Yang paling membuat Blades of Fire menonjol justru ada pada cara game ini memaksa pemain terlibat langsung dalam proses membuat senjata. Alih-alih mengandalkan peralatan jadi, pemain didorong terus bereksperimen dengan pedang, kapak, war hammer, dan tombak untuk menyesuaikan gaya bertarung di tengah dunia fantasi gelapnya.
Pendekatan itu terasa segar di tengah pasar game aksi yang sudah padat. Eurogamer menilai karya MercurySteam, studio di balik Metroid Dread, tampil lebih kuat daripada kesan pertamanya, meski penerimaan awal di Steam baru berada di angka 82% positif.
Di dalam game ini, pemain masuk ke dunia dark fantasy yang dikuasai ratu jahat. Hampir seluruh logam di negeri itu sudah diubah menjadi batu, sehingga senjata bukan sekadar alat tempur, melainkan hasil kerja utama pemain.
Pemain mengambil peran sebagai Aran, salah satu dari tujuh palu ilahi yang mampu mengembalikan batu menjadi baja. Dari situ, perjalanan membawanya melintasi kastel megah, desa yang hancur, dan rawa berbau busuk sebelum berujung pada satu tujuan besar, yaitu menumbangkan sang ratu.
Pertarungan yang cepat, tetapi tetap menuntut ketepatan
Eurogamer menilai kekuatan terbesar Blades of Fire ada pada perpaduan pertarungan real time dan sistem menempa yang terasa baru. Aksinya disebut sangat memuaskan, tetapi tetap menuntut taktik dan timing yang presisi.
Nuansanya memang mengambil inspirasi dari Soulslike, namun hukumannya tidak sekeras Elden Ring. Itu membuat Blades of Fire terasa lebih ramah bagi pemain yang ingin tantangan tanpa tekanan yang terlalu berat.
Forging jadi pusat pengalaman bermain
Bagian menempa bukan sekadar tambahan, karena sistem ini menjadi inti pengalaman bermain. Jenis baja yang dipakai ikut memengaruhi damage, armor penetration, durability, weight, dan parry windows.
Akibatnya, dua senjata dari kategori yang sama bisa terasa sangat berbeda saat dipakai. Ada yang cepat dan ringan, ada juga yang lambat tetapi jauh lebih menghancurkan, sehingga pemain punya alasan untuk terus mencoba kombinasi baru.
Respons awal belum sepenuhnya mulus
Meski banyak dipuji, respons di Steam belum melonjak penuh karena masih ada sejumlah masalah kualitas hidup. Pemain sering melaporkan gangguan pada peta dan navigasi, sementara tidak ada cara mudah untuk membandingkan senjata hasil tempa secara sekilas.
Masalah lain datang dari variasi musuh yang terbatas dan dialog NPC yang terasa repetitif. Namun Eurogamer tetap menilai bahwa pemain yang bisa menerima kekurangan itu masih akan menemukan banyak hal menarik di dalamnya.
Harga, demo, dan dukungan perangkat
Di Steam, Blades of Fire biasanya dibanderol sekitar $40. Hingga 21 Mei, game ini mendapat diskon 25% sehingga harganya turun menjadi sekitar $30.
Demo juga tersedia bagi pemain yang ingin mencoba lebih dulu. Selain itu, status kompatibilitas Steam Deck tercatat sebagai “Playable”, sehingga game ini masih bisa dijalankan di perangkat tersebut dengan dukungan yang cukup baik.
Source: www.notebookcheck.net






