk menghibur orang, pasti tempatnya juga yang layak yang Tuhan sudah sediakan di sana,” pungkasnya.
Temon meninggal akibat serangan jantung yang berkaitan dengan riwayat hipertensi. Menurut keterangan keluarga, ia sempat mengalami gejala serangan jantung pada pagi hari sebelum segera dibawa ke rumah sakit, dan jenazahnya direncanakan dimakamkan secara Nasrani di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, pada hari itu pukul 12.00 WIB.
Dalam pemberitaan entertainment.kompas.com, duka untuk Temon juga datang dari keluarga dan rekan sesama komedian yang mengenang kepintaran serta kepeduliannya di dunia hiburan. Nama Temon pun terus disebut sebagai sosok yang meninggalkan jejak hangat di hati banyak orang.
Source: entertainment.kompas.com






